Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Memaafkan


__ADS_3

"Akhir nya ayah besok bersatu lagi dengan mamah." ucap Jev yang kini sedang duduk berdua dengan Baron sambil nunggu Jay yang sedang mengambil jas nya.


"Iya nak, ayah sangat bahagia sekali bisa kembali bersatu dengan orang yang ayah cintai selama ini."


"Katanya bahagia, tapi kok muka ayah seperti nya lagi bersedih gitu?' tanya Jev dengan heran.


"Ayah memang bahagia bisa kembali bersatu dengan mamah kamu, tapi di hati kecil ayah masih kepikiran dengan anak kandung ayah, ayah ngga tahu lagi harus mencari nya kemana, andai saja saat ini dia juga berada di dekat kami, kami berdua sangat bahagia sekali."


"Sabar yah, aku yakin suatu saat nanti anak kandung ayah akan berkumpul bersama kita, aku janji aku akan membantu mencari nya, tapi kalau boleh tahu ada ciri-ciri apa pada anak ayah itu, biar kita mencari nya mudah."


"Mamah kamu pernah bilang, kalau anak kita itu ada sebuah tan."


"Malam bos, ini jas buat anda kenakan buat besok." ucap Jay yang membuat Baron menghentikan kalimat nya.


"Mana sini saya lihat." ucap Baron sambil mengambil tas yang di berikan Jay.


Baron pun membuka tas dan mengeluarkan isinya, tampak di setiap bungkusan baju itu sebuah nama yang di tulis oleh Ralin.


"Wah ternyata kita semua kebagian, ini buat om, dan ini buat bu Murni." ucap Jev sambil memberikan nya kepada Jay.


"Kalau begitu saya permisi mau memberikan baju ini pada Murni." Jay pun pergi ke belakang menghampiri bu Murni.


Jev membuka jas untuk dirinya lalu memakai nya di depan Baron.


"Yah lihat, seperti nya mamah sudah mempersiapkan semua nya, sampai-sampai jas ini bisa pas di tubuh ku, padahal aku ngga di ukur lo, mamah memang keren."


"Begitulah dia, hanya melihat postur tubuh seseorang, dia akan tahu ukuran baju orang itu, butik itu salah satu cita-cita nya dari dulu."


"Ayo dong yah di coba, siapa tahu punya ayah kebesaran atau kekecilan." goda Jev.


"Ayah percaya sama mamah kamu, nanti saja ayah coba di kamar, ya sudah kita istirahat besok takut kesiangan." ucap Baron lalu pergi dan masuk ke kamar nya.

__ADS_1


"Bilang saja mau pacaran dulu sama mamah, selama aku mengenal ayah, baru kali ini ayah ngajak tidur di jam segini, ya sudah lah kalau gitu aku juga mau pacaran dulu sama Lisna." gumam Jev lalu pergi ke kamar nya.


Baron tersenyum sambil menatap Jas yang masih di bungkus rapih, terlihat ada tulisan namanya, Baron pun mengambil tulisan itu dan ternyata di balik tulisan nama nya, ada sebuah kalimat buat dirinya.


"Mas pasti lebih tampan besok dengan memakai jas ini, sampai jumpa besok mas, see you😘." itulah kalimat yang Ralin tulis dan tidak lupa Ralin menyertakan emot cium di akhir kalimat nya membuat Baron tersenyum bahagia.


Ralin sudah sepakat dengan Baron kalau malam ini tidak boleh ada yang menghubungi nya lewat telepon.


Baron tersenyum setelah membaca tulisan itu , "Aku sudah ngga sabar ingin segera besok sayang." gumam Baron lalu merebahkan tubuh nya di atas kasur king size nya.


*


*


"Siapa yang bertamu? Apa Jay balik lagi?'" gumam Ralin lalu kembali ke luar kamar dan ingin menghampiri Sandra yang masih berada di bawah.


Ralin sangat kaget ketika melihat Sandra sedang berbicara dengan Ken, dengan secara perlahan Ralin turun dan melihat Sandra di balik tembok.


Ralin terus memasang telinga nya untuk mendengar semua percakapan kedua nya.


"Benar kan dugaan ku, kalau Ken mencintai Sandra, ayolah nak terima Ken." gumam bathin Ralin.


Sementara Ken masih berlutut dan terus meyakinkan Sandra untuk menerima permintaan maaf dari nya.


"Sudahlah tuan, sekarang anda berdiri dan silahkan pulang, ini sudah malam dan saya akan beristirahat." ucap Sandra.


"Saya tidak akan pergi dan tidak akan berdiri dari sini sebelum kamu memaafkan saya." ucap Ken dengan jelas, Ken tidak mau usaha nya sia-sia, jadi walaupun harus semalaman dirinya berlutut dan mungkin kaki nya akan keram, Ken akan menahan nya dan tidak akan berdiri sama sekali.


"Dasar keras kepala, ya sudah jagain butik nya, aku mau istirahat." ucap Sandra sambil membalikan tubuh nya.


"Bangun dong, nanti kamu pegel kaki nya." gumam bathin Sandra, bagaimana pun Sandra punya rasa kasihan kepada Ken.

__ADS_1


"Jika memang ini hukuman yang kamu berikan, aku akan melakukan nya." ucap Ken.


"Tuan jangan gila, kalau tuan semalaman duduk bersimpuh seperti itu kaki tuan akan keram dan sakit."


"Ya aku sudah gila, aku sudah gila gara-gara kamu, semenjak kamu mengambil cuti dari situlah aku mulai merasakan perasaan ini, aku menyayangi dan mencintai kamu, sekali lagi aku katakan Aku sangat Mencintai Kamu."


Jelas terdengar oleh telinga Sandra membuat hati Sandra sedikit terenyuh.


"Apa benar semua yang diucapkan tuan Ken, atau ini hanya sandiwara nya saja."


"Nak, kamu harus menjaga adik kamu, dan kamu harus memberikan maaf dikala orang yang sudah berbuat kesalahan meminta nya, Allah saja maha pemaaf." kembali terngiang pesan-pesan ibu nya Jev sebelum dia meninggal.


"Baiklah, aku sudah memaafkan nya tuan, tapi sekarang tolong tuan berdiri." ucap Sandra sambil menatap Ken.


"Kalau kamu benar-benar sudah memaafkan aku, tolong kamu terima bunga ini sebagai tanda maaf aku sama kamu."


Sandra pun mengambil bunga dari tangan nya Ken.


"Bunga nya sudah aku ambil, sekarang tolong tuan untuk berdiri, saya ngga mau bu Adriana menyalahkan saya atas kaki tuan yang sakit nanti nya.


Ken pun dengan perlahan berdiri, tapi karena terlalu lama Ken bersimpuh kaki Ken merasa kan keram dan sakit hingga membuat tubuh Ken tersungkur ke arah depan.


Sandra yang tepat berada di depan Ken pun kaget dan spontan menahan Ken dengan sebelah tangan nya, karena tangan yang sebelah nya sedang memegang bunga pemberian dari Ken.


Mata Ken dan mata Sandra pun bertemu, mata Ken yang penuh dengan cinta menatap Sandra tanpa berkedip.


Sedangkan Sandra yang merasa terhipnotis oleh pandangan Ken pun terus menatap nya tanpa mau melepaskan tangan nya dari dada Ken.


"Cantik sekali, ingin sekali aku merasakan kembali bibir kamu, tahan Ken, jangan buat dia marah kembali."


"Apa benar kamu mencintai aku tuan? Apa kamu cuma ingin mempermainkan aku saja."

__ADS_1


Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing tanpa melepaskan pegangan nya.Ralin pun tersenyum lebar di balik tembok.


__ADS_2