
Kini Lisna sudah di tangani dokter dan di temani Jev saja, Baron dan Lisna serta Jay menunggu di luar ruangan.
"Sayang, Sandra ngga di kasih tahu?" tanya Baron sambil menatap Ralin.
"Ya ampun mas aku lupa." ucap Ralin sambil mengambil ponsel nya.
Ralin terus-terusan menghubungi no Sandra, tapi tidak bisa tersambung.
"Ngga tersambung mas." ucap Ralin sambil menatap Baron.
"Ya sudah besok pagi saja kita kasih tahu, mungkin mereka sengaja mematikan ponsel nya karena tidak mau di ganggu."
Di dalam ruangan Lisna yang selama hamil tidak terlalu banyak drama dan bertingkah sedang berjuang demi melahirkan sang buah hati nya.
Lisna hanya menggenggam erat tangan Jev sambil mengatur nafas nya dengan bimbingan dari dokter,
Jev terus memberi semangat dan berdo*a, tidak henti-henti nya Jev mencium kening LIsna.
Tidak menunggu waktu yang lama, lahir lah seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan putih.
"Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan aku seorang anak perempuan yang sangat cantik." Jev mencium seluruh wajah Lisna, dia sangat bahagia sekali dengan kehadiran anak mereka.
Setelah Lisna dan bayi mungil nya di bersihkan, Lisna pun di pindahkan ke kamar ruang inap sedangkan bayi mereka di ruang khusus bayi.
"Selamat sayang, kamu sudah memberikan kita cucu perempuan yang sangat cantik." ucap Ralin yang kini sudah ada di ruang rawat inap Lisna.
Lisna hanya mengangguk dan tersenyum, tangan nya tidak lepas dari genggaman tangan Jev.
"Mamah mau lihat cucu mamah dulu, ayo mas." ajak Ralin yang sudah ngga sabar ingin melihat cucu nya.
Jev dan Lisna tersenyum melihat orang tua mereka terlihat bahagia dengan kehadiran cucu pertama nya.
"Terima kasih sayang, sekarang kita sudah menjadi orang tua." ucap Jev sambil mencium tangan Lisna.
Sementara Baron dan Ralin kini sudah di depan ruang bayi, mereka berdua mencari cucu mereka yang ternyata tepat ada di depan mereka kini.
Baron dan Ralin pun tersenyum bahagia, mereka menatap cucu nya yang masih merah sedang tertidur di box nya.
__ADS_1
"Ah aku sudah tidak sabar ingin segera menggendong nya." ucap Ralin sambil menatap cucu nya dari luar ruangan.
"Sekarang kita sudah menjadi seorang kakek dan nenek, rumah kita akan ramai dan tidak sepi lagi." ucap Baron sambil memeluk Ralin.
*
*
Sandra membuka kedua mata nya dan melihat sang suami lagi tersenyum manis sambil menatap nya.
"Kamu sudah bangun mas?" tanya Sandra sambil kembali masuk ke dalam pelukan Ken.
"Makasih sayang, semalam kamu sangat antusias sekali, dan aku sangat menyukai nya, walaupun ada anak kita tapi kamu semakin lincah dan semakin membuat aku tidak bisa melupakan nya."
"Jangan di bahas mas aku malu, entah lah mas, semalam itu aku seakan-akan lagi kehausan hingga aku semangat untuk melakukan nya."
"Tapi mas sangat suka sekali sayang, ke depan nya terus lah seperti itu." Ken mencium kening Sandra dengan penuh kasih.
"Ya sudah ayo kita bangun, sudah siang mas mau ke kantor." ucap Ken sambil menyibak kan selimut nya.
"Gendong." ucap Sandra sambil mengangkat kedua tangan nya ke atas.
Dengan sekuat tenaga Ken menahan nya, Ken tidak mau membuat Sandra kelelahan dan merasakan sakit di perut ya.
Ken menggendong Sandra dan berjalan menuju kamar mandi dengan ular nya yang sedang menari-nari ke kanan dan ke kiri.
Sandra tahu kalau Ken sedang menahan nya, dan Sandra ingn menggoda suami nya itu.
Dengan perlahan Sandra di turunkan nya, Ken menyiapkan air ke dalam bathub, ular Ken yang sudah on dari tadi terlihat sangat menantang.
Dengan usil Sandra mencolek ular Ken hingga membuat tubuh Ken terasa sengatan listrik.
"Sayang please, jangan buat aku melupakan bayi yang ada di dalam perut kamu." ucap Ken sambil memejamkan kedua matanya.
Sandra tertawa lalu masuk ke dalam bathtub yang sudah di isi air hangat oleh Ken.
"Mas, ngga ikut masuk? Kita coba di sini yuk mas." ucap Sandra sambil mengelus ular nya Ken.
__ADS_1
"Sayang, semalam kan sudah, aku ngga mau perut kamu sakit nanti nya."
"Yakin ngga mau? Lihat deh ular nya sudah gagah begini, masa iya mau solo, emang kalau solo enak mas?" tanya Sandra sambil terus mengusap ular Ken.
"Ya ngga enak sayang." jawab Ken sambil merasakan setiap sentuhan dari istri nya.
"Makanya ayo sini, kita cari sensasi baru." Sandra pun menarik ular Ken dengan penuh kelembutan.
Pertahanan Ken pun hancur sudah ketika Sandra menarik ular nya, Ken ikut masuk ke dalam bathub dan memulai ritual nya sebelum mereka benar-benar membersihkan tubuh nya.
"Seperti nya mereka belum pada bangun." gumam Ralin sambil masuk kedalam.
"Bu, Sandra sama Ken belum pada keluar kamar ya?" tanya Ralin kepada bu Murni yang sedang menata makanan di atas meja makan.
"Belum bu, oh iyah bagaimana neng Lisna sudah melahirkan? Perempuan apa laki-laki?" tanya bu Murni dengan antusias.
Bu Murni ingin sekali mempunyai seorang anak, tapi dirinya sadar diri dengan usia nya, dan memilih tidak mempunyai anak dan akan mengurus semua keturunan keluarga Baron dan Jay pun setuju dengan keinginan nya itu.
"Alhamdulilah bu sudah lahir, bayi nya perempuan dan sangat cantik sekali." jawab Ralin dengan wajah berbinar.
"Alhamdulilah, selamat ya bu." ucap bu Murni yang ikut bahagia mendengar nya.
"Bu tolong siapkan makanan untuk saya bawa ke rumah sakit ya? saya mau mandi dulu." Ralin pun pergi ke kamar nya untuk bersiap kembali ke rumah sakit.
"Semakin besar perut kamu ini semakin nakal rupanya." ucap Ken sambil mencubit hidung Sandra.
"Aku lagi nabung mas, kan kalau bayi kita sudah lahir aku ngga bakalan membuat mas melayang lagi selama enam puluh hari." ucap Sandra sambil tersenyum.
"Apa!" teriak Ken dengan wajah kaget nya.
"Kenapa mas kaget seperti itu?"
"Lama sekali sih Yang, kenapa ngga satu minggu saja sih." ucap Ken dengan wajah kesal nya.
"Itu memang sudah seharus nya selama itu mas, karena kan kalau habis melahirkan perut wanita benar-benar dalam pemulihan."
"Ya sudah lah kalau memang harus seperti itu, tahu gitu dari kemarin-kemarin aku nabung." ucap Ken dengan wajh cemberut.
__ADS_1
"Ya sudah nanti malam kita lanjut aja lagi, tapi kalau aku nya belum melahirkan ya? Soalnya semalam sudah terasa ada panas-panas nya ini pinggang.