
"Dek, ini ponsel buat adek." Jev memberikan ponsel yang di beli Baron khusus untuk Sandra.
"Aku ngga mau terima, karena itu pasti dia yang beli." jawab Sandra tanpa melirik nya.
Baron hanya bisa diam mendengar jawaban ketus dari Sandra, Sandra sudah ngga mau menyapa nya dan tidak mau menerima apapun dari nya.
"Bahkan kamu ngga mau menerima pemberian ayah nak, berapa lama kamu akan menghukum ayah nak, rasanya ayah ngga sanggup melihat kamu seperti ini sama ayah." gumam bathin Baron dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ralin dan Adriana saling menatap bingung, Adriana merasa canggung dengan keadaan ini dan dia memutuskan untuk kembali pulang.
"Lin, kalau begitu aku pulang dulu nanti aku kesini lagi sama mas Anthoni, kamu cepat pulih ya sayang, jangan lupa banyak istirahat dan makan yang banyak, buah-buahan yang mamah beli harus kamu habiskan ya?" ucap Adriana sambil mengelus lembut rambut Sandra.
"Iya mah, makasih ya."
"Makasih ya Na."
Adriana hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu dirinya menghampiri Baron yang sedang duduk di sofa.
"Mas yang sabar, suatu saat juga hati Sandra akan luluh." ucap Adriana pelan.
"Iya Na, makasih ya." jawab Baron dengan suara lemah nya.
Hilang sudah wajah ceria Baron yang kemarin, hilang sudah wajah sangar Baron ketika dia marah, sekarang yang ada wajah Baron yang sedih dan tidak bersemangat.
Adriana pun meninggalkan ruangan Sandra setelah dirinya pamit kepada semua orang.
"Dek, ini ponsel abang yang belikan khusus buat adek." Jev sengaja bilang kalau dirinya yang membelikan ponsel nya, karena sampai kapan pun Sandra pasti ngga bakal mau menerima.
"Maafkan aku ayah, aku terpaksa melakukan ini, agar adek mau menerima ponsel yang ayah belikan." gumam bathin Jev.
"Ngga percaya."
"Benar sayang, tadi abang minta izin sama mamah keluar untuk membeli ponsel buat adek." Ralin pun mengikuti drama Jev.
__ADS_1
Jev memberikan ponsel nya yang sudah dia kasih sim card dan menyalakan nya, Sandra melirik ke arah ponsel.
"Ngga mungkin abang yang beli, ini ponsel mahal, abang punya uang darimana?"
"Dari mamah sebagian, dan mamah yang mengusulkan abang beli ponsel ini." Ralin meyakinkan Sandra.
"Ya intinya ini pakai uang abang dan mamah, tapi banyakan uang mamah dibanding uang abang nya." ucap Jev sambil tersenyum.
"Ya kan uang abang bisa di pakai buat yang lain nya, misalkan buat beli mas kawin nanti dikala abang dan Lisna sudah siap untuk menikah."
Ralin dan Jev sangat baik dan rapih memainkan drama di depan Sandra, padahal tidak ada kesepakatan diantara mereka berdua, tapi Ralin dan Jev ingin semuanya bahagia, walaupun pasti akan sedikit sulit membujuk Sandra, Jev ngga menyalahkan sikap Sandra yang sekarang kepada ayah nya, karena Jev merasakan apa yang di rasakan oleh Sandra, dari bayi dia menjaga nya segala keluh kesah Sandra cerita kan, jadi Jev tahu perasaan Sandra saat ini.
"Maafkan aku mas, bukan aku mengabaikan kamu, tapi ini demi kita semua nya, aku ingin Sandra secepat nya memaafkan kamu dan kita akan bahagia selama nya." gumam bathin Ralin sambil melihat ke arah Baron yang sedang bersedih.
Baron tanpa sengaja melirik ke arah Ralin, mata mereka bertemu, Baron tersenyum dan mengangguk seakan-akan dia tahu isi hati Ralin.
Beneran mah?" Sandra masih belum yakin dengan yang mereka ucapkan berdua.
"Jangan sampai kamu menanyakan hal ini pada Adriana, karena aku takut Adriana bilang semua nya." Ralin sedikit takut, karena Adriana belum di kasih tahu masalah ini, yang Adriana tahu ponsel itu Baron yang membelikan nya.
"Iya deh aku percaya, mah aku minta tolong lagi dong?" ucap Sandra sambil mengambil ponsel dari tangan Jev.
"Apa sayang? Kamu mau ke kamar mandi?" tanya Ralin.
"Aku pinjem uang." jawab Sandra sambil sedikit menunduk.
"Uang buat apa sayang? kamu memang nya mau beli apa? Bilang saja sama mamah nanti mamah belikan."
"Aku mau bayar ponsel dia yang kemarin dia kasih."
Sungguh Baron sudah ngga kuat lagi mendengar semua ucapan dari Sandra, Sandra benar-benar ngga menerima dirinya.
"Iya sayang, nanti mamah bayarin semua nya." Ralin sangat sedih karena Sandra tidak menganggap Baron sebagai ayah nya.
__ADS_1
"Mamah jangan bohong, aku ngga suka, aku ngga mau menerima apapun dari dia."
"Mamah ngga bohong, nanti bukti tf nya mamah kasih lihat ke kamu."
Ada sedikit rasa kesal di hati Jev melihat tingkah adik nya, tapi Jev tidak bisa apa-apa, karena kondisi Sandra juga yang belum stabil.
Karena Baron merasa ngga di harapkan kehadiran nya, Baron pun pergi dan keluar dari ruangan, Jev yang melihat ayah angkat nya keluar pun mengikuti nya dari belakang.
Ralin sangat sedih melihat Baron yang pergi dari ruangan Sandra, ingin sekali dirinya mencegah Baron, tapi apalah daya, dia juga ngga mau ikut di benci oleh anak yang baru dia temukan.
"Mah, abang keluar dulu." pamit Jev sambil memberi kode kepada Ralin.
Ralin yang mengerti dengan kode Jev hanya mengangguk dan tidak banyak bertanya lagi.
"Abang mau kemana?" tanya Sandra.
"Mau beli cemilan dek, adek mau titip?"
"Beli cemilan yang adek suka aja ya bang."
"Oke adek sayang."
Jev pun pergi dengan langkah sedikit cepat, dirinya ingin menyusul sang ayah yang entah pergi kemana.
Jev sedikit berlari sambil terus melihat ke sekitar lorong rumah sakit mencari ayah nya hingga Jev berada di taman rumah sakit.
Terlihat seorang pria paruh baya yang sedang duduk sambil menangis, Jev menghampiri nya lalu menyentuh bahu Baron dan berkata.
"Yah, yang sabar ya, maafkan sikap adek yang sekarang, mungkin adek masih belum bisa menerima ayah karena dirinya masih merasa tidak diinginkan oleh ayah, tapi abang yakin lambat laun adek akan mengerti dan menerima ayah sebagai ayah kandung nya, abang yakin dalam hati adek juga dia ingin menerima dan memeluk ayah, tapi emosi dan amarah adek sedang menguasai jiwa adek."
"Nak." hanya itu yang keluar dari bibir Baron, dia sudah ngga bisa mengucapkan apa-apa lagi dan langsung memeluk erat tubuh Jev, Baron menangis dalam pelukan Jev, Baron tidak malu walaupun seluruh penghuni rumah sakit melihat nya, Baron hanya ingin meluapkan semua kesedihan nya, Jev pun ikut menitikkan air mata nya melihat Baron rapuh seperti ini.
Tidak ada lagi Baron yang kejam dan sangar, yang ada sekarang Baron yang lemah dan rapuh, dia belum pernah merasakan hancur nya perasan seperti sekarang, bahkan waktu ditinggal Ralin dulu saja tidak terlalu rapuh seperti sekarang, tapi tidak dianggap oleh anak kandung yang dia cari selama ini, membuat nya hancur berkeping-keping.
__ADS_1