Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Sadar


__ADS_3

Setelah beberapa jam akhir nya Sandra tersadar dia menatap ruangan penyekapan.


"Dimana aku? Kak Lisna." teriak Sandra tapi tidak bersuara karena mulut nya di lakban dan kedua kaki dan tangan nya di ikat.


Sandra pun berangsur pelan-pelan menghampiri Lisna, dengan susah payah dirinya menghampiri Lisna, akhir nya sampai juga pada Lisna.


"Kak, bangun kak, aku mohon." ucap Sandra dalam hati sambil menggoyangkan Lisna dengan kedua tangan nya sambil membelakangi Lisna.


Lisna pun mulai mengerjap kan kedua mata nya.


"Kita dimana?" Lisna pun bertanya lewat tatapan mata nya.


Sandra memberi kode dengan kepala nya, agar Lisna membelakangi nya kembali.


Cukup lama Lisna memahami kode dari Sandra, hingga Lisna pun mengerti dengan kode yang di berikan oleh Sandra.


Mereka saling membelakangi satu sama lain, Sandra meraih tangan Lisna, lalu dengan susah payah dia membuka ikatan pada tangan Lisna.


Keringat keluar bercucuran di kening Sandra, begitu gigih nya dia membuka ikatan Lisna, dan pada akhir nya ikatan tangan Lisna pun terbuka.


Lisna langsung membuka lakban yang menutupi mulut nya.


"Kita dimana?" tanya Lisna sambil membuka lakban yang menutupi mulut Sandra.


"Kak, jangan banyak tanya dulu, sekarang tolong buka ikatan aku."ucap Sandra dengan suara pelan, karena pasti banyak orang yang menjaga ruangan itu.


Lisna pun membuka ikatan tangan Sandra lalu membuka ikatan di kaki nya sendiri, begitu pun juga Sandra.


"Kak, dengar kan aku, di luar pasti ada yang menjaga nya, dan kita bakal agak susah keluar dari sini, jalan satu-satu nya kita pura-pura masih pingsan dan kita ikat longgar kaki dan tangan kita biar kita tahu siapa pelaku nya." ucap Sandra pelan.


"Baik lah kalau gitu, ponsel kakak mana? Perasaan tadi di saku celana." ucap Lisna sambil mencari ponsel nya di setiap saku nya.


"Pasti mereka yang mengambil nya kak, ponsel ku juga pasti diambil mereka, soalnya seingat aku tadi aku keluar kamar mau ke bawah nyamperin kakak dan ponsel aku pegang, tapi pas lagi menutup pintu kamar tiba-tiba ada yang membekap aku." ucap Lisna.


Sandra dan Lisna pun kembali menempelkan lakban dan mengikat ke dua kaki dan tangan nya seolah-olah mereka masih dalam pengaruh obat bius, ketika mendengar riuh di luar ruangan.

__ADS_1


"Malam non, mereka ada di dalam." ucap Lexy.


"Bagus, kalau begitu ayo kita masuk sayang, kakak ayo." ucap Sarah.


Bobi tidak bisa menolak keinginan adik nya, begitu Bobi memberitahu kalau Sandra sudah di sekap bersama satu teman nya, Sarah langsung merengek ingin segera menemui tapi harus di temani oleh Bobi sang kakak.


Miranda yang sedikit kesal pun ikut mendampingi Bobi sang kekasih.


Mereka semua pun masuk setelah pintu di buka oleh Lexy.


"Mereka mati kak?" tanya Sarah karena melihat mata mereka terpejam dan tergeletak di atas lantai.


"Mereka dalam pengaruh obat bius, mungkin besok pagi mereka akan sadar."


"Tangan ku sudah gatal ingin menghajar nya." ucap Sarah sambil sedikit menendang kaki Sandra.


"Bajingan, berani nya main keroyokan, dari suara nya aku rasa aku kenal dia, tapi siapa ya." gumam bathin Sandra.


"Kalau begitu kakak istirahat di ruang depan, kasihan Miranda sudah lelah." ucap Bobi.


"Kamu jangan macam-macam, kakak menculik dia agar pria yang menolong nya waktu itu muncul dan kakak akan menghabisi nya." ucap Bobi.


"Tenang saja kak, aku ngga akan sampai dia mati kok."


Bobi pun pergi bersama Miranda ke ruangan yang lain nya.


"Jangan sok cantik kamu, berani-berani nya kamu merebut Ken dari aku, rasakan ini." teriak Sarah lalu melayangkan tendangan ke tubuh Sandra.


Sandra yang memang sudah sadar pun menghindar lalu dengan gerakan cepat dia berdiri dan melayang kan pukulan dna tendangan kepada Sarah.


"Aw." teriak Sarah yang terpelanting karena serangan dar Sandra.


"Oh, ternyata kamu si cewek murahan yang hanya menguras harta calon suami ku." ucap Sandra sambil tersenyum mengejek.


"Keren, ternyata kamu jago dek." gumam bathin Lisna sambil membuka mata nya sedikit.

__ADS_1


"Hai, brengsek kamu. Berani-berani nya kamu bilang kalau dia cewek murahan" teriak Sam lalu melayang kan sebuah pukulan kepada Sandra.


Tapi Sandra memang lebih jago dari Sam, Sandra pun menangkis dan memberikan beberapa pukulan dan tendangan kepada Sam hingga membuat Sam terkapar di atas lantai dan mengeluarkan cairan berwarna merah dari mulut nya.


"Kak, kak Bobi tolong kita." teriak Sarah memanggil Bobi.


"Anak buah kakak pada kemana sih." gumam Sarah sambil memeluk Sam.


Bobi yang baru saja membaringkan tubuh nya terkejut mendengar teriakan Sarah, lalu dirinya berlari ke ruangan penyekapan meninggalkan Miranda yang sudah tertidur.


"Oh, rupanya kamu sudah sadar, masih ingat aku?' ucap Bobi sambil meregangkan otot-otot tubuh nya.


"Kamu, jadi kalian?" ucap Sandra sambil menatap ke arah Sarah dan Bobi.


"Ya, dia kakak ku, kenapa? takut? Habisi saja kak, mumpung ngga ada pria itu lagi." teriak Sarah.


"Dimana laki-laki yang pernah nolongin kamu? Dimana Baron berada." teriak Bobi.


"Baron? Siapa Baron?' Sandra pura-pura tidak mengenali nya.


"Ternyata dia kenal dengan ayah, tidak! sampai kapan pun aku ngga akan bilang keberadaan ayah, aku harus melindungi ayah, aku sudah berhutang nyawa sama ayah." gumam bathin Sandra sambil terus waspada.


"Jangan bohong kamu, dia kan yang menolong kamu waktu itu, sekarang katakan dimana dia berada."


"Saya memang ditolong orang waktu itu, tapi semenjak itu saya ngga pernah bertemu dia lagi." sebisa mungkin Sandra bersikap seolah-olah dirinya memang tidak kenal dengan Baron.


"Rupanya kamu sangat melindungi dia, mungkin dengan cara ini kamu bisa memberitahu aku, rasakan ini." Bobi pun melayangkan pukulan demi pukulan kepada Sandra.


Sandra sebisa dan semampu dia menghindar dari serangan Bobi, walau beberapa kali Sandra juga sempat melayangkan pukulan dan tendangan nya.


Karena memang Bobi bukan lawan yang sepadan dengan Sandra, akhir nya Sandra kena beberapa kali pukulan yang membuat nya mengeluarkan cairan merah


"Bugh." tendangan terakhir kali nya dari Bobi dan membuat Sandra terpelanting dan mengenai dinding yang sangat keras hingga membuat Sandra tidak sadarkan diri.


"Adek." jerit Lisna dalam hati, Lisna ngga berani membuka matanya karena dirinya sangat takut dengan mereka terutama dengan Bobi.

__ADS_1


"Bajingan, berani nya sama perempuan." teriak seseorang dari belakan Bobi lalu melayang kan sebuah pukulan yang mematikan yang dia dapat dari Gen Petir ayah angkat nya.


__ADS_2