Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Jangan Macam-Macam


__ADS_3

Kamar Baron yang tadi nya sepi dan hanya isak tangis Ralin yang terdengar, kini berubah seperti ruang keluarga, mereka bercengkerama, dan bercanda sampai lupa kalau waktu sudah menunjukan tengah malam.


Ken ikut bahagia melihat kebahagiaan keluarga ini, dan Ken tidak mau mengganggu nya dan memilih untuk pulang, dia memberikan waktu buat Sandra kembali hangat dengan keluarga nya.


"Sayang aku pulang, besok aku kesini lagi." ucap Ken.


"Nah kan di cuekin sama kamu sih dek, jadi Ken nya pulang." goda Jev.


"Ngga kok sayang, aku pulang karena memang sudah malam dan besok ada pertemuan dengan klien jam sepuluh pagi." Ken ngga mau Sandra merasa bersalah dan ngga enak kepada dirinya.


"Ya sudah kalau gitu aku antar mas Ken dulu ke depan ya yah, mah." ucap Sandra lalu menghampri Ken.


"Hati-hati ya nak? Jangan ngebut." ucap Raln.


"Iya tante, om cepat sembuh ya, mari semua." Ken pun keluar dari kamar Baron di temani Sandra.


Sandra yang merasa bersalah langsung menggenggam erat tangan Ken dan berjalan di samping Ken.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Ken menatap mata indah Sandra.


"Senyuman dan mata indah seperti ini yang selalu ingin ku lihat dari kamu." ucap Ken sambil mengelus lembut pipi Sandra membuat Sandra memejamkan kedua matanya merasakan kehangatan sentuhan dari Ken.


Bibir Sandra yang menggoda membuat Ken langsung ingin mengecup nya, dengan secara perlahan Ken mendekatkan wajah nya lalu dengan lembut bibir Ken mengeksplor bibir Sandra yang sudah membuat nya candu.


Sandra yang merasa terbuai pun membalas cumbuan dari Ken, mereka berdua lupa akan keberadaan mereka saat ini.


Sandra melepaskan ciuman nya ketika dirinya teringat dengan ke dua orang tua nya yang sedang menunggu di dalam.


"Cukup mas, ini sudah malam, katanya mas mau pulang." ucap Sandra setelah melepaskan ciuman nya.


"Aku sudah ngga sabar ingin segera melamar dan menikahi kamu." ucap Ken sambil mengusap bibir Sandra yang basah karena ulah nya.


"Aku akan menunggu waktu itu, makasih ya mas, kamu sudah membuka hatiku dan mau memaafkan ayah."


"Jangan cuma sama aku kamu mengucapkan terima kasih, tapi ucapkan lah ke semua orang, karena berkat semua nya kalian sekarang berkumpul kembali."


"Siap bos ku."


Ken tersenyum melihat kelakuan Sandra yang membuat nya selalu gemas, sebenar nya Ken masih ingin bersama Sandra, tapi sekarang belum saat nya untuk mereka selalu berdua.

__ADS_1


Sandra kembali masuk setelah mobil Ken pergi dan sudah tidak terlihat lagi.


""Kak Lisna nginap saja, kakak boleh tidur di kamar aku." ucap Sandra yang kini sudah duduk disamping ayah nya.


"Makasih ya dek, tapi kakak ngga bawa ganti." ucap Lisna.


"Pakai punya aku saja kak, ngga apa-apa."


"Kamu memang nya mau tdur dimana dek?" tanya Jev sambil menatap Sandra.


"Aku mau tidur di sini bareng mamah sama ayah." jawab Sandra sambil menyandarkan kepalanya di bahu Baron.


"Adek, kebiasaan deh." ucap Jev.


"Ngga apa-apa nak, biarkan saja, ayah kan sesekali mau tidur bareng istri dan anak ayah." ucap Baron sambil mengelus puncak kepala Sandra.


"Mah, jadi siang tadi mamah berbohong sama aku ya?" tanya Sanra sambil menatap Ralin.


"Maafkan mamah sayang, mamah bingung, ayah sakit ngga ada yang ngurusin, sementara kamu ngga memperbolehkan mamah bertemu dengan ayah." jawab Raln.


"Aku yang minta maaf mah, aku sudah membuat mamah tersakiti di sini, aku sudah egois dan tidak memikirkan hati kalian berdua." ucap Sandra.


"Dan jangan lupa dek, kamu masih punya hutang sama ayah." ucap Jev sambil tersenyum.


"Hutang? Aku punya hutang apa sama ayah?" tanya Sandra.


"Ngga tahu." ucap Baron sambil menggeleng. Karena memang dirinya tidak tahu.


"Hutang apa bang?" tanya Ralin yang penasaran.


"Itu ponsel mahal yang adek pegang kan pakai uang ayah, bukan pakai uang abang atau mamah." ucap Jev dengan santai.


Sedangkan Ralin dan Baron sudah memberi kode kepada Jev untuk tidak membocorkan nya, tapi Jev pura-pura tdak melihatnya.


"Apa! Jadi ponsel ini ayah yang belikan?"


Baron dan Ralin hanya mengangguk pasrah karena ulah Jev.


"Makasih ayah, dan maafkan aku yang sudah berbuat kasar pada ayah." Sandra pun memeluk Baron lalu mencium pipi Baron.

__ADS_1


Baron pun tersenyum, dia sangat bahagia sekali melihat Sandra bahagia, dirinya merasa langsung sehat kembali.


"Sama-sama nak, oh ya sayang tolong infusan nya di buka saja ya? Aku sudah tidak membutuhkan nya lagi, karena obat nya sudah ada di sini." ucap Baron kepada Ralin.


Ralin tersenyum, lalu dengan perlahan membuka infusan nya.


"Mamah memang nya bisa membuka infusan? Kalau ngga bisa biar aku panggil kan dokter." ucap Jev.


"Bisa nak, cuma cabut jarum nya saja kok." ucap Ralin sambil mencabut jarum infusan yang nempel di tangan Baron.


"Kalau begitu kita istirahat duluan ya bos." ucap Jay.


"Om, kalian kan belum menikah, masa mau tidur bareng." ucap Jev membuat mereka menatap Jay dengan tatapan tajam.


"Siapa yang mau tidur bareng, kita mau istirahat di kamar masing-masing." ucap Jay memperjelas.


"Oh, kirain."


Jay pun pergi dengan wajah kesal nya di ikuiti bu Murni dari belakang.


"Ya sudah sayang ayo kita istirahat." ajak Jev sama Lisna.


"Abang, abang ngapain ngajak kak Lisna, ingat bang, kalian belum sah." ucap Sandra.


"Memang nya abang mau ngapain, orang abang mau ngantar Lisna ke kamar kamu dek." ucap Jev.


"Awas ya bang, jangan macam-macam." ucap Sandra.


"Abang ngga macam-macam kok dek, cuma satu macam saja, iya ngga sayang." ucap Jev sambil memainkan kedua alis nya di depan Lisna.


"Entah lah," ucap Lisna lalu berdiri dan pamit untuk istirahat di kamar nya Sandra.


Sungguh malam ini malam yang sangat bahagia bagi Ralin dan Baron, apa yang mereka impikan selama ini akhirnya malam ini mereka bisa merasakan nya.


Kini mereka kembali tidur bertiga, yang membedakan nya hanya posisi tidur nya saja, kalau pas malam pertama Ralin yang berada di tengah, tapi untuk malam ini Sandra lah yang mengambil posisi di tengah, dia ingin meraskan tidur bersama ke dua orang tua nya.


"Oh ya mah, tadi sore ada dokter Andrew datang ke rumah dan memberikan hasil tes DNA." ucap Sandra yang kini sudah berada di tengah-tengah kedua orang tua nya.


"Mamah ngga perlu melihat nya lagi, karena mamah sangat yakin sekali kalau kamu adalah anak kandung mamah."

__ADS_1


Mereka pun tertidur dengan hati dan perasaan yang damai dan bahagia.


__ADS_2