
"Lo mas, Sandra kemana?" tanya Ralin sambil melepaskan pelukan nya.
"Ken juga tidak ada." ucap Adriana.
"Ayo kita cari keluar, paling juga di depan." ucap Jev.
Mereka semua pun menuju halaman depan untuk memastikan keberadaan Sandra dan Ken.
Tapi sebelum mereka sampai ke pintu utama, Sandra masuk dengan setengah berlari dan tanpa menghiraukan mereka smeua nya.
"Nak, kamu kenapa?' teriak Ralin sambil menatap Sandra yang terus naik keatas menuju kamar nya.
"Seperti nya dia ada masalah." ucap Baron sambil mau mengikuti Sandra.
"Mas, jangan di samperin dulu, biarkan dia menenangkan diri dulu, lagian ini sudah malam juga, besok kan mas harus kerja." ucap Ralin sambil menahan langkah Baron dengan cara menarik tangan nya.
"Jadi kamu ngusir aku sayang." Baron merasa tidak terima dengan ucapan Ralin.
"Mas, bukan aku ngusir mas, tapi lihat ini sudah jam berapa, mas juga harus kerja besok, kalau mas ngga kerja aku ngga mau menikah lagi dengan mas." terpaksa Ralin memberikan sedikit ancaman kepada Baron agar Baron segera pulang dan beristirahat.
Ralin tahu kalau Sandra butuh seseorang untuk mendengar segala keluh kesah nya, dan yang Sandra butuhkan hanya sosok seorang ibu bukan siapa pun.
"Sudah lah yah, kita pulang saja, besok kan kita bisa kesini lagi." ucap Jev.
Baron pun menyerah dan pasrah setelah mendengar ancaman dari Ralin.
"Itu dia Ken pah." ucap Adriana sambil emnunjuk Ken yang sedang berdiri sambil menyentuh pipi nya.
"Ken, ada apa dengan Sandra?" tanya Adriana setelah menghampiri Ken.
"Hanya salah paham sedikit mah, ya sudah mah ayo kita pulang, sudah malam." ucap Ken.
"Kamu apa kan adik saya." ucap Jev sambil menatap tajam ke arah Ken.
"Nak, sudah jangan memperpanjang masalah, biar mamah yang tanya Sandra nanti." ucap Ralin sambil menyentuh lembut pundak Jev.
"Maafkan saya, tadi hanya ada sedikit masalah saja, kalau begitu saya permisi, besok saya akan menyelesaikan nya sama Sandra." ucap Ken.
Semua orang menatap Ken dengan penuh banyak pertanyaan, termasuk Adriana.
Tapi Adriana menahan nya, dan berpikir nanti saja dia akan bertanya kepada Ken setelah sampai di rumah mereka.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu aku juga pulang, ya Lin? Ayo mas kita pulang." ucap Adriana.
Mereka bertiga pun akhir nya pulang setelah berpamitan kepada Ralin dan yang lain nya.
Ken membawa mobil nya sedniri, sedangkan Adriana pulang nya ikut mobil suami nya.
"Ya sudah ayo Yah, kita juga pulang, kita antar Lisna dulu ke kontrakan nya." ajak Jev lalu mencium telapak tangan Ralin bergantian dengan Lisna.
"Kita pulang dulu ya mah."
"Iya nak, hati-hati." ucap Ralin.
Jev dan Lisna pun menghampiri mobil nya lalu masuk dan menunggu Baron di dalam mobil.
"Sayang, aku pulang ya? Besok kamu persiapkan semua persyaratan untuk menikah." ucap Baron sambil menggenggam kedua tangan Ralin.
"Lo, bukan nya minggu depan mas?" tanya Ralin sambil menatap mata Baron.
"Tidak, aku sudah tidak mau menunggu lama lagi, jadi besok kalau sudah lengkap lusa nya kita menikah." ucap Baron dengan jelas.
"Tapi kita belum bicarakan ini dengan anak-anak mas."
"Mereka pasti akan menyetujui nya, aku titip Sandra, kalau ada apa-apa kamu hubungi aku secepat nya." ucap Baron lalu mencium kening, pipi dan di akhiri dengan ciuman di bibir Ralin.
"Memang nya aku ngga ya? Kamu juga ingin melakukan nya ya? Sini." ucap Jev.
"Mau mu kak, sudah ah ayo pulang sudah malam, besok kan kita sudah mulai kerja lagi." ucap Lisna.
"Bentar aku panggil ayah dulu."
Jev pun membuka kaca mobil bagian depan lalu membunyikan klakson.
"Yah, ayo pulang besok lanjut lagi mesra-mesraan nya." teriak Jev.
Baron dan Ralin yang sedang terlena dalam cumbuan nya pun langsung melepaskan cumbuan nya dan menjauhkan wajah mereka.
"Sudah cukup mas, Jev sudah memanggil."
"Baiklah aku pulang, tidur yang nyenyak ya." ucap Baron sambil mengusap bibir Ralin yang sedikit basah karena ulah nya.
Ralin hanya tersenyum sambil mengangguk kan kepalanya, Baron pun berjalan menghampiri mobil nya lalu masuk dan duduk di kursi belakang.
__ADS_1
"Kalau aku ngga panggil kayak nya ayah sampai pagi berdiiri di sana sama mamah." ucap Jev sambil melajukan mobil nya.
"Kamu juga pasti seperti itu, iya kan Lis?" tanya Baron pada Lisna.
Lisna yang ditanya seperti itu hanya tersenyum, sungguh dia malu kalau harus membahas soal kemesraan kepada calon mertua nya itu.
"Sudah yah jangan nanya masalah begitu sama Lisna, dia ngga akan menjawab nya karena malu." ucap Jev sambil melirik Lisna.
"Oh ya nak, dua hari lagi ayah akan menikahi mamah kamu, apa kamu setuju pernikahan ayah di percepat?" tanya Baron dengan serius.
"Aku sih setuju-setuju saja yah, kan kalau ayah sudah menikahi mamah lagi, selanjutnya ayah nikah kan aku sama Lisna ya?"
"Itu sudah pasti nak, asal Lisna nya sendiri mau menikah dengan kamu."
"Ya pasti mau dong yah, iya kan sayang?" tanya Jev pada Lisna.
"Nanti kita bahas lagi ya kak, sekarang tolong berhenti di sini, karena aku sudah sampai." ucap Lisna sambil tersenyum manis.
Sungguh Lisna ingin segera keluar dari mobil nya Baron, dia sangat malu membahas semua nya di depan Baron.
"Cepat banget sih sampai nya." gumam Jev yang merasa ngga rela pisah dengan Lisna.
"Yah, mampir dulu." ajak Lisna.
"Nanti saja kalau kita melamar kamu, sekarang sudah terlalu malam, jadi kamu istirahat saja." jawab Baron.
"Ya sudah kalau begitu aku turun ya, mari kak, yah." Lisna pun keluar dari mobil nya Baron.
"Langsung masuk dan tidur ya yang, jangan main ponsel." teriak Jev.
"Iya kak." Lisna pun masuk ke dalam kontrakan nya.
Dirasa Lisna sudah masuk dan mengunci pintu nya, Jev pun kembali melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang.
"Ayah sungguh bahagia bisa bertemu kalian semua, serasa ayah hidup kembali." ucap Baron yang kini sudah berpindah tempat duduk menjadi di samping Jev.
"Memang nya kemarin ayah ngga hidup?" tanya Jev sedikit bercanda.
"Kemarin ayah hidup dan bernafas, tapi hati ayah yang mati." jawab Baron sambil tersenyum.
"Terima kasih Tuhan, engkau telah menjawab do*a ku, walapun hanya satu do*a ayah yang belum dikabulkan oleh Tuhan."
__ADS_1
"Apa itu yah?" tanya Jev penasaran, sebenar nya Jev ingin tahu banyak tentang keluarga Baron, tapi ini bukan waktu yang tepat.
"Ayah belum bertemu dengan anak kandung ayah." jawab Jev.