
"Halo bang, abang mau pulang kemana?" Sandra pun menghubungi Jev lewat ponsel nya.
"Ngga tahu dek, abang bingung." Jev bingung karena kamar rumah Ralin hanya ada dua, sedangkan mobil Ralin ada pada dirinya.
Bisa saja Jev membawa pulang mobil Ralin ke rumah ayah angkat nya, tapi dirinya pun ingin tidur di rumah nya Ralin biar pas bangun pagi mereka langsung kumpul seperti yang sudah-sudah.
"Pulang ke rumah mamah saja bang, biar kita kumpul."
"Tapi abang tidur dimana dek?"
"Abang tidur di kamar adek aja."
"Kamu itu sudah dewasa dek, dan kita bukan adik kandung, abang takut ada setan yang menghantui kita, dan ayah juga pasti akan marah besar sama abang."
Jev selalu ingat pesan ibu nya, dimana ibu nya selalu berpesan kalau Jev sudah besar nanti Jev ngga boleh tidur bareng Sandra apapun yang terjadi, Jev harus menjaga jarak biar ngga ada salah paham ke depan nya.
"aku juga sudah tahu kalau soal itu, abang tidur di kamar adek, dan adek tidur di kamar mamah." ucap Sandra sambil tersenyum jahil.
"Ngga bisa gitu dek, kamu ngga boleh tidur sama mamah, ini kan malam pertama nya mereka."
"Biarin aja, adek mau gangguin mereka, siapa suruh bulan madu pakai pergi ke Bali, udah gitu adek ngga diajak lagi, adek juga kan ingin pergi ke Bali bang."
"Adek dengarkan abang, mereka pergi ke Bali mau bulan madu dan kalau adek mau pergi ke Bali juga, nanti abang suruh si Ken beliin tiket ke sana buat kamu."
"Ngga, pokok nya adek mau mengganggu mereka, ini adalah momen yang tidak akan di lupakan oleh ayah dan mamah, anggap saja apa yang adek lakukan ini adalah kado pernikahan mereka."
"Dek, jangan macam-macam, masa kamu ngasih kado dengan cara mengganggu malam pertama mereka?"
Jev ngga habis pikir dengan kelakuan adik angkat nya ini.
__ADS_1
"Mau beli hadiah kan adek ngga punya banyak uang, jadi kado pernikahan nya dengan cara mengganggu malam pertama mereka, kan sampai kapan pun malam ini pasti tidak akan di lupakan, nah adek ingin memberikan kado yang tidak bisa di lupakan oleh ayah dan mamah."
"Terserah kamu lah dek, tapi kalau ayah marah tanggung sendiri dan jangan bilang abang, karena bagaimanapun kalau kamu nangis, abang ikut sedih."
"Tenang saja bang, aku akan menanggung semua nya, jadi abang pulang ke rumah mamah saja ya, bye abang." ucap Sandra lalu memutuskan sambungan telepon nya lalu mematikan ponsel nya.
"Dek, adek." Jev terus memanggil-manggil Sandra dan mencoba menghubungi nya kembali, tapi no Sandra sudah tidak bisa di hubungi lagi.
"Maafkan anak angkat yang tidak tahu diri ini ya mah, yah, aku hanya ingin memberikan kalian kesan di malam pertama kalian, jadi dimana kalian sudah bertemu dengan anak kandung kalian, kalian tidak akan melupakan aku apalagi kejadian malam pertama kalian." gumam Sandra sambil bangun dari rebahan nya dan pergi ke kamar Ralin.
Kini Sandra sudah berada di depan pintu kamar Ralin, Sandra menatap pintu kamar Ralin, ada sedikit ragu dan merasa ngga enak dalam dirinya, tapi setelah berpikir berulang-ulang akhir nya Sandra pun mengetuk dan memanggil Ralin.
Dan dari situlah sekarang mereka tidur satu ranjang bertiga dengan posisi Ralin yang berada di tengah-tengah antara suami dan anak angkat nya.
"Yah, izinkan mamah untuk meluk aku malam ini ya? Dan besok mamah milik ayah seutuh nya." ucap Sandra sambil tersenyum.
"Ya mau ngga mau, kalau sudah begini apalah daya ayah, jadi terserah kalian saja lah, yang penting ayah bisa meluk mamah kamu juga." ucap Baron sambil memeluk Ralin dari arah belakang.
"Aku akan selalu sabar untuk kamu." ucap Baron lalu mencium pipi Ralin.
"Yah please deh, bisa ngga di tahan dulu, ada aku lo di sini." ucap Ralin sambil menatap tajam Baron.
"Iya, iya, begini nih kalau aku menikahi janda yang punya anak." ucap Baron bercanda.
"Yang bawa anak aku atau mas?" tanya Ralin.
"Oh iya yah, kan aku yang bawa adek." jawab Baron sambil tersenyum.
"Ya sudah kalau kalian tidak menginginkan kehadiran aku, aku akan pergi saja dari kalian, biar kalian berdua tidak ada yang mengganggu seperti ini." ucap Sandra sambil mau bangun dari tidur nya.
__ADS_1
"Mau kemana sayang, ayah sama mamah cuma bercanda, sini mamah peluk." ucap Ralin sambil menarik tangan Sandra lalu memeluk nya.
Sandra pun kembali tidur sambil memeluk erat Ralin seakan-akan takut diambil Baron.
Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang Ralin membelai lembut punggung Sandra hingga tidak berapa lama Sandra pun tertidur.
Terdengar hembusan lembut nafas Sandra yang sudah terlelap membuat Ralin dan Baron tersenyum melihat nya.
"Sudah tidur ya? Cepet banget tidur nya kamu dek." tanya Baron sambil menatap Sandra yang berada dalam pelukan istri nya.
"Dia kalau tidur dengan posisi begini pasti cepat mas, andaikan Sandra ini anak kandung kita mas, aku sangat bahagia sekali."
"Anggap dia seperti anak kandung kita, lagian dia juga sangat membutuhkan kasih sayang dari kita, sejak kecil dia ngga mendapatkan nya."
"Iya mas, aku sudah menganggap dia sebagai anak kandung aku, tapi seandainya kita di pertemukan dengan anak kandung kita, apa mas akan menyayangi mereka? Atau salah satu dari mereka?" Ralin masih ragu dengan Baron yang akan menyayangi anak nya yang dulu dia buang.
"Aku akan menyayangi kedua nya, bagaimanapun juga aku sudah jatuh hati sama Sandra."
"Makasih ya mas." ucap Ralin sambil tersenyum.
Ingin sekali Baron melahap kembali bibir nya Ralin, tapi Baron masih sadar kalau diantara mereka ada Sandra.
"Ngga perlu makasih sama mas sayang, karena yang seharus nya bilang makasih itu mas sama kamu, kamu sudah dengan setia menunggu mas, dan dengan hati yang lapang kamu sudah mau memaafkan kelakuan mas yang sudah sangat jahat kepada kamu."
"Sudahlah mas kita kubur dalam-dalam masa lalu kita, sekarang kita hadapi hidup kita ke depan nya, ya sudah ayo kita tidur besok takut terlambat."
"Cup, ini ciuman pengantar tidur buat istri cantik ku yang setia."
Setelah memberikan sebuah ciuman Baron pun memeluk Ralin dari belakang, meski ngga bisa memeluk Ralin sepenuh nya, karena tubuh Ralin juga sedang di peluk oleh Sandra.
__ADS_1
Ralin pun tersenyum dengan kelakuan suami dan anak angkat nya, mereka bertiga tidur dengan saling memeluk.
Baron dan Ralin merasa bahagia, walaupun mereka harus menahan hasrat nya untuk bercinta.