
Baron sibuk bolak balik menyiapkan semua persyaratan yang diperlukan untuk dirinya dan Ralin menikah kembali.
Dikarena kan Baron juga lagi dibutuhkan di cabang textile nya, jadi terpaksa Jay yang mempersiapkan nya.
"Jay tolong kamu ambil semua persyaratan istri saya di butik nya." ucap Baron.
"Butik nya dimana tuan?" Jay memang belum pernah pergi ke butik Ralin, jadi dia ngga tahu alamat nya.
"Oh iya, kamu belum tahu butik nya ya, kamu pergi saja ke jalan xxxx di sana nanti ada sebuah butik dengan nama butik nya Lins Fashion, pastikan semuanya selesai hari ini juga, biar besok kita bisa melakukan akad kembali."
"Baik bos, kalau begitu saya jalan sekarang." Jay pun pergi menuju butik nya Ralin.
Sedangkan di butik hari ini terasa berbeda semenjak kehadiran Sandra yang ikut membantu nya.
Ralin selalu tersenyum memperlihatkan wajah bahagia nya karena kehadiran Sandra di butik nya.
"Jeng, ini siapa? Cantik sekali, saya sering kesini kok baru kali ini saya bertemu dengan nya? Pekerja baru ya?" tanya salah satu langganan butik Ralin.
"Dia ini anak saya jeng." jawab Ralin sambil tersenyum.
"Oh anak jeng, cantik sekali, nak, mau ngga tante kenalkan dengan anak tante?"
Sandra hanya tersenyum tanpa mau menjawab pertanyaan dari salah satu pengunjung butik mamah angkat nya itu.
"Jeng bisa saja, Jeng juga cantik kok." ucap Ralin.
"Ini serius lo jeng, anak kamu aku jadikan menantu ya?'
"Maaf jeng, tapi anak saya sudah punya calon suami." Ralin tahu kalau orang ini pasti akan terus meminta Sandra agar mau jadi menantu nya, karena Ralin sudah tahu tabiat pelanggan nya ini, jangan kan meminta Sandra untuk menjadi menantu nya, kalau minta baju yang dia inginkan pun dia akan terus meminta nya sampai dia memiliki nya.
Dan karena permintaan yang terus menerus membuat Ralin pusing dan akhir nya membuatkan baju yang di inginkan nya, dan Ralin ngga mau kalau permintaan Sandra untuk menjadi menantu nya akan membuat dirinya pusing tujuh keliling, karena Ralin tahu kalau Sandra ngga suka dengan perjodohan.
"Ya sayang dong, belum apa-apa saya sudah kecewa."
"Maaf ya tante, tapi saya sudah punya calon suami dan sebentar lagi kami akan menikah." Sandra pun ikut bersandiwara.
"Iya ngga apa-apa nak, mungkin anak tante ngga berjodoh dengan kamu, ya sudah kalau begitu saya permisi, jangan lupa pesanan saya harus selesai sebelum tanggal dua puluh lima."
__ADS_1
"Tenang jeng, kita akan mengusahakan nya." Ralin merasa lega dengan ucapan dari pelanggan nya.
Pelanggan Ralin itu lalu pergi meninggalkan butik Ralin dengan perasaan sedikit kecewa.
"Alhamdulilah dia sadar dan ngga maksa." gumam Ralin sambil menatap kepergian pelanggan nya yang cerewet itu.
"Memang nya tante itu suka maksa ya mah?" tanya Sandra ketika ibu pelanggan itu keluar dari butik Ralin.
"Banget sayang, kalau kamu ngga percaya, tanya saja sama Lisna, dia ngga bakalan pergi sebelum dia mendapatkan apa yang dia mau.
"Kalau begitu beruntung dong aku, tapi mamah pintar juga ya cari alasan." ucap Sandra.
"Kalau mamah ngga bilang gitu, dia akan terus memaksa kamu untuk jadi menantu nya sampai dia mendapatkan kamu."
"Serem banget ya mah." Ralin pun hanya mengangguk kan kepalanya.
"Bu, ada orang yang mencari ibu di luar, katanya di suruh sama pak Baron." ucap Lisna.
"Kamu ini Lis, kenapa jadi panggil ibu sama bapak lagi, panggil seperti biasa nya saja lah." ucap Ralin.
"Iya kakak ipar, panggil mamah sama ayah saja." ucap Sandra yang ikut protes.
"Kamu juga kan kerja di butik pribadi ku Lis? Jadi kamu manggil seperti biasa nya saja, jangan sok formal."
"Baik bu, eh baik mah."
"Nah gitu kan jadi enak di dengar, ya sudah kamu mulai kerjakan punya si ibu yang tadi, desain nya ada di Sandra, mamah mau ke depan dulu."
"Baik mah."
Ralin pun keluar dengan rasa penasaran siapa orang yang di suruh Baron untuk datang ke butik nya.
"Jay." panggil Ralin ketika melihat Jay sedang berdiri di depan butik nya.
"Bu Ralin, saya di suruh bos untuk mengambil semua pesyaratan untuk di serahkan ke KUA." ucap Jay ketika dirinya sudah berhadapan dengan Ralin.
"Mas Baron nya kemana? Kok malah nyuruh kamu?"
__ADS_1
"Bos lagi sibuk di cabang, jadi tadi dia nyuruh saya, dan bos berpesan jangan sampai ada yang kurang biar besok bisa melangsungkan akad nya."
"Ya sudah ayo masuk dulu, saya ambil ke atas dulu."
Jay pun mengikuti langkah Ralin masuk ke dalam butik nya.
"Pantesan si bos ingin secepat mungkin menikahi istri nya kembali, selain cantik dia juga pintar berbisnis, pasti banyak pria yang ingi menjadi pendamping nya." gumam bathin Jay yang kini sudah duduk di sofa yang di sediakan di butik.
"Lo, om Jay? Sedang apa di sini?" tanya Sandra ketika dirinya melihat Jay yang sedang duduk sambil memainkan ponsel nya.
"Om di suruh ayah kamu nak untuk mengambil persyaratan menikah besok."
"Siapa yang mau menikah dek?' tanya Lisna yang mendengar ucapan Jay.
"Ayah sama mamah kak."
"Kalau begitu kita buatkan kebaya buat mamah dong sekarang? Tapi keburu ngga ya?" ucap Lisna sambil berpikir.
"Eh, iya ya kak, besok kan mamah nikah lagi sama ayah, masa ngga pakai baju kebangsaan."
"Terus gimana dong ya dek? Mamah pernah bilang kalau suatu saat dia bertemu sama suami nya kembali dan melaksanakan pernikahan lagi, dia ingin memakai kebaya yang dia impikan."
"Memang nya kebaya yang bagaimana yang di impikan mamah kak?"
"Itu hanya mamah yang tahu, pernah sih kakak lihat desain nya, tapi cuma sekilas, dan itu sungguh bagus banget, dan kalau kakak buat sekarang pun ngga bakal selesai kalau besok pernikahan nya.
"Kalau saya yang menikah, bisa ngga buatkan baju pengantin nya?" tanya Jay.
"Boleh om, nanti kita buatkan yang spesial buat om." jawab Sandra membuat Jay tersenyum.
"Ini Jay, semuanya sudah komplit di dalam map ini." ucap Ralin sambil memberikan sebuah map berwarna biru muda itu.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi.' Jay pun pergi meninggalkan butik Ralin dengan sebuah map di tangan nya.
"Kalian kenapa? Seperti yang lagi bingung?" tanya Ralin.
"Mah, bukankah mamah kalau menikah kembali sama ayah ingin memakai kebaya yang di impikan mamah? Dan kalau aku buat sekarang ngga bakal selesai, kalau mamah niikah nya besok." ucap Lisna.
__ADS_1
"Kalian tenang saja, mamah sudah menyiapkan segala nya." ucap Ralin lalu pergi ke kamar nya meninggalkan mereka berdua yang l;agi bingung.