Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Candu


__ADS_3

"Kamu istirahat ini sudah malam, besok kita bicarakan lagi bersama bos." ucap Jay sambil menyentuh tangan nya Murni.


"Mas juga istirahat, kan besok harus kerja." ucap Murni.


"Iya, mas juga mau istirahat kok." jawab Jay.


Jay pun mendekat kan wajah nya ke wajah Murni untuk memberikan ciuman selamat malam nya, tapi sayang begitu bibir nya menyentuh bibir Murni suara ponsel nya mengagetkan mereka berdua.


Murni pun sedikit menjauhkan wajah nya dari wajah Jay dengan wajah yang sudah berubah warna menjadi merah.


"Siapa malam-malam telepon, ganggu saja." gumam Jay sambil mengambil dan melihat ponsel nya.


"Siapa mas?" tanya Murni.


"Bos, sebentar ya." ucap Jay sambil menggulir icon yang berwarna hijau di ponsel nya.


"Iya bos, kenapa?" tanya Jay.


"Apa! istri? ya sudah baik saya kesna sekarang." ucap Jay dengan wajah kaget nya.


Setelah sambungan telepon nya Jay merenung dan mencerna apa yang dikatakan Baron barusan, "Istri?" gumam Jay.


"Istri siapa mas?" tanya Murni yang ikut penasaran.


"Barusan bos bilang mobil istri nya mogok, apa bos sudah bertemu dengan istri nya ya?" ucap Jay.


"Ya ampun mas, alhamdulilah kalau kabar itu benar, cepet kesana mas, nanti mereka nunggu nya kelamaan, mumpung belum terlalu malam." ucap Murni yang ikut senang mendengar nya.


"Ya sudah kalau gitu mas pergi dulu, jangan lupa pintu nya di kunci ya./" ucap Jay sambil meraih kunci mobil dan pergi untuk menjemput montir langganan nya.


"Apa benar bos sudah bertemu dengan istri nya?andai semua itu benar, bos pasti akan merasa bahagia." gumam Jay sambil terus mengemudi.


*


*


"Ayah kok lama sih, katanya tadi akan cepat pulang dan membawa istri nya, tapi belum datang juga." ucap Sandra dengan wajah ngga sabar nya.


"Coba kamu telepon lagi ayah nya dek, takut nya kita nunggu di sini eh ayah malah tidur di hotel." ucap Jev.

__ADS_1


"Ngga mungkin lah bang, kan ayah sudah janji mau pulang." jawab Sandra.


"Ya mungkin saja dek, apalagi ini hujan terus ayah baru bertemu dengan istri nya." ucap Jev.


"Ya sudah adek telepon ayah dulu." ucap Sandra sambil kembali menghubungi no ponsel Baron.


Sementara Baron dan Ralin yang sedang mencurahkan segala kerinduan yang sudah lama mereka pendam semakin menggila, hingga tanpa terasa baju bagian atas Ralin sudah terbuka.


Sungguh mereka sangat menikmati momen yang sudah lama ngga mereka rasakan.


Selagi Baron menikmati dua puncak kembar milik Ralin yang masih kenyal itu tiba-tiba suara ponsel nya menyadarkan mereka berdua.


"Mas, telepon." ucap Ralin sambil menggeser duduk nya.


Baron pun mengangkat wajah nya dari atas dada Ralin lalu mengambil ponsel yang terus-terusan berdering.


"Iya sayang, kenapa?" tanya Baron sambil melirik ke arah Ralin yang sedang merapihkan kembali baju nya.


Baron pun sengaja men loud speaker ponsel nya supaya Ralin tidak salah paham.


"Ayah kok lama sih? katanya tadi sebentar lagi, ayah jadi pulang ngga sih?" tanya Sandra.


"Kok suara nya ngga asing ya?" gumam bathin Ralin sambil terus mendengarkan obrolan mereka.


"Iya sayang ayah sekarang baru beli sate nya, dan ayah langsung pulang." jawab Baron.


"Ya sudah adek tunggu, dan jangan lupa bawa mamah pulang." ucap Sandra.


Ralin yang mendengar ucapan dari Sandra tersenyum sambil menatap Baron.


"Iya sayang, kamu jangan tidur dulu ya? ayah langsung berangkat." ucap Baron lalu menutup panggilan nya setelah Sandra mengiyakan.


"Itu anak angkat kamu mas?" tanya Ralin.


"Iya sayang, nanti aku kenalin kamu ke mereka."Β  jawab Baron.


"Mereka? berarti anak angkat kamu lebih dari satu dong mas?" tanya Ralin.


"Ya anak angkat mas dua, mereka adik kakak yang saling menyayangi dan mas sangat menyukai mereka, dan pasti nya nanti kalau kamu bertemu mereka, kamu juga pasti akan menyukai mereka." jawab Baron.

__ADS_1


"Semoga juga mereka menyukai aku ya mas." ucap Ralin dengan wajah sedikit menyiratkan kesedihan.


"Mas yakin mereka akan menyukai kamu sayang, kamu jangan sedih gitu dong." ucap Baron sambil mengusap pipi Ralin.


"Aku hanya membayangkan jika salah satu dari mereka adalah anak kita, betapa sangat bahagia nya hidup aku mas." ucap Ralin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Maaf kan aku ya sayang, aku janji aku akan terus mencari nya sampai aku menghembuskan nafas ini." ucap Baron.


"Tapi bagaimana cara nya kita menemukan anak kita mas, sedangkan kita ngga tahu dia masih hidup atau sudah tiada." ucap Ralin dengan air mata yang sudah lolos terjun di pipi nya.


"Mas akan berusaha sayang, bila perlu kita tes DNA anak yang seusia dengan anak kita dan kita kasih uang biar mereka mau di tes DNA." ucap Baron sambil mengusap air mata yang lolos di pipi Ralin.


Usia Ralin memang sudah mencapai angka empat puluh lebih, tapi kecantikan nya tidak luntur, karena Ralin sering merawat wajah dan tubuh nya, sehingga dia masih kelihatan fresh dan muda.


Baron pun mengusap air mata di pipi Ralin dengan tisu, lalu mencium seluruh wajah Ralin tiada henti.


"Mas sudah geli." teriak Ralin sambil tertawa.


"Biar kamu ngga nangis lagi, sakit hati mas melihat air mata yeng keluar dari mata kamu, mulai sekarang mas tidak akan membiarkan kamu menangis lagi." ucap Baron lalu kembali mencium seluruh wajah Ralin hingga terhenti di bibir kenyal milik nya Ralin yang selalu mebuat nya candu.


Kembali Baron melahap bibir kenyal Ralin dengan penuh perasaan, dia mengeksplor bibir Ralin seakan-akan bibir Ralin ini ada gula nya yang selalu di rasa manis oleh Baron.


Sebuah lampu mobil menyorot tepat ke wajah mereka berdua hingga membuat mereka kaget dan melepaskan pagutan bibir nya.


"Sialan, siapa sih yang sudah mengganggu kita, akan aku beri pelajaran biar tahu rasa." ucap Baron sambil tangan nya mau membuka pintu mobil.


"Mas, jangan berbuat kasar, lagian kita juga yang salah ini kan jalan umum." ucap Ralin sambil menhan tangan Baron yang hendak membuka pintu mobil.


Baron kembali terduduk sambil menatap mobil yang ada di depan nya, terlihat ada dua orang pria trurun dari mobil itu sambil memakai payung, dan salah satu nya menghampiri mobil Baron.


"Bos, buka ini saya Jay." teriak Jay sambil mengetuk pintu mobil Baron.


"Kamu ganggu saya saja." ucap Baron sambil membuka kaca mobil nya.


"Maaf bos, saya kira bos lagi sendirian." ucap Jay sambil melirik ke arah Ralin.


"Jangan melihat nya seperti itu, dia istri saya." ucap Baron yang merasa tidak suka ada yang melihat Ralin.


"Maaf bos." jawab Jay.

__ADS_1


__ADS_2