
Ken dan Sandra menuju ruang makan sambil bergandengan tangan, sinaran wajah mereka yang menyiratkan bahagia terus memancar di wajah kedua nya.
"Kok sepi ya mas? Apa pada belum bangun ya?" tanya Sandra sambil melihat ke sekeliling rumah nya.
"Ngga tahu Yang, kita tanya bu Murni saja lah." Ken pun mencari sosok bu Murni.
"Kalian baru bangun." teriak Ralin yang baru keluar dari kamar nya.
"Mamah? Sudah rapih begitu mau kemana mah?" tanya Ralin sambil menatap penampilan Ralin dari atas sampai bawah.
"Mamah mau ke rumah sakit lagi, kalian pada mau ikut ngga ?" ucap Ralin.
"Siapa yang sakit mah?" tanya Sandra penasaran.
"Kakak ipar kamu sudah melahirkan nak tadi subuh." jawab Ralin.
"Apa! Kok aku ngga di kasih tahu sih mah."
"Kita semalam ngga ingat sayang, soalnya begitu kakak kamu mau melahirkan kita langsung membawa nya, dan juga kamu sudah tidur mamah teleponin juga ngga tersambung." ucap Ralin.
"Terus bayi nya laki-laki apa perempuan mah?" tanya Sandra.
"Bayi nya perempuan sayang, cantik sekali."
"Mas, kita ke rumah sakit ya? Aku ingin melihat keponakan aku." ucap Sandra dengan nada manja nya.
"Iya kita ke rumah sakit sekarang, mamah kesana lagi sama siapa?" tanya Ken sambil menyantap sarapan nya.
"Sama Jay, mamah tadi balik ke rumah dulu karena ingin mandi dan mau bawa sarapan serta baju ganti buat mereka."
"Bu, ini makanan nya." ucap bu Murni sambil menyimpan tuferware yang sudah di susun nya.
"Makasih bu, bilangin ke Jay untuk siap-siap ke rumah sakit lagi." ucap Ralin sambil mengambil makanan nya.
*
__ADS_1
*
Kini mereka sudah ada di dalam perjalanan ke rumah sakit, terlihat Sandra duduk di samping Ken dengan gelisah.
"Kamu kenapa Yang?" tanya Ken sambil terus fokus melajukan mobil nya.
"Mas perut dan pinggang aku sakit." jawab Sandra sambil terus mengelus perut dan punggung nya.
"Sakit?" Ken menghentikan mobil nya lalu mengambil ponsel nya dan menghubungi Ralin yang ada di depan mobil dia.
"Iya nak kenapa?" tanya Ralin sambil melihat ke arah belakang.
"Mah, perut Sandra sakit katanya." ucap Ken dengan nada khawatir nya.
"Jay, stop Sandra sakit perut katanya." teriak Ralin kepada Jay, Jay langsung menghentikan mobil nya.
"Nak mamah tunggu di depan ya? Mamah pindah mobil bersama kalian." ucap Ralin lalu memutuskan panggilan nya.
Ken pun melajukan kembali mobil nya dan berhenti tepat di depan Ralin.
Sandra di pindahkan duduk nya menjadi di belakang bersama Ralin, Ralin terus mengusap punggung Sandra.
"Tahan ya nak, adik bayi nya sudah ngga sabar ingin melihat kita." ucap Ralin.
"Sakit mah." ucap Sandra sambil menahan rasa sakit di perut nya, Ralin dengan sabar terus mengelus punggung Sandra, Ralin memberikan kenyamanan buat Sandra agar tidak terlalu merasakan sakit nya.
Ken pun berusaha untuk tenang dan fokus mengendarai mobil nya, Ralin langsung menghubungi Adriana untuk memberitahukan kondisi Sandra.
Tidak membutuhkan waktu yang lama mobil Ken pun memasuki area parkir rumah sakit, Jay yang sampai duluan langsung memanggil para suster.
"Mah, sakit mah, aduh." Semakin sakit perut yang Sandra rasakan, keringat sudah bercucuran dia terus mengatur nafas nya, Ken selalu ada di samping dan menggenggam erat tangan Sandra.
Ralin menghubungi Baron dan memberitahukan keadaan Sandra yang masuk rumah sakit juga karena mau melahirkan.
"Nak, ayah ke ruang bersalin dulu, adik kamu mau melahirkan juga." ucap Baron sambil menyimpan ponsel nya kembali.
__ADS_1
"Apa Yah? Ya sudah kalau gitu ayah tungguin adek saja, aku nunggu Lisna di sini, kalau ada apa-apa kabarin aku." ucap Jev.
Baron pun pergi dari ruangan Lisna dengan sedikit berlari, semalam dia cemas menunggu menantu nya, tapi mendengar anak kandung nya yang akan melahirkan dia sangat cemas dan tubuh nya ikut gemetar.
Anak yang dulu ia buang sewaktu masih bayi dan merah, kini sudah mau memberikan nya bayi, tanpa terasa air mata Baron menetes, sambil berjalan menuju ruang bersalin Baron terus menghapus air mata nya yang tak kunjung berhenti mengalir.
"Mas, kalau mas mau ikut menunggu adek lahiran pergi saja, aku di sini saja ngga apa-apa." ucap Lisna sambil tersenyum.
"Ngga sayang, di sana ada ayah dan mamah juga Ken pasti nya, aku di sini saja nungguin kamu." ucap Jev lalu mencium kening LIsna.
Lisna sangat bersyukur sekali mendapatkan suami seperti Jev yang sangat menyayangi dan mencintai nya.
Baron melihat Ralin sedang berdiri di depan ruang bersalin dengan Jay, "Sayang." panggil Baron dengan suara gemetar nya.
"Mas." Ralin memeluk Baron, mereka berdua kini menangis sambil berpelukan, mereka ngga menyangka akan ada di posisi sekarang, semalam mereka berdua memang menunggu Lisna tapi untuk Sandra, mereka merasa sangat berbeda sekali.
Bayi yang terpisah semenjak bayi, kini sedang berjuang di dalam ruangan untuk menghadirkan keturunan buat mereka.
Sedangkan di dalam ruangan Sandra sedang menaruhkan nyawa nya untuk si buah hati, Ken yang sedang mendampingi Sandra ikut merasakan kesakitan di kala Sandra menahan sakit nya sambil menjambak, mencubit, memukul dan mencengkeram tubuh Ken.
Penampilan Ken sudah tidak seperti pas berangkat lagi, baju dan rambut Ken sudah acak-acak kan,
"Sabar sayang, i love u." bisik Ken sambil terus mencium Sandra.
Ken tidak perduli dengan penampilan nya, Ken tidak perduli dengan tubuh nya yang sudah biru dan kulit tangan nya yang mengeluarkan sedikit darah, yang dia pikirkan hanya Sandra dan bayi nya.
Begitu mendengar kabar dari Ralin, Adriana langsung pergi ke rumah sakit dan sekarang dirinya sudah bersama dengan Ralin dan Baron, suami nya pak Anthoni belum bisa ikut dengan Adriana karena ada kerjaan mendadak di kantor nya.
"Lin, bagaimana dengan Sandra? Apa sudah melahirkan?" tanya Adriana sambil menghampiri Ralin dan Baron.
"Na, Sandra masih di dalam." Ralin memeluk erat Adriana.
Mereka semua menunggu dengan perasaan yang tidak menentu, Baron yang berjalan kesana kemari seperti setrikaan, Ralin dan Adriana yang saling menggenggam tangan dengan wajah gelisah nya membuat Jay ikut-ikutan gelisah.
Di dalam Sandra terus berjuang demi menghadirkan buah hati nya bersama Ken, dan Ken yang selalu setia dan siaga di samping Sandra serta support dan semangat yang selalu Ken berikan membuat Sandra semakin semangat untuk menghadirkan buah hati nya.
__ADS_1