Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Berdebat


__ADS_3

"Nak Jev udah pulang?" tanya bu Murni ketika melihat Jev setengah berlari masuk ke dalam rumah.


"Iya bu, Kata om Jay ayah sakit bu, sakit apa?" begitu mendengar kabar Baron sakit dari Jay, Jev langsung pulang.


"Dari kemarin bapak ngga mau makan nak, dan tadi bapak pingsan, untung ada ibu."


"Sekarang ayah gimana bu, tapi aku tanya ayah suka udah makan."


"Ngga tahu nak, di dalam ada ibu kok."


Tubuh Baron yang masih lemas membuat Ralin sangat khawatir, dia mau pulang tapi Baron mencegahnya dan terus memegang erat tangan Ralin, Ralin yang bingung diantara dua pilihan antara Sandra dan Baron.


Sejak tadi Sandra terus menghubungi nya, tapi Ralin terus saja mencari alasan


"Mah, gimana keadaan ayah?" tanya Jev yang baru masuk dengan wajah khawatir nya.


"Kamu lihat sendiri saja nak, tadi makan cuma sedikit, itu juga mamah paksa, sekarang ayah lagi tidur."


Jev menghampiri ayah nya yang sedang tidur, Jev menyentuh kening nya dan melihat ke arah tangan yang sedang di infus.


"Adek, ayah kangen." Baron terus-terus memanggil-manggil nama Sandra.


"Seperti nya ayah lagi kangen sama adek mah." ucap Jev.


"Iya nak, dari tadi ayah terus-terus san memanggil nama adek kamu, mamah bingung harus bagaimana." ucap Ralin dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Mamah yang sabar ya, pasti semua akan indah pada waktunya, abang yakin adek akan secepatnya memaafkan ayah."


Ralin terdiam dan hanya mengangguk lemah sambil menghapus air mata nya.


"Mah, abang keluar dulu sebentar, tolong jaga ayah." ucap Jev.


"Mau kemana nak, mamah bingung harus cari alasan apa lagi sama adek, itu seperti nya telepon dari adek." ucap Ralin sambil mengambil ponsel nya.yang sedang berdering.


"Iya nak, sebentar lagi mamah pulang, mamah lagi sama," Jev mengambil ponsel dari tangan Ralin.


"Mamah lagi sama abang dulu, nanti juga mamah pulang." ucap Jev lalu tidak lama kemudian mematikan ponsel nya dan memberikan kembali ponsel Ralin.


"Mamah tenang saja, adek percaya kok, kalau gitu abang pergi dulu." Jev pergi setelah pamit sama Ralin.

__ADS_1


*


*


"Kak mamah kok belum pulang ya? Sebenar nya mamah ini kemana sih." Sandra terus bertanya kepada Lisna.


Lisna dan Reni hanya diam sambil saling menatap, posisi mereka juga bingung harus bagaimana, tapi mereka milih untuk menutup mulut nya karena sudah sepakat dengan Ralin kalau mereka ngga akan bilang sama Sandra.


Mereka bertiga yang sedang bingung di kaget kan dengan suara seorang pria yang mengucapkan salam.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam." jawab mereka serempak sambil membelikan tubuh mereka ke arah pintu utama.


"Dokter Andrew?" teriak Lisna dan Sandra bersamaan, sedangkan Reni hanya tersenyum melihat wajah kaget mereka.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya, soalnya sudah ada yang jemput." ucap Reni sambil tersenyum dan menghampiri dokter Andrew.


"Kalian?" tanya Lisna sama Sandra serempak.


"Kita berdua lagi menjalani suatu hubungan, karena sebenar nya Reni ini cinta pertama saya." ucap dokter Adrew.


"Nanti aku cerita." ucap Lisna.


"Bagaimana kondisi Sandra saat ini?" dokter Andrew menanyakan kondisi Sandra.


"Alhamdulilah udah baikan dok."


"Syukurlah kalau sudah membaik, oh iya apa saya bisa bertemu dengan bu Ralin?" tanya dokter Andrew.


"Mamah lagi keluar dok, ada yang perlu di sampaikan?"


"Saya hanya mau memberikan ini, tadi bu Ralin minta di antarin, soalnya dia lagi sibuk katanya." dokter Andrew pun memberikan sebuah amplop besar kepada Sandra.


"Oke dok, nanti saya sampaikan sama mamah." Sandra pun menerima amplop dari dokter Andrew.


kalau begitu kita berdua mohon pamit." dokter Andrew pun pergi sambil menggandeng mesra Reni.


"Ketinggalan berita kita, Reni curang ngga ada cerita-cerita." ucap Lisna sambil menatap punggung Reni dan dokter Andrew.

__ADS_1


"Besok kita paksa Reni bercerita kak." ucap Sandra.


"Reni sudah pulang ya? Kenapa belum di tutup ini kan sudah sore." ucap Jev yang baru masuk.


"Abang, bukan nya abang tadi sama mamah?" tanya Sandra.


"Kak, ayo duduk dulu, mau di bikinkan kopi?" tanya Lisna.


"Ngga usah sayang, tadi kakak sudah minum kopi, sini kamu duduk di sini." ucap Jev sambil menepuk sofa di samping nya.


Lisna pun ikut duduk di samping Jev, dia merasa kalau ada sesuatu yang akan di sampaikan oleh Jev dengan serius.


"Dek, kamu bisa bertemu dengan ayah ngga? Abang mohon kamu bisa melupakan masa lalu dan menerima ayah sebagai ayah kandung kamu, bagaimana pun juga ayah sudah menyesali semua nya."


"Ngga bang, aku ngga bisa." jawab Sandra dengan wajah kesal nya.


"Kamu jangan keras kepala dek, sekarang ayah sakit, dia ingin sekali bertemu dengan kamu."


"Itu hukuman buat dirinya sendiri karena sudah melakukan kesalahan yang fatal."


"Dek, bisa ngga sih kamu jangan egois seperti ini? Bagaimana pun juga dia ayah kamu sendiri." Jev mulai terpancing emosi nya karena Sandra sangat susah untuk di luluhkan hati nya.


"Abang bentak adek, abang lebih bela dia dari pada adek gitu, abang tahu kan gimana hidup adek selama ini, abang ngga merasakan apa yang adek rasakan, kalau abang datang kesini hanya untuk membujuk adek untuk bertemu dengan nya lebih baik pergi dan jangan kembali kesini lagi." teriak Sandra dengan deraian air mata lalu pergi naik ke atas dan masuk ke kamar nya.


"Adek." teriak Jev yang sangat menggema.


"Sayang sudah, biar nanti aku yang bicara pelan-pelan sama adek." ucap Lisna sambil menyentuh bahu Jev.


Jev kembali duduk sambil menghela nafas kasar nya, "Dasar keras kepala."


"Kakak harus bisa menahan emosi kakak, bagaimana pun adek masih merasakan kecewa kepada ayah."


"Kakak kasihan sama ayah dan mamah sayang, ayah dari kemarin ngga mau makan bahkan tadi dia pingsan, dan sekarang mamah ngga bisa pulang karena ngga tega meninggalkan ayah yang sedang terbaring lemah, dan ayah juga ngga mau di tinggal mamah." Jev menelungkupkan kedua tangan nya menahan amarah nya.


Lisna merasakan apa yang sedang di rasakan oleh Jev, dengan penuh kasih sayang, Lisna memeluk erat Jev.


"Sabar sayang, kalau begitu aku akan bicara sama Sandra dulu, percayakan semua nya sama aku." Lisna pun mencium seluruh wajah Jev dengan penuh kasih sayang.


"Ups, sory, gue ngga sengaja lihat," ucap Ken yang melihat Lisna sedang mencium Jev, Lisna langsung menjauhkan wajah nya lalu membalikan tubuh nya kepada Ken.

__ADS_1


"Ngga apa-apa masuk aja mas Ken, kalau begitu aku mau menemui Sandra dulu di kamar nya." ucap Lisna.


__ADS_2