
"Tidak! Ini tidak mungkin." Ralin pun berteriak ketika dirinya melihat sebuah tanda lahir di bahu kanan Sandra.
"Mah, kenapa? Ada apa?" tanya Sandra dengan tatapan heran nya.
"Nak, sejak kapan kamu mempunyai tanda lahir ini?" tanya Ralin dengan deraian air mata nya, saking shock nya Ralin dia sampai membuat pertanyaan yang bodoh seperti itu.
"Ya ampun mah, aku kira mamah kenapa, ternyata kaget karena melihat tanda lahir aku, ya mungkin semenjak aku lahir ke dunia ini mah, makanya kita menyebut nya tanda lahir." jawab Sandra sambil tersenyum , karena menurut dia pertanyaan Ralin sangat lah lucu.
"Kalau benar ini tanda lahir kamu, berarti kamu anak kandung mamah yang selama ini mamah cari, oh Tuhan terima kasih engkau sudah mempertemukan aku dengan anak kandung ku." Ralin terus bersyukur dan mencium seluruh wajah Sandra.
Sandra hanya diam, dirinya masih bingung dan tidak mau berharap banyak sebelum dirinya benar-benar terbukti anak kandung Ralin.
"Mah, aku dingin." ucap Sandra pelan.
Ralin pun baru tersadar kalau Sandra belum memakai baju nya kembali.
"Maaf kan mamah, mamah terlalu kaget dan bahagia, ternyata anak yang mamah cari selama ini sudah ada di depan mamah." Ralin pun kembali memakaikan baju Sandra dengan baju yang baru.
Selama memakaikan baju kepada Sandra senyuman Ralin tidak luntur sama sekali, berbeda dengan Sandra, Sandra hanya diam dan masih bingung antara percaya atau tidak.
"Nak, kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak senang dan bahagia mendengar nya?" Kini Ralin sudah selesai memakaikan baju Sandra, dengan telaten Ralin mengurus Sandra, dia rapihkan rambut nya, Ralin juga tidak lupa menyemprot kan minyak wangi agar Sandra selalu wangi dan terlihat lebih segar.
"Aku masih bingung saja mah, apa benar aku ini anak kandung mamah? Aku tidak mau terlalu banyak berharap yang nanti nya bakal membuat aku kecewa."
__ADS_1
"Nak, dari pertama bertemu, mamah sudah merasakan nya, cuma mamah belum bisa memastikan nya karena belum ada bukti yang kuat, tapi setelah melihat tanda lahir di bahu kanan kamu ini, mamah sangat yakin sekali kalau kamu itu adalah anak kandung mamah." ucap Ralin sambil menitik kan air mata bahagia nya.
"Sekarang aku tanya sama mamah, kenapa mamah bisa berpisah dengan anak kandung mamah?" Sandra ingin tahu cerita yang sesungguh nya.
"Dulu setelah beberapa hari mamah melahirkan kamu, ayah pulang dari luar kota, dia sangat bahagia sekali mendengar mamah sudah melahirkan, tapi kebahagiaan itu tidak berselang lama ketika ayah mengetahui kalau kamu berjenis kelamin perempuan, karena dari awal ayah kamu hanya menginginkan anak laki-laki saja." Ralin pun berhenti dan menghembuskan nafas nya sambil mengusap air mata nya yang terus mengalir ketika dirinya mengingat masa itu.
Sandra dengan sabar menunggu kelanjutan cerita dari Ralin, Sandra pun ikut menangis mendengar cerita nya, walaupun hati nya belum yakin kalau Ralin adalah ibu kandung nya sendiri.
"Ayah membawa kamu dengan amarah yang tinggi, dia kalap sampai-sampai mamah yang sedang menahan kamu pun di tendang nya sampai mamah tergeletak pingsan, untung ada Adriana yang menolong mamah dan mamah langsung di bawa ke rumah sakit oleh Adriana dan suami nya."
"Tidak! Ini tidak mungkin, jadi selama ini yang sering aku impikan itu benar adanya? ayah jahat! Aku tidak akan memaafkan nya" teriak Sandra dengan badan yang masih lemah, dia menangis histeris, dia kecewa, karena dirinya tidak diharapkan hadir di kehidupan mereka terutama ayah nya.
"Nak, dengarkan mamah, ayah hanya lagi di kuasai amarah nya, karena setelah dia membuang kamu ke sebuah hutan dia pun kembali dan mencari kamu, tapi kamu sudah tidak ada di hutan itu, dan sejak itu ayah kamu menyesali semua nya."
"Tidak nak, jangan pergi, kamu masih lemah, jangan pergi dari mamah lagi, mamah mohon, mamah tersiksa selama ini, setiap waktu mamah mencari kamu bersama Adriana, sampai mamah tinggal dan menetap di kota ini dengan harapan mamah bisa menemukan kamu, mamah mohon jangan tinggalkan mamah lagi, mamah ngga bisa hidup tanpa kamu lagi, selama ini mamah sangat menderita." Ralin pun menangis sambil memeluk erat tubuh Sandra, Sandra yang kondisi nya masih lemah dan mendengar kabar yang sangat membuat shock dirinya pun kini tidak sadar kan diri.
"Nak, bangun nak, mamah mohon." Ralin pun membaringkan Sandra pelan-pelan.
"Sayang ini mas, buka pintu nya, Sandra sudah selesai kan ganti baju nya." terdengar suara ketukan dari luar.
Ralin pun dengan perlahan membaringkan Sandra lalu turun dari ranjang sambil mengusap air mata nya.
"Mah, ini abang sama ayah, mamah sudah selesai belum? Tolong buka pintu nya." kembali terdengar suara Jev sambil mengetuk pintu.
__ADS_1
Sandra pun berjalan dengan perasaan antara bahagia dan sedikit resah karena takut Sandra tidak menerima nya dan pergi kembali dari kehidupan nya.
Ralin membuka pintunya, begitu melihat suami nya sedang berdiri di hadapan nya, Ralin pun langsung memeluk erat tubuh Baron sambil menangis.
"Mas, Sandra mas." ucap Ralin sambil menangis dalam pelukan Baron.
"Adek kenapa mah." teriak Jev, tanpa menunggu Ralin menjawab pertanyaan nya Jev pun langsung menerobos masuk ke dalam ruangan.
"Tenang sayang, cerita pelan-pelan, biar semua nya jelas, ayo kita masuk dulu dan ceritakan semua nya." Baron pun berusaha menenangkan Ralin yang sedang menangis lalu membawa nya masuk ke dalam.
"Dek, bangun dek, mah, kenapa adek bisa pingsan lagi?" teriak Jev sambil berusaha membangunkan Sandra, paper bag yang dia tenteng dari tadi dia lempar ke samping ranjang bekas dia di rawat.
Ralin masih menangis dalam pelukan Baron, dengan secara perlahan Baron mengajak Ralin untuk duduk.
"Nak panggilkan dokter, biar ayah menenangkan mamah kamu."
Jev pun langsung menekan tombol darurat yang sudah di sediakan di dalam ruangan, tidak berapa lama dokter dan ketiga suster masuk ke dalam ruangan.
"Dok, tolong adik saya pingsan lagi." ucap Jev dengan nada dan wajah khawatir.
""Sebentar saya periksa dulu." dokter pun memeriksa tubuh Sandra dengan sangat teliti.
"Seperti nya ini hanya pingsan karena shock, apa pasien mendengar kabar yang mengejutkan hingga dirinya langsung pingsan begini? Tubuh yang masih lemah dan kondisi pasien yang baru sadar, akan kembali pingsan ketika dirinya mendengar kabar yang membuat jiwa nya kembali tergoncang."
__ADS_1
"Dok, saya ingin melakukan tes DNA." ucap Ralin mengagetkan Baron dan Jev.