Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Kesedihan Baron


__ADS_3

Baron menatap langit-langit kamar nya, suasana hatinya seperti di kala dia belum bertemu dengan Ralin, tapi kali ini lebih sedih dan sakit dari yang dulu, dimana orang yang puluhan tahun ini ia cari sudah berada di depan mata, tapi tidak bisa memeluk nya lagi, karena ulah nya di masa lau.


Baron mengingat kembali di saat dirinya pertama bertemu dengan Sandra sampai Sandra memanggil nya dengan panggilan ayah.


"Pantas saja perasaan ku berbeda kepada nya, selama ini aku sering bertemu dengan anak seumuran nya, tapi belum ada yang menggetarkan hati aku, tapi begitu melihat Sandra, aku langsung ingin mengangkat nya sebagai anak, ternyata dia darah dagingku sendiri, nak, ayah memang pantas kamu benci, bahkan kalau pun kamu membunuh ayah, ayah pasrah." gumam bathin Baron dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Saat ini Baron sangat terpuruk dengan sikap Sandra, ingin sekali rasa nya Baron memeluk Sandra dan membelai rambut nya seperti kemarin, tapi apalah daya untuk saat ni Sandra lagi marah kepada nya.


"Mur, seperti nya kita masih lama untuk menikah." ucap Jay yang saat ini berada di dapur bersama Murni.


"Ngga apa-apa mas, kalau mas masih banyak kerjaan, lagian nak Sandra juga masih belum sadar, masa nak Sandra masih tidak sadar, kita sudah membicarakan masalah kita." jawab Murni yang belum tahu cerita yang sebenar nya.


"Sandra sudah sadar Mur."


"Apa! Jadi nak Sandra sudah sadar? Alhamdulilah, makasih ya Allah, engkau telah mengabulkan do*a kita semua."


"Tapi." Jay bingung harus bicara dari mana.


"Tapi kenapa mas?"


"Tapi sedikit ada masalah hingga bos saat ini sedang rapuh dan terpuruk lagi."


"Kok bisa mas? Bukan nya bos bahagia karena neng Sandra sudah sadar?"


"Seharus nya sih memang bahagia, tapi karena Sandra sudah tahu semua nya, Sandra sekarang membenci bos."


Murni semakin bingung dengan cerita Jay yang ngga jelas menurut nya.


"Mas, kalau cerita itu yang benar, biar aku ngga pusing."


"Jadi begini, setelah Sandra sadar, ibu menemukan bukti kalau Sandra itu sebenar nya anak kandung mereka yang semenjak bayi di buang oleh bos, nah dari situ lah nak Sandra membenci bos."


"Apa! jadi nak Sandra anak kandung pak Baron dan bu Ralin." sungguh Murni di buat kaget ketika mendengar cerita dari Jay.


"iya Mur, tapi bos kembali rapuh bahkan lebih rapuh dari tahun-tahun kemarin."


"Ya kita juga ngga bisa menyalahkan kedua nya, nak Sandra wajar dia kecewa, hati anak mana yang ngga kecewa jika mengetahui kalau dirinya pernah di buang oleh ayah kandung nya sendiri, tinggal kita yang dekat dengan nya memberi tahu secara pelan-pelan agar nak Sandra mau menerima dan memaafkan pak Baron."


"Mudah-mudah han saja secepat nya nak Sandra mau menerima bos."


*

__ADS_1


*


"Andrew? Kamu Andrew kan?"


"Reni?"


"Akhirnya cita-cita kamu tercapai juga ya? Selamat ya." ucap Reni sambil mengulurkan tangan nya.


"Makasih Ren, gimana kabar kamu? sudah punya anak berapa?"


"Jangan kan anak pak dokter, pacar aja masih dalam pencarian." ucap Lisna yang ikut nimbrung dalam obrolan mereka.


"Diam kamu LIs." Reni memberi kode kepada Lisna, tapi Lisna malah tersenyum tanpa dosa.


"Dok, ada pasien yang membutuhkan dokter." ucap seorang perawat yang baru masuk ke ruangan Sandra.


"Oh iya sebentar sus." Andrew pun pergi dari ruangan Sandra setelah dirinya meminta no ponsel Reni.


"Seperti nya status kejombloan kamu akan cepat lengser deh Ren." goda Lisna.


"Apa sih Lis, mulai deh, kita pulang yuk, sudah malam, besok kan kita banyak pesanan." Reni mengalihkan pembicaraan karena Lisna menggoda nya terus.


"Kalian pulang sama siapa?" tanya Ralin.


"Kita naik taxi saja bu." jawab Reni.


"Ini sudah malam, rawan malam-malam begini kalian naik taxi, oh iya Ren, temani Lisna tidur di butik saja ya?"


"Iya bu." jawab Reni.


"Ken kamu mau pulang kapan? Kalau bisa sekalian antar mereka, soalnya saya mau nginap di sini nemenin mamah sama adek." " tanya Jev.


"Ya sudah mas, pulang nya sekalian antarkan mereka ya? lagian besok mas juga harus kerja." ucap Sandra.


Sebenar nya Ken masih ingin bersama Sandra, tapi seperti nya Sandra juga butuh istirahat biar cepat pulih.


"Ya sudah mereka berdua biar bareng sama aku saja." ucap Ken.


"Oh iyah bu ini no aku yang baru." ucap Lisna sambil memberikan no baru nya.


"Kak Lisna sudah punya ponsel baru juga?" tanya Sandra.

__ADS_1


"Iya kan a,"


"Kan abang yang belikan buat kalian berdua dek, uang nya sebagian dari mamah." Jev langsung menjawab karena takut Lisna bilang dari Baron.


Jev sedikit memberi kode kepada Lisna dengan gerakan mata nya, Lisna yang paham dengan lirikan dari Jev pun langsung terdiam.


Sandra menatap Ralin dan Ralin langsung mengangguk sambil tersenyum.


"Ya sudah kita pulang ya."


"Sayang aku pulang dulu ya? Kamu jangan lupa harus banyak makan, biar cepat ada tenaga buat melindungi aku."


"Sekali-kali kamu dong mas yang melindungi aku, masa aku terus."


"Iya deh iya, sekarang kan bos nya kamu bukan aku lagi." Sandra tersenyum mendengar ucapan dari Ken, Ken pun pergi meninggalkan ruangan Sandra setelah mencium kening sandra dan berpamitan sama Ralin.


Mereka berjalan melalui lorong rumah sakit, Lisna yang memang masih kangen dengan Jev, tangan nya ngga bisa lepas dari tangan Jev.


"Kamu mau nyeberang ya Lis, pegangan nya erat banget?" goda Reni.


"Ye, jomblo sirik aja."


"Kita juga bisa begitu, iya kan mas Ken?" tanya Reni, Ken hanya mengangguk kecil saja.


Lisna tidak memperdulikan omongan Reni, dia malah lebih mesra lagi sama Jev.


"Sayang, kenapa kamu tadi bilang kalau kamu yang belikan kita berdua ponsel?" tanya Lisna.


Jev terdiam, mata nya memandang langit yang bertaburan bintang, Lisna, Ken dan Reni ikut terdiam dan menunggu cerita dari Jev.


"Adek lagi marah besar sama ayah, jadi adek tidak mau melihat dan menerima barang apa pun dari ayah."


"Memang nya apa yang sudah om Baron lakukan hingga membuat Sandra marah besar seperti itu?" kini Ken yang penasaran.


"Karena adek sudah mengetahui ayah kandung nya yang sudah membuang dirinya di hutan sejak bayi." ucap Jev.


"Apa! Tapi kan ayah bukan? Jangan bilang ayah Baron adalah ayah kandung Sandra." ucap Lisna.


"Ya." Jev pun mengangguk kan kepala dengan pasti dan membenarkan dugaan dari Lisna.


"Apa!" teriak mereka bertiga membuat Jev kaget.

__ADS_1


__ADS_2