
"Sayang ada kabar baik buat kamu." ucap Sam sambil memeluk Sarah dari belakang.
"Apa?" Sarah pun membalik kan tubuh nya lalu melingkarkan kedua tangan nya ke leher Sam.
"Aku tahu dimana Sandra." jawab Sam lalu mencium bibir Sarah.
Sarah membalas ciuman Sam karena dia ingin mengetahui keberadaan Sandra.
Di rasa sudah cukup, Sandra pun melepas pagutan nya.
"Katakan sayang, dimana dia?" tanya Sarah sambil mengusap bibir Sam yang basah karena sudah bertukar saliva dengan nya.
"Kemarin aku sengaja nungguin Ken di depan kantor nya."
FLASHBACK.
"Demi kamu apapun akan aku lakukan, aku sudah mencintai kamu sebelum kamu kenal dengan Ken, sekarang setelah kamu ku dapatkan, aku ngga bakalan melepaskan nya." gumam bathin Sam sambil menatap kantor Ken.
Terlihat Ken keluar dari kantor dan masuk ke dalam mobil nya, Sam langsung memakai helm full face nya.
Sengaja Sam mengendarai motor dan memakai helm yang full face agar tidak di kenali Ken, dia rela mengeluarkan uang banyak hanya demi sewa sebuah motor beserta helm nya.
Sam terus mengikuti mobil Ken kemana pun dia pergi.
"Mau kemana dia." gumam Sam sambil terus mengikuti nya dari jarak sedikit jauh dari mobil Ken.
Terlihat mobil Ken berhenti di depan sebuah butik ternama, dan betapa bahagia nya Sam karena dia pun melihat Sandra yang sedang menyambut Ken di depan butik.
"Itu kan Sandra, oh jadi dia bekerja di butik ini, Sarah harus tahu." gumam bathin Sam lalu kembali melajukan motor nya.
*
*
"Kamu lagi ngapain berdiri di sini? Lagi nunggu aku ya?" tanya Ken sambil tersenyum.
"Yey mau nya, aku lagi nunggu pesanan mas, tadi aku pesan cemilan, katanya sudah mau sampai tapi belum sampai juga."
"Mending kita makan di luar saja yuk?" ajak Ken.
"Tapi aku sudah pesan makanan mas."
__ADS_1
"Kasih sama Lisna dan Reni saja."
Ya karena ini sudah empat hari dari hari ijab kobul nya Ralin dan Baron, jadi mereka sudah mulai kembali bekerja.
"Ya sudah deh, sebentar aku bilang ke kakak ipar dulu."
"Aku tunggu di sini ya sayang."
"Ah manis sekali senyuman nya." gumam bathin Sandra lalu masuk ke dalam butik.
"Kakak ipar nanti kalau ada yang nganterin makanan, tolong diambil dan kalian makan saja, ini uang nya ya." ucap Sandra sambil memberikan beberapa uang lembar kepada Lisna.
"Memang nya kamu mau kemana dek?" tanya Lisna.
"Mas Ken ngajak cari makanan di luar, ya sudah ya kak, Ren aku pamit dulu, bye." Sandra pun langsung pergi tanpa ada celah buat mereka bertanya dan melarang nya.
"Nah kan, orang kalau sudah pada bucin ya seperti itu, dunia serasa milik berdua." ucap Lisna sambil menatap kepergian Sandra.
"Lis, itu ada kaca besar lo." ucap Reni sambil menunjuk sebuah kaca yang ada di butik.
"Ya emang ada, memang nya kenapa?"
"Kamu ngaca di situ, sama ngga kelakuan kamu sama dengan Sandra." ucap Reni sambil tertawa.
*
*
"Kita makan d sini ya sayang." ucap Ken sambil memarkirkan mobil nya di depan sebuah cafe.
"Pasti makanan nya mahal-mahal deh mas." ucap Sandra sambil membuka safety bell nya.
"Memang nya kamu belum pernah masuk ke cafe seperti ini?"
"Mas lupa ya aku berasal dari mana?"
"Maaf sayang, bukan maksud mas."
"Ngga apa-apa mas, aku paham kok, ya sudah jadi masuk ngga nih, aku akan mencoba makanan yang termahal di sini, biar uang kamu habis." ucap Sandra sambil tersenyum.
"Habiskan saja, apapun yang kamu mau dan kamu inginkan mas akan mengabulkan nya."
__ADS_1
Mereka berdua pun masuk dengan tangan Ken memeluk erat pinggang Sandra, seakan-akan dia ingin menunjuk kan kepada semua orang kalau Sandra adalah milik nya.
Ken menggeser kursi ke belakang, lalu Sandra duduk dengan manis.
"Makasih mas." ucap Sandra sambil duduk.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Ken sambil melihat menu yang sudah tersedia di atas meja cafe.
"Pesan yang paling enak saja lah mas."
"Ya sudah kalau begitu kita pesan makanan terenak dan terpavorite di cafe ini saja ya sayang." Sandra pun hanya mengangguk.
"Itu kan pak Ken? Siapa wanita yang duduk bersama pak Ken? Ini ngga bisa di biarin." gumam bathin Mitha.
Mitha sedang duduk tidak jauh dari meja nya Ken dan Sandra, dia sedang menikmati siang ini di cafe itu.
Terlihat Ken dan Sandra sangat mesra, Ken memperlakukan Sandra dengan sangat romantis, tangan Ken sejak tadi tidak lepas dari tangan Sandra.
"Aduh maaf ngga sengaja." ucap Mitha yang pura-pura terjatuh dan memeluk tubuh Ken yang sedang duduk.
"Pak Ken, ternyata anda." ucap Mitha pura-pura kaget, tapi dia tidak melepaskan pelukan nya.
Sandra merasa cemburu dengan kelakuan Mitha, tapi dirinya berusaha untuk santai dan bersikap elegan.
"Kamu siapa?" ucap Ken sambil berusaha melepaskan tangan Mitha dari tubuh nya.
"Oh ternyata begitu mudah nya anda melupakan saya, setelah anda berhasil mengambil kesucian saya, asal anda tahu sekarang saya sedang mengandung anak anda, tapi anda malah duduk manis bersama wanita ini." Mitha memulai drama nya dengan wajah di buat sesedih mungkin.
Sandra menatap tajam ke arah Ken, ingin sekali Sandra langsung menghajar kedua nya, tapi Sandra tidak ingin gegabah, Sandra masih menahan nya karena dia ingin tahu cerita yang sebenar nya.
"Seandainya ucapan wanita ini benar, aku akan membenci kamu seumur hidupku mas, tapi kalau wanita ini berbohong, jangan halangi aku untuk membuat bibir nya sedikit berdarah." gumam bathin Sandra sambil menatap tajam kedua nya.
"Mampus, kalau Sandra percaya wanita ini, hancur sudah semuanya." gumam bathin Ken sambil menggelengkan kepalanya.
"Semoga wanita ini percaya dengan semua yang aku katakan." gumam bathin Mitha sambil sedikit tersenyum.
"Saya ngga kenal kamu ya? Lagian kapan saya tidur bareng kamu." Ken terus berusaha melepaskan tangan Mitha, tapi Mitha memeluk tubuh Ken dengan sangat erat hingga Ken pun susah untuk melepaskan tangan nya.
"Ternyata anda memang sudah melupakan nya, kan malam minggu kemarin kita menghabiskan waktu semalaman di hotel xxxx."
"Malam minggu kemarin kan mas Ken dengan aku di butik, oh rupanya wanita ini mau main-main dengan aku." Sandra pun tersenyum smirk sambil terus menatap Mitha.
__ADS_1
"Kamu kalau tersenyum seperti itu terlihat menyeramkan sayang, jiwa preman mu kembali keluar, sekarang aku ingat, dia ini anak nya pak Wira, tunggu saja aku akan memutus kerja sama diantara kita pak Wira."