
"Bu, itu seperti nya bos." ucap Jay sambil menunjuk kepada Baron yang sedang menghampiri nya sambil menggendong Sandra ala bridal style.
"Cepat buka pintu nya Jay." teriak Ralin membuat Jay kaget dan spontan membuka nya.
Jay keluar dari mobil lalu membuka kan pintu belakang mobil.
"Mas, Sandra kenapa mas." teriak Ralin sambil menangis.
Baron hanya diam sambil membaringkan Sandra di jok belakang, dengan kepala Sandra di atas kedua paha Ralin.
"Nak, ini mamah, bangun sayang, mamah mohon." ucap Ralin sambil mengelus kepala Sandra.
"Jay, kamu bantu Ken untuk membawa Jev." ucap Baron lalu menutup pintu mobil.
"Baik bos." ucap Jay lalu berlari masuk ke dalam markas.
"Jev kenapa mas?" tanya Ralin sambil menangis.
"Jev tidak sadarkan diri sama dengan Sandra." jawab Baron sambil menahan amarah nya, ingin sekali dirinya membunuh Bobi, tapi dia masih sadar kalau hukum masih berlaku di negara ini.
Ralin hanya bisa menangis sambil mencium kening Sandra, Lisna yang melihat kasih sayang Ralin kepada Sandra ikut meneteskan air mata nya.
Terlihat Jay dan Ken membawa Jev, Lisna langsung membuka pintu mobil Ralin, dirinya ikut naik ke dalam mobil dan ingin mendampingi Jev.
Jay pun melakukan hal yang sama dengan Baron, setelah itu dirinya keluar dan menutup kembali pintu mobil.
Jay, kamu bawa mobil ibu, dan kamu Ken, bawa mobil saya." ucap Baron.
"Baik bos."
"Baik om." Jawab kedua nya bersamaan.
Kedua mobil tersebut melaju menuju sebuah rumah sakit meninggalkan markas Bobi dengan Bobi yang masih kesakitan dengan kaki nya.
__ADS_1
Mereka tidak perduli dengan Bobi dan yang lain nya, yang penting bagi mereka adalah menyelamatkan Sandra dan Ken.
"Kak, aku mohon bangun, jangan buat aku khawatir seperti ini, aku hanya punya kakak di dunia ini, kakak yang kuat." ucap Lisna sambil menangis.
Jay hanya diam sambil fokus menatap jalanan dan mengikuti mobil Baron.
Baron sesekali melihat kearah jok belakang, dimana Sandra masih tidak sadarkan diri dengan darah dan luka lebam di wajah nya.
"Rumah sakit ini saja ya bos." ucap Jay sambil memasuki halaman rumah sakit.
"Yang mana saja, yang penting mereka cepat di tangani dokter." jawab Baron sambil membuka safety bell nya.
Setelah menghentikan mobil nya, Jay langsung berlari masuk ke dalam memanggil suster jaga dan mengambil brankar untuk Sandra dan Jev.
Para suster jaga pun dengan sigap membawa brankar dan membawa Sandra dan Jev ke ruangan.
Ralin memeluk Lisna, mereka berdua menangis sambil saling memeluk, sedangkan Baron mondar mandir di depan ruangan.
"Ken, kamu juga harus diobati." ucap Baron yang melihat beberapa luka di wajah Ken.
"Bisa kamu ceritakan awal nya bagaimana sampai kalian berdua di bawa sama mereka?" tanya Baron ketika melihat Lisna sudah melepaskan pelukan nya dari Ralin.
Lisna pun menceritakan dari kedatangan Miranda sampai dirinya tidak sadarkan diri dan begitu tersadar mereka sudah berada di ruangan yang tidak mereka kenali.
"Berarti ini sudah di rencanakan." gumam Baron.
"Bos, tadi saya lihat orang itu meraung-raung kesakitan, kenapa bos tidak membunuh nya saja." ucap Jay membuat Ralin menatap tajam ke arah Baron.
"Andai saja saya tidak berjanji pada istri saya, saya sudah membunuh nya langsung, tapi saya sudah puas karena saya telah membuat dia tidak akan pernah melupakan nya seumur hidup dia." ucap Baron.
Jay paham dengan ucapan dari Baron, itulah hal yang lebih menakutkan bagi Jay dari seorang Baron.
"Kenapa mas tidak membunuh nya?" pertanyaan Ralin membuat Baron dan Jay kaget hingga mereka saling menatap.
__ADS_1
"Kan aku sudah berjanji tidak akan melakukan hal yang sama sayang." jawab Baron sambil menggenggam tangan Ralin.
"Kalau begitu antar kan saya ke tempat tadi, saya akan membunuh mereka yang sudah membuat anak-anak saya seperti sekarang." ucap Ralin dengan tatapan yang penuh amarah.
Jay menatap Ralin dengan tatapan yang sedikit takut melihat ekspresi marah istri bos nya itu.
"Ibu kalau sudah marah ternyata seram juga ya." gumam bathin Jay.
"Seekor macan yang sedang tertidur akan marah dan ngamuk ketika anak-anak nya lagi terancam nyawa nya." gumam bathin Baron.
Sedangkan Ken dan Lisna menatap Ralin dengan tatapan kaget mereka, mereka ngga nyangka seorang Ralin yang lembut dan penuh kasih sayang ingin membunuh orang yang sudah melukai anak-anak nya, walaupun itu hanya anak angkat.
"Sabar sayang, jangan sampai kamu melakukan hal yang dimana akan membuat kamu menyesal." Baron berusaha menenangkan Ralin.
"Aku tidak perduli, yang penting aku harus membunuh mereka yang sudah membuat anak-anak ku terluka seperti ini."
"Sayang dengarkan aku, aku bisa saja tadi langsung membunuh nya, tapi aku ingat kamu, kalau aku membunuh nya aku pasti akan masuk penjara apapun alasan nya, aku baru saja bertemu dan kita baru bersatu kembali, aku tidak mau kalau kita sampai terpisah lagi, kamu tenang saja, walaupun dia ngga mati, tapi dia akan kehilangan satu kaki nya untuk seumur hidup nya." ucapan Baron membuat Ken, Lisna dan Jay merinding seketika.
Ralin menatap tak percaya kepada Baron hingga membuat Baron mengangguk sambil tersenyum.
"Percaya sama aku, dan mulai sekarang lupakan mereka yang sudah membuat anak-anak kita terluka, lebih baik sekarang kita membantu anak-anak kita untuk sembuh." ucap Baron lalu mencium kedua mata Ralin yang masih mengeluarkan air mata nya.
Ralin pun terdiam, dia membenarkan apa yang diucapkan suami nya, Ralin pun masuk kedalam pelukan Baron dan Baron terus mengusap kepala Ralin dengan penuh sayang.
Mereka pun menunggu dalam keadaan diam dan di penuhi dengan pikiran mereka masing-masing.
Terdengar suara pintu terbuka membuat mata mereka tertuju pada seorang dokter yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Bagaimana anak-anak saya dok?" tanya Ralin sambil menghampiri dokter.
"Mereka masih dalam pemeriksaan, dan besok pagi baru akan di mulai untuk pemeriksaan selanjutnya, karena takut nya ada luka di dalam yang parah, untuk saat ini mereka baru di kasih obat pereda nyeri, dan untuk kasus ini bapak bisa melaporkan nya ke pihak yang berwajib.
"Saya tidak akan melaporkan nya, karena saya kasihan kepada anak-anak saya yang nanti nya harus bolak balik ke kantor polisi, sekarang saya hanya memikirkan kesembuhan untuk mereka berdua saja tidak lebih." jawab Baron.
__ADS_1
Bukan Baron tidak mau melaporkan kejahatan Bobi, tapi dirinya memikirkan psikis Sandra untuk ke depan nya, kalau lapor polisi otomatis Sandra akan banyak pertanyaan dan harus sering melapor bolak balik ke kantor polisi yang akhir nya membuat Sandra drop dan sakit.