Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Beruntung


__ADS_3

"Hai Lisna, kamu ini kemana saja sih? Jangan bilang kamu pergi pacaran terus butik sampai harus tutup seharian, aku bilangin ke bu Ralin tahu rasa kamu, nanti kamu di pecat jadi calon menantu." Reni yang baru sampai langsung nyerocos tanpa henti.


"Kamu ini, datang-datang bukan ngucapin salam, malah nyerocos kayak bibir emak-emak yang suka gibah." ucap Lisna sambil duduk di sofa yang ada di butik.


"Lagian ya? Kalau mau tutup itu kasih kabar kenapa, biar aku juga ngga nungguin kalian sampai kering di sini." Reni pun ikut duduk di depan Lisna.


"Sudah ngomel-ngomel nya? Kalau sudah aku mau cerita, kalau belum silahkan di lanjut ngomel nya." Lisna dengan santai menanggapi ocehan teman nya itu.


"Sudah, ayo sekarang kamu cerita." ucap Reni sambil menyimpan tas nya di atas meja.


"Waktu itu setelah kamu pulang dari butik, tidak lama ada dua pria masuk ke butik lalu membekap aku dan Sandra dengan sebuah sapu tangan yang sudah ada obat bius nya hingga kita berdua tidak sadarkan diri."


"What! Kok bisa? Mereka perampok ya? apa saja yang diambil? Tapi kalian berdua ngga apa-apa kan?" teriak Reni sambil melihat ke arah sekeliling butik.


"Bisa diam dulu ngga? Aku itu belum selesai cerita, main potong saja." Lisna sedikit kesal dengan Reni, dia selalu menyela kalau dirinya sedang bercerita.


"Oke, oke, aku diam, ayo lanjut." Reni pun menutup mulut dengan tangan nya, dirinya selalu antusias dan terbawa suasana kalau mendengar sebuah cerita.


"Lalu mereka membawa kita berdua ke sebuah ruangan, ketika sadar Sandra malah menyuruh aku untuk pura-pura masih pingsan untuk mengetahui para pelaku nya, dan ternyata wanita yang terakhir kali datang membeli sebuah gaun yang banyak tanya itu komplotan mereka."


"What!" Reni kembali menutup mulut nya ketika melihat tatapan horor dari Lisna.


"Ternyata Sandra jago beladiri, dia berkelahi dengan mereka sampai Sandra terpental dan mengenai dinding dan langsung tidak sadarkan diri karena pukulan dan tendangan yang keras, untung kak Jev dan Ken datang menolong."


"Terus kamu hanya diam saja pura-pura pingsan gitu? Kamu ngga menolong dia sama sekali?" Reni heran dengan sikap Lisna yang ngga bisa membantu apapun.


"Kan aku di suruh pura-pura pingsan sama Sandra, udah gitu aku kan ngga bisa berkelahi."


"Kamu ini ya Lis, andaikan aku jadi kamu, aku bangun dan aku jambak, aku pukul aku banting mereka dengan sekuat tenaga." dengan antusias Reni bicara.


"Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu ngga ada dalam kondisi seperti aku kemarin, coba kalau ada, pasti kamu juga melakukan hal yang sama."

__ADS_1


"Iya deh iya, terus motif dari penculikan itu apa? Hingga mereka berdua menculik kalian berdua?"


"Aku juga belum tahu, soalnya Sandra kan belum sadar, jadi kita semua ngga ada yang bahas masalah itu."


"Jadi Sandra belum sadar?"


"Belum, karena lawan nya tidak sepadan dengan Sandra, dan keburu kak Jev datang untuk menolong Sandra, bahkan waktu kak Jev sedang melawan nya pun dia kembali mau melakukan hal yang sama kepada Sandra, tapi untung ayah datang menyelamatkan nya."


"Ayah? Pak Baron? Suami ibu?" tanya Reni dengan kening yang mengkerut.


"Iya Reni, terus ayah yang mana lagi, uh gemes aku ingin cubit bibir kamu." Lisna sedikit kesal dengan Reni, tapi kalau ngga gitu bukan Reni namanya.


"Bukan nya mereka masih di Bali? Kok bisa menolong kalian semua?" Reni pun bertanya dengan wajah heran nya.


"Ya memang mereka masih di Bali, tapi kak Jev menghubungi nya dan memberitahukan kondisi aku dan Sandra, hingga membuat malam itu juga ayah dan mamah langsung terbang dari Bali dan menolong kita.


"Sandra dan kak Jev kalah sama lawan nya, tapi lawan yang mengalahkan mereka berdua kalah sama pak Baron, berarti pak Baron lebih jago dong?"


"Ya iya lah Ren, kan Ayah dulu nya ketua mafia."


"Kamu ini aneh ya Ren, masa kamu suka sama seorang mafia?"


"Eh, asal kamu tahu ya Lis, seorang mafia itu selalu berbuat kasar dan kejam kepada lawan atau musuh nya, tapi kalau dia sudah mencintai seorang wanita, dia akan tunduk dan akan selalu menjaga wanita nya."


"Masa sih?" Lisna ngga percaya dengan ucapan Reni.


"Kamu lihat saja ayah kamu, bagaimana perlakuan dia sama bu Ralin."


"Benar juga ya Lis."


"Eh ngomong-ngomong, sekarang kabar Sandra gimana?"

__ADS_1


"Dia masih belum sadar Lis, tapi kalau kak Jev sudah sadar kemari siang."


"Kamu kapan pergi ke rumah sakit lagi, aku ikut ya? aku juga ingin melihat nya."


"Sehabis tutup butik saja kita langsung kesana."


"Oke deh kalau begitu, eh sebentar, kenapa no kamu ngga bisa dihubungi? Dan kenapa kamu ganti no?"


"Ponsel aku dan ponsel Sandra di buang mereka, dan tadi aku pakai no baru dan ponsel baru." ucap Lisna sambil memperlihatkan ponsel baru nya.


"Wah, keren sekali, ini ponsel yang aku mau, tapi aku ngga mampu untuk membeli nya."


"Itu juga di belikan ayah."


"Kamu beruntung ya Lis, ada di tengah-tengah mereka."


"Iya, aku sangat bersyukur bisa masuk dalam keluarga mereka, kamu jangan sedih gitu dong, kamu juga bagian dari hidup aku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu." goda Lisna.


"Ih geli tau ngga, jomblo-jomblo begini juga aku masih normal." ucap Reni sambil bergidik, begitulah kelakuan mereka berdua kalau sudah bercanda.


*


*


"Aku beli buah-buahan saja lah sekalian berangkat." Adriana sudah siap mau pergi ke rumah sakit untuk kembali menjenguk Sandra, dengan diantar sopir nya, tidak lupa Adriana meminta izin dulu kepada suami nya.


"Pak nanti mampir beli buah dulu ya di tempat biasa." ucap Adriana setelah duduk di kursi belakang.


"Baik bu." sopir nya pun langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.


"Ponsel kamu itu kenapa sih Lin dari kemarin ngga aktif terus." gumam Adriana sambil terus mencoba menghubungi no Ralin.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Adriana menatap jalanan, dia memikirkan masa lalu nye sepanjang hidup dengan Ralin, mereka bahu membahu saling memberi semangat, di kala dirinya rapuh Ralin selalu ada dan selalu menguatkan nya, sekarang giliran Ralin lah yang harus di beri semangat dan di beri kekuatan.


"Aku akan selalu ada buat kamu Lin, seperti kamu selalu ada buat aku di kala aku sedang rapuh dan terpuruk." gumam bathin Adriana.


__ADS_2