
Mau tidak mau Ken pun akhirnya ikut pulang bersama kedua orang tua nya, dengan sangat berat hati Ken meninggalkan Sandra yang masih betah dengan mimpi nya itu, walaupun dengan langkah gontai tapi Ken terus berjalan meninggalkan rumah sakit.
Setelah pulang dari textile, Jay tidak langsung pulang ke rumah, melainkan dia mampir dulu ke rumah sakit untuk melihat kondisi Sandra dan Jev.
"Lis, kamu pulang saja, lagian Jev juga sudah sadar, kamu buka butik saja, takut nya mereka mau membawa pesanan mereka, oh iya mas, ponsel aku dimana? dari kemarin aku ngga melihat ponselku?" ucap Ralin sambil menatap Baron.
"Masih di dalam tas kamu seperti nya, bentar mas ambilkan." Baron pun
"Ya ampun bu, Reni juga pasti menghubungi aku." ucap Lisna dengan wajah bingung nya.
"Kamu kasih kabar ke Rani ngga Lis?"
"Bagaimana mau kasih kabar bu, ponsel aku aja ngga tahu ada di mana."
"Pantas saja pada ngga bisa di hubungi, apa mereka membuang nya ya, untuk menghilangkan jejak." ucap Jev.
"Bisa jadi, mereka mengambil ponsel nya lalu mematikan dan membuang nya." ucap Jay.
"Bisa jadi." jawab Jev.
"Ini Yang, tapi seperti nya batrei nya habis, biar aku charger dulu." ucap Baron sambil mencharger ponsel Ralin.
"Om Jay sebelum pulang tolong belikan Lisna ponsel dulu ya? Nanti uang nya aku transfer." ucap Jev.
"Mana ada malam-malam gini ada counter yang buka bang." ucap Ralin.
"Kamu tenang saja, mas akan menghubungi langganan mas kali saja dia bisa mengusahakan nya." ucap Baron.
"Jangan yah, ngga apa-apa besok saja, takut sudah pada istirahat sudah malam juga." ucap Lisna.
"Iya mas, jangan ganggu orang istirahat." ucap Ralin.
"Ya sudah, besok biar Jay yang ambilkan ponsel nya." ucap Baron.
"Baik bos."
__ADS_1
"Kak, aku pulang dulu ya? Jangan tidur terlalu malam." Lisna pun pamit lalu mencium telapak tangan semua nya.
"Kamu antar Lisna dulu ya Jay." ucap Ralin.
"Baik bu."
Jay dan Lisna pun meninggalkan ruangan, sebenar nya perasaan Lisna sama seperti Ken yang masih ingin menemani Jev sang kekasih hati, tapi Lisna ngga bisa menolak perintah dari Ralin.
"Bang, obat nya sudah di minum belum?" tanya Ralin.
"Sudah mah, tadi."
"Kalau gitu sekarang abang istirahat biar besok cepat pulih, gimana badan abang sekarang?"
"Masih pada sakit sih mah, tapi ngga terlalu, abang kan laki mah, jadi abang kuat." ucap Jev sambil tersenyum.
"Kenapa kamu ngga keluarin jurus mematikan yang selalu Gen vetir lakukan? Apa kamu belum menguasai nya?" tanya Baron.
"Bukan aku ngga menguasai nya yah, tapi pas aku mau menggunakan jurus itu ternyata Bobi sudah bisa membaca nya, dan akhir nya pukulan mematikan itu tidak mengenai Bobi dia lalu menyerang dengan jurus yang sama."
"Terima kasih ayah, entah dengan cara apa aku dan adek membalas nya, ayah sudah sering membantu aku dan adek."
"Syut jangan bicara seperti itu, kita sekarang adalah keluarga, kamu cukup membalas nya dengan kasih sayang saja, kalian berdua sudah mau menjadi anak ayah saja ayah sudah bahagia."
"Terima kasih ayah." Jev pun memeluk tubuh Baron, Ralin tersenyum melihat pemandangan seperti itu.
"Andai saja mereka berdua anak kandung kita ya mas." gumam bathin Ralin sambil tangan nya tidak lepas menggenggam tangan Sandra.
"Yah, apa boleh aku minta satu permintaan?"
"Mau apa nak? mau ke kamar mandi?"
"Aku, aku ingin di temani tidur." sebenar nya Jev malu untuk mengungkapkan nya, karena dirinya sudah dewasa, tapi memang yang Jev ingin kan dari dulu adalah tidur di samping seorang ayah, apalagi pada saat ini, dengan kondisi seperti ini, Jev ingin sekali sosok seorang ayah berada di samping nya terus.
Baron menatap ke arah Ralin seakan-akan meminta pendapat nya, Ralin yang mengerti dengan tatapan dari Baron pun tersenyum sambil mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah nak, ayah akan tidur di sini." ucap Baron sambil duduk di kursi yang memang di khususkan untuk yang menunggu.
"Tidak ayah, aku ingin ayah tidur di samping aku, karena dari sejak aku lahir ke dunia ini, aku belum pernah merasakan tidur di samping seorang ayah."
Sungguh trenyuh dan sedih hati Baron dan Ralin mendengar pengakuan yang jujur dari Jev.
"Nak, maafkan ayah, dimana kamu nak, apa kamu masih ada di dunia ini? seandainya kamu masih ada, apa kamu juga mendapat kasih sayang orang tua? Ya Tuhan sungguh besar dosa ku ini, izinkan aku bertemu dengan anak kandung ku walaupun hanya dalam mimpi." gumam bathin Baron dengan tatapan yang kosong.
Ralin yang mendengar ucapan dari Jev merasa sangat sedih hati nya, "Kalau seandainya kamu masih hidup, mamah do*a kan kamu mendapat orang tua yang menyayangi kamu nak, tapi kalau kamu sudah tdak ada di dunia ni, mamah mohon kamu datang lah di mimpi mamah walaupun hanya sebentar."
"Yah, kok ayah malah melamun? apa ayah ngga mau tidur bareng aku?" Jev membuyarkan lamunan Baron dan Ralin.
"Ngga nak, cuma ayah berpikir kalau ayah tidur seranjang dengan kamu, apa kamu ngga kesempitan?"
"Tidak ayah, ini cukup kok untuk kita berdua, lagian kalau ngga sekarang kapan lagi aku bisa tidur bareng ayah, kalau adek sudah sadar dan kita sudah pulang, ayah pasti tidur sama mamah, secara kata adek juga ayah sudah bucin sama mamah."
"Kamu ini, bisa saja membuat ayah harus mengalah." Baron pun tersenyum lalu merebahkan tubuh nya di atas kasur rumah sakit yang tidak terlalu besar itu.
Ralin tersenyum melihat suami nya yang sedang tidur bersama anak angkat nya,
"Mah tidur lah ini sudah malam, abang yakin kalau adek nanti akan sadar dan kembali pada kita."
"Sayang ayo tidur, kamu tidur nya di sofa, jangan di kursi, nanti pinggang kamu sakit." ucap Baron.
"Iya mas, nanti aku pindah ke sofa, sekarang kalian tidur saja, mamah masih ingin menemani Sandra."
"Good night mah."
"goog night sayang."
Jev dan Baron mengucapkan selamat malam sebelum akhir nya mereka tertidur lelap,, Jev merasa malam ini malam yang spesial buat dirinya, dimana ada sososk seorang ayah di samping nya menemani tidur.
Kedua laki-laki yang ada di hadapan nya memberikan ucapan selamat malam dengan senyuman membuat Ralin merasa orang yang paling bahagia.
Jam di dinding sudah menunjukan jam tengah malam, tanpa terasa Ralin pun tertidur di samping Sandra dengan posisi kepala di atas tangan nya.
__ADS_1
"Mah."