
Dengan telaten Ralin mengurus Baron, tidak sedetik pun Ralin melepaskan genggaman nya, Ralin terus membujuk Baron untuk makan, tapi Baron selalu menolak nya dan memilih untuk tidur.
"Sayang, bangun dulu yuk, kita makan dulu, kalau mas ngga makan nanti sakit nya makin parah." ucap Ralin dengan deraian air mata nya.
"Sayang, aku mohon jangan seperti ini terus, mas harus bangkit dan tunjuk kan penyesalan mas kepada Sandra, mamah yakin Sandra akan memaafkan dan akan menerima mas sebagai ayah kandung nya." Ralin terus mengajak Baron berbicara walau Baron sedang tidur sekali pun.
"Bu, lebih baik ibu istirahat saja, biar bos saya yang jaga." ucap Jay yang merasa kasihan kepada Ralin.
"Tidak Jay, terima kasih, kamu saja yang istirahat, kamu kan harus ngurus textile dan semua urusan mas Baron." jawab Ralin tapa melihat ke arah Jay.
"Tapi saya takut nanti ibu juga ikut sakit."
"Tidak Jay, kamu pergi saja istirahat, biarkan saya di sini menemani mas Baron."
Jay pun pasrah dengan keinginan Ralin, Jay merasa kasihan melihat Ralin seperti itu.
"Baik lah bu, kalau begitu saya istirahat dulu, kalau ada apa-apa panggil saya saja."
Terlihat Ralin hanya mengangguk kan kepala nya, Jay pun pergi keluar kamar lalu menutup rapat pintu kamar.
"Maaf kan ayah dek, ayah mohon, dek, a_de_k." ucap Baron kemudian Baron kembali tertidur.
Ralin yang melhat kondisi Baron seperti itu membuat dirinya panik dan langsung menghubungi Jev.
"Bang, ayah kamu nak." ucap Ralin lalu menyimpan ponsel nya kembali setelah Jev menutup panggilan nya.
*
*
Jev tanpa banyak bicara terus melajukan mobil nya dnegan kecepatan sedikit tinggi membuat Lisna ketakutan.
__ADS_1
"Sayang please, kumohon pelan-pelan." teriak Lisna sambil memegang erat bahu Jev, Jev seakan-akan tidak mendengar teriakan Lisna, dirinya pun malah semakin kencang melajukan mobil nya.
"Kak, pelan-pelan tidak, kalau kakak masih seperti ini lebih baik kita putus." teriak Lisna membuat Jev langsung menginjak rem nya.
Lisna sedikit terhuyung ke depan karena Jev menginjak rem secara tiba-tiba.
Jev menatap Lisna dengan deraian air mata, Lisna yang melihat Jev sedang menangis pun langsung membuka safety bel nya dan memeluk erat tubuh Jev.
"Menangis lah sayang, tumpahkan semua nya, tapi jangan sampai kamu menaruhkan nyawa kamu sendiri, bukan kah kamu akan selalu menjaga aku? kalau cara kamu membawa mobil seperti ini, bukan nyawa kamu saja yang akan hilang, tapi nyawa aku juga, aku masih ingin hidup dan menikah dengan kamu, aku ingin mengandung anak dari kamu, tapi kalau kamu memang tidak menginginkan nya silahkan kamu mati sendiri jangan ajak-ajak aku ." ucap Lisna sambil ikut menangis.
Lisna tahu hati Jev ikut hancur melihat orang tua angkat nya dalam kondisi sakit, bagai,mana pun Jev sudah berhutang nyawa pada Baron.
"Maafkan aku sayang, aku melupakan kamu, aku hanya tidak habis pikir dengan cara berpikir nya Sandra, sekarang ayah terbaring lemah dan sangat membutuhkan Sandra." Jev pun menangis tersedu dalam pelukan Lisna.
"Mas percaya sama aku, Sandra akan datang dan akan memaafkan ayah, sekarang kita temui ayah, tapi mas jalankan mobil nya pelan-pelan, aku tidak mau kehilangan mas, aku ingin menikah sama mas, hanya dengan mas seorang." ucap Lisna sambil menghapus air mata Jev.
Jev tersenyum melihat kasih sayang dan kesabaran Lisna dalam menghadapi nya yang sedang emosi.
"Cup, cup, cup." Lisna pun mencium seluruh wajah Jev.
"Kamu ini," ucap Jev sambil mengacak-ngacak rambut Lisna.
"Sayang rambutku kusut." ucap Lisna dengan nada manja nya.
"Kusut juga masih cantik kok." ucap Jev sambil kembali melajukan mobil nya.
Lisna tersenyum melihat Jev kembali menyunggingkan senyuman nya,
Sedangkan di butik Sandra tiba-tiba melepaskan pelukan nya lalu mengambil dan membuka amplop yang di berikan dokter Andrew.
"Itu surat apa sayang?" tanya Ken sambil ikut membaca tulisan yang ada di kertas itu, di sana tertulis kalau Sandra Angelie seratus persen anak kandung dari pasangan Baron dan Ralin.
__ADS_1
Kembali Sandra menangis dan memeluk Ken, surat ini membuktikan dengan akurat kalau Baron dan Ralin adalah orang tua kandung nya.
Mobil Jev berhenti tepat di samping mobil Ralin, mereka berdua turun dan langsung masuk ke dalam dengan setengah berlari.
"Mah." panggil Jev dengan suara pelan, karena tidak mau mengganggu ayah nya yang sedang tidur.
Jev dan Lisna menghampiri Baron yang sedang terbaring lemah tidak berdaya.
"Bang, apa kita bawa ayah ke rumah sakit saja, kondisi ayah semakin terpuruk nak, adek kamu mana? Kamu berhasil kan membawa adik kamu." ucap Ralin sambil mencari-cari sosok Sandra.
Jev hanya menggelengkan kepala nya, dia merasa sangat bersalah karena tidak bisa membawa Sandra kehadapan ayah nya.
"Mah, ayah panas nya tinggi, kita bawa ayah ke rumah sakit sekarang." teriak Lisna.
"Dek, maafkan ayah sayang, ayah sangat menyesal, ayah mohon maaf kan ayah." lagi dan lagi hanya kalimat maaf yang ditujukan kepada Sandra yang Baron ucapkan.
"Ayah, kita ke rumah sakit ya? Sayang tolong panggilkan om Jay di kamar belakang." ucap Jev.
"Baik kak." Lisna pun langsung kembali keluara kamar untuk memanggil Jay.
"Tidak, ayah hanya mau adek." Baron menolak di bawa ke rumah sakit.
"Ayolah ayah, kita ke rumah sakit dulu, nanti adek nyusul ke rumah sakit, adek lagi di jalan kok." ucap Jev berbohong.
"Kamu jangan bohong, ayah ngga mau ke rumah sakit, ayah mau adek." Baron pun kembali menolak ajakan Jev.
"Mas sudah ngga sayang sama aku? Mas sudah ngga perduli lagi sama aku? Baik, kalau memang aku sudah ngga di butuhkan lagi aku akan pergi sekarang juga, dan jangan pernah lagi mencari aku." ucap Ralin dengan linangan air mata nya.
"Sayang kumohon jangan seperti itu, aku sangat menyayangi kamu." ucap Baron sambil meraih tangan Ralin.
"Kalau mas ngga mau di bawa ke rumah sakit, lebih baik aku pergi."
__ADS_1
"Siapa yang ngga mau di bawa ke rumah sakit? Apa dirinya sudah merasa lebih baik hingga tidak mau di bawa ke rumah sakit, apa dirinya merasa sehat walau lagi sakit mendera, apa cuma segitu saja perjuangan nya untuk meminta maaf, apa cuma sampai di sini saja perjuangan nya menjadi seorang ayah untuk mendapatkan maaf dari anak nya?"
Ralin, Jev termasuk Baron menatap ke arah suara seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu kamar.