
"Bangunlah yah, jangan seperti ini, aku minta maaf sudah berlaku kasar kepada kalian, aku hanya kecewa dengan apa yang sudah ayah lakukan kepada adek."Jev pun meraih kedua bahu Baron lalu mengajak nya untuk duduk.
"Maafkan ayah nak, dan ayah mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menolong, merawat dan menjaga nya." Baron memeluk Jev sambil menangis.
"Sudah lah yah, ayah ngga perlu minta maaf sama aku, tapi yang harus ayah pikirkan sekarang, bagaimana cara nya meluluhkan hati adek, karena selama ini dia selalu di hantui mimpi buruk yang sama dan dia sangat membenci orang yang membuang seorang bayi di dalam mimpi nya itu."
"Nak, bagaimana bisa kamu menemukan Sandra waktu itu?" tanya Adriana penasaran.
"Pagi itu ibu mau mengambil kayu bakar di hutan, dan itu selalu ibu lakukan hampir setiap pagi, tapi pagi itu entah kenapa aku ingin sekali ikut dengan ibu pergi ke hutan, hingga sampai di hutan, aku dan ibu mendengar tangisan seorang bayi perempuan, aku dan ibu yang merasa kasihan pun mengambil dan merawat nya dengan semampu kami, banyak yang mau menjadikan nya anak, tapi ibu bersikeras ingin merawat nya, padahal kondisi ibu tidak mungkin untuk mengurus nya karena kami bukan orang berada, ibu hanya bekerja sebagai pemulung, dia hidup sebatang kara yang di tinggalkan suaminya di saat aku masih ada di dalam kandungan nya, beliau bekerja tanpa lelah untuk mencukupi segala kebutuhan aku dan adek hingga suatu saat beliau sakit dan meninggalkan kita berdua." Jev bercerita sambil menangis, dia tidak tahan kalau sudah bercerita tentang perjuangan ibu nya dulu.
"Setelah ibu kamu meninggal, terus kalian hidup berdua atau ada yang merawat kalian?" Adriana masih penasaran dan ingin lebih tahu banyak tentang Jev dan Sandra.
Jev menghela nafas dengan kasar lalu menghapus air mata nya, dan melanjutkan cerita nya kembali.
"Setelah ibu meninggal, aku dan adek hidup berdua, aku berusaha dengan sekuat tenaga untuk bisa memberi adek makan, apapun aku kerjakan demi mendapatkan uang asal tidak dengan mencuri, karena sebelum meninggal ibu selalu berpesan kalau aku harus jadi orang yang jujur dan bertanggung jawab, hingga suatu saat aku sedang di pukuli preman hingga aku tidak berdaya, tapi seseorang menolong aku dan mengangkat aku sebagai anak nya, dan aku di jadikan ketua mafia oleh nya, dia adalah Gen Vetir, dari situ kehidupan aku dan adek sedikit berubah, kita berdua tidak terlalu kekurangan, walaupun taruhan nya nyawa."
Ralin yang mendengar cerita dari Jev menangis tersedu-sedu lalu memeluk erat tubuh Jev.
"Terimakasih nak, semua pengorbanan kamu tidak akan pernah mamah lupakan, mamah mohon jangan pergi dari kehidupan kami, apapun keputusan Sandra kepada ayah nya, mamah harap kamu tetap akan selalu menjadi anak mamah dan ayah, kamu abang nya Sandra."
{Tuh kan aku nangis lagi bestie}.
Jangankan Adriana, Baron saja yang pria ikut menangis mendengar cerita Jev, Baron pun ikut memeluk Jev dan Ralin, mereka bertiga menangis dalam pelukan.
Sungguh Adriana sudah ngga sanggup melihat nya, ini momen yang paling sedih yang Adriana rasakan, selain ketika dirinya di tinggal oleh suami dan anak nya.
__ADS_1
*
*
Sebenarnya Ken ingin sekali di jam makan siang ini pergi ke rumah sakit dan menemui Sandra, tapi apalah daya meeting yang menguras waktu dan tenaga masih berlangsung setelah jam makan siang, Ken sedikit kesal karena dimana dirinya sedang ingin bersama Sandra, kerjaan malah semakin banyak dan numpuk membuat nya harus lebih sabar lagi nunggu sepulang dari kantor.
"Kenapa kerjaan nya banyak banget sih, ini juga meeting kenapa harus sekarang sih, kan bisa minggu depan atau bulan depan juga." Ken terus bergumam meluapkan kekesalan nya.
Sama seperti apa yang di rasakan oleh Ken, Lisna pun sangat khawatir dengan kondisi Jev, memang Jev sudah sadar, tapi Lisna tetap saja kepikiran.
"Waktu kok berasa lambat ya? Lihat jam kok seperti ngga berputar." gumam Lisna yang masih bisa di dengar oleh Reni.
"Pasti udah ngga sabar ingin bertemu dengan kekasih pujaan." goda Reni sambil bersiap mau beli makan siang.
"Iya aku ingat kok kalau aku masih jomblo, jadi jangan pernah kamu mengingatkan nya kembali." ucap Reni.
"Segitu aja marah."
"Siapa yang marah, sudah ah ayo kita beli makan siang, aku sudah lapar ini, nanti keburu banyak pelanggan makin susah untuk makan siang." Reni pun menarik tangan Lisna dengan sedikit kencang.
"Sabar dong Ren, kamu ini kalau masalah makanan aja ngga bisa sabar."
*
*
__ADS_1
Di rasa sudah tenang Jev pun kembali memanggil dokter dan meminta untuk melakukan tes DNA kepada Sandra dan Ralin, mereka memang sudah yakin kalau Sandra adalah anak kandung nya melalui tanda lahir yang ada di bahu kanan nya Sandra, tapi mereka ingin lebih yakin lagi.
Dokter mengambil potongan rambut Sandra dan potongan rambut Ralin dan juga Baron, sebenar nya potongan rambut Baron atau pun Ralin saja cukup untuk melakukan tes, tapi Jev meminta dokter mengambil rambut ketiga nya.
"Baik saya periksa ketiga nya, tapi kalian harus bersabar karena hasil nya paling cepat satu minggu dan paling lama dua minggu, jadi mohon kesabaran dan kerja sama nya." ucap dokter sambil memegang sample rambut mereka bertiga.
"Baik dok, terimakasih."
"Baiklah kalau begitu saya permisi, dan kalau pasien nanti sadar, tolong usahakan jangan membuat dia kembali shock, kalian secara perlahan saja memberitahu nya."
"Baik dok, terimakasih."
Kini mereka sudah tenang, Jev sudah tidak emosi lagi, mereka berempat masih menunggu Sandra sadar, Adriana masih setia mendampingi Ralin di sisi nya.
"Selamat siang semuanya, maaf mengganggu, ibu hanya membawakan makan siang buat semua nya." ucap bu Murni sambil menata makanan di atas meja.
"Makasih bu, sama siapa kesini?" tanya Ralin dengan mata yang sembab.
"Seperti nya bu Ralin habis menangis, aku ngga boleh mengganggu nya, segera sadar neng Sandra, kasihan bu Ralin" gumam bathin bu Murni yang belum tahu kalau sebenar nya itu hanya pingsan biasa.
"Sama Jay bu, tapi Jay ngga ikut kesini dia nunggu di parkiran karena katanya mau langsung balik ke textile, ya sudah kalau begitu saya pamit, dan sekalian saya mau bawa baju kotor." bi Murni pun langsung mengambil baju yang di rasa itu adalah baju kotor mereka.
"Ya sudah, hati-hati ya bu."
"Iya bu." bu Murni pun kembali keluar ruangan dan berjalan ke parkiran, sepanjang dia berjalan ke parkiran bu Murni terus berpikir dengan keadaan Sandra dan sikap Baron yang lebih banyak diam.
__ADS_1