
"Sayang ayo sarapan dulu." ajak Baron pada Ralin.
"Ngga mas, aku ngga lapar." Ralin tidak mau jauh dari Sandra.
"Sayang, dari kemarin sore kamu belum makan apa-apa, nanti kamu sakit."
"Ayolah Lin, ini bubur ayam kesukaan kamu lo, beli nya juga di tempat biasa kamu beli." ucap Adriana yang tahu itu bubur ayam kesukaan nya Ralin dari Lisna.
Ralin hanya diam dan sesekali terus mengusap air mata nya dengan tangan yang terus menggenggam tangan Sandra.
"Aku suapin, kalau kamu ngga mau makan, lebih baik kamu jauhi Sandra." Baron pun terpaksa mengancam istri nya agar dia mau makan.
"Mas," protes Ralin.
"Makanya makan, ayo buka mulut nya." Baron terus memaksa Ralin untuk membuka mulut nya, segala cara Baron lakukan hingga Ralin pun mau makan walapun tidak sampai habis.
"Sudah mas, aku kenyang." Ralin bukan kenyang, tapi Ralin ngga enak makan karena masih kepikiran Sandra yang sampai detik ini belum sadar kan diri.
"Ya sudah yang penting sudah masuk makanan ke perut kamu, sekarang minum, lalu kamu mandi ya? Lisna sudah membawakan baju untuk kamu.
Ralin hanya diam lalu menenggak habis air minum yang di berikan Baron.
Adriana tersenyum melihat kelakuan Baron yang menurut nya sangat menjaga dan menyayangi sahabat nya itu.
Ken sebenar nya ingin sekali berada di samping nya Sandra seperti Lisna yang selalu berada di samping nya Jev, tapi dia merasa ngga enak dengan Ralin, jadi Ken hanya diam dan menatap wajah Sandra yang akhir-akhir ini selalu dia rindukan.
"Permisi bos, ini baju yang bos pesan." ucap Jay yang baru datang sambil membawa tas yang berisi baju Baron.
__ADS_1
"Makasih Jay, tolong kamu handle tekstile dulu, karena saya belum bisa datang ke tekstile." ucap Baron sambil mengambil tas dari tangan Jay.
"Oke bos, gimana kondisi Nak Jev dan nak Sandra?" tanya Jay sambil menatap ke arah Jev dan Sandra.
"Masih belum sadar."
"Semoga mereka cepat sadar, kalau begitu saya langsung ke tekstile, kalau ada yang di perlukan hubungi saya saja."
"Baik Jay, makasih ya."
Setelah berpamitan kepada semua orang, Jay pun pergi menuju tekstile.
"Ayo kamu mandi dulu, biar nanti pas Sandra sadar dia melihat wajah kamu yang sudah cantik." ucap Baron.
"Ngga, aku ngga mau meninggalkan dia, mas saja yang mandi sana." ucap Ralin.
"Dari dulu juga aku selalu menjaga nya mas." ucap Adriana.
Baron yang merasa salah bicara pun langsung menuju kamar mandi yang ada di ruangan tersebut untuk mebersihkan tubuh nya.
Lisna yang semenjak datang tadi dia setia menemani Jev di samping nya, Lisna mencoba mengajak Jev berbicara walaupun Jev masih tidak sadarkan diri, Dengan tangan yang selalu menggenggam erat tangan Jev, Lisna pun membisikan kalimat-kalimat dengan harapan Jev cepat sadar.
"Sayang nya aku, kapan kamu sadar? Cepat sadar dong sayang? Aku tahu kamu pasti mendengar apa yang sedang aku bisikin ini, eh tahu tidak sayang, aku bicara bisik-bisik ini sengaja, takut ada yang dengar, kan kalau diantara mereka ada yang mendengar aku jadi malu, seperti nya aku ngga mau menampakan wajah aku kepada mereka." Lisna terdiam sesaat dan menatap wajah Jev dengan harapan Jev akan membuka mata nya.
"Sayang, apa kamu ngga kasihan sama aku, aku cuma punya kamu di dunia ini, aku janji kalau kamu cepat sadar, aku akan panggil kamu dengan panggilan sayang." lagi-lagi Lisna harus kecewa karena tidak ada reaksi apapun dari Jev.
Lisna merasa capek dan kesal karena Jev belum menampak kan reaksi nya, Jev seperti seorang pria yang lemah yang tidak mau berusaha untuk bangkit dari tidak sadar nya, Lisna pun berdiri dan sedikit berteriak.
__ADS_1
"Sayang sadar dong, kamu harus nolongin aku, sebelum aku di culik, aku bertemu mantan terindah ku, dia ngajak aku nikah karena dia masih mencintai aku, awal nya aku ngga mau karena aku kan sudah punya kamu, tapi kalau kamu seperti ini terus, aku ngga jamin akan mempertahankan hubungan kita, aku akan pergi meninggalkan kamu dan menikah dengan mantan ku itu." teriak Lisna membuat Ralin dan yang lain nya kaget dan menatap tajam ke arah Lisna.
"Lisna!" teriak Ralin sambil berdiri dari duduk nya, Lisna yang merasa di panggil pun menatap Ralin dengan tatapan penuh arti.
"Apa-apaan kamu, bukan nya merawat dan membantu agar Jev sadar kamu malah mau meninggalkan nya."
"Apa yang bisa di harapkan lagi dari kak Jev mah, mamah lihat sendiri, dirinya sendiri pun ngga ada kemauan untuk bangkit, ngga ada kemauan untuk sadar, jadi untuk apa di pertahankan, lebih baik aku menikah dengan mantan ku yang jelas-jelas sudah mau serius dan dalam keadaan sadar dan tidak lemah seperti kak Jev." Lisna ngga perduli kalau itu ada di rumah sakit.
"Lisna jangan lancang kamu, Ralin sudah menolong dan membuat kamu seperti sekarang, tapi apa balasan kamu sekarang." Adriana ikut tersulut emosi nya mendengar ucapan Lisna.
Ken yang mendapat kesempatan atas perdebatan mereka pun langsung mendekati Sandra dan menggenggam erat tangan nya.
"Sayang bangun dong, aku kan belum minta maaf sama kamu perihal perempuan yang ngaku-ngaku hamil itu, tahu ngga sayang sebenar nya aku bahagia pas dengar kamu bilang, kalau malam itu aku sama kamu sedang melakukan malam pertama, ah seandainya saja itu sungguhan, betapa bahagia nya aku ini." bisik Ken lalu mencium tangan Sandra dan membelai rambut nya.
"Ada apa ini?" tanya Baron dengan wajah yang sudah terlihat segar.
"Yah, aku mau meninggalkan kak Jev dan menikah dengan mantan aku." ucap Lisna.
"Itu hak kamu, tapi kita ingin tahu alasan nya, apa karena Jev sekarang terbaring lemah kamu mau meninggalkan dia?" sebenar nya Baron juga emosi mendengar ucapan dari Lisna, tapi Baron juga ngga bisa memaksa Lisna untuk selalu bersama Jev.
"Mas." ucap Ralin.
"Tenang sayang, biar Lisna memberikan alasan nya dulu."
"Ya, aku ngga mau menunggu kak Jev yang lemah, yang ngga mau berusaha untuk sadar, yang tidak mau memperjuangkan aku sebagai kekasih nya, untuk apa aku menunggu dia yang lemah, kalau memang dia sayang dan mencintai aku, seharus nya dia bangkit, seharus nya dia sadar, aku ngga mau menunggu dia yang lemah seperti ini, karena aku butuh sosok pria yang akan menjagaku nanti nya."
"Sa_ yang." guma Jev sambil menggerakan jari tangan nya.
__ADS_1