Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Khawatir


__ADS_3

"Prang." suara gelas yang jatuh tiba-tiba dari tangan Ralin membuat Baron kaget dan langsung menghampiri nya.


"Kamu ngga apa-apa kan sayang." ucap Baron sambil memegang tangan Ralin.


"Ngga apa-apa mas, tapi aku barusan teringat Sandra dan gelas yang aku pegang tiba-tiba jatuh, mas, kenapa perasaan aku ngga enak begini ya?" ucap Ralin dengan wajah khawatir nya.


"Kamu tenang ya sayang, sekarang kamu duduk dulu, pecahan beling nya biar nanti pelayan hotel yang bersihkan." Baron pun mengajak Ralin untuk duduk lalu menghubungi pelayan hotel untuk membersihkan pecahan gelas nya.


"Mas, tolong ambilkan ponsel, aku mau menghubungi Sandra, entah kenapa perasaan aku ngga enak banget dan juga teringat dia terus." ucap Sandra.


Sandra pun terus menghubungi no Sandra, tapi sayang no nya tidak bisa di hubungi.


"Ngga diangkat juga ya sayang?" tanya Baron yang melihat wajah khawatir istri nya.


"Ngga mas, tumben banget ngga aktif, biasanya kalau dia mau mematikan ponsel nya selalu bilang aku dulu, dan biasanya juga jam segini dia belum tidur."


"Coba kamu hubungi no Lisna, barangkali mereka lagi di luar, terus ponsel Sandra kehabisan batre."


"Benar juga ya mas, kenapa aku ngga kepikiran ke sana? Lisna kan selalu tidur bareng Sandra." Ralin pun langsung menghubungi no Lisna.


Ralin pun kembali kecewa dan lebih khawatir ketika ponsel Lisna pun sama seperti ponsel Sandra yang ngga bisa dihubungi.


"Mas, mereka berdua ngga bisa di hubungi, gimana ini mas?"


"Kalau begitu sekarang hubungi no Jev, barangkali Jev sudah pulang dari textile."


Ralin pun langsung mencari kontak Jev dan menghubungi nya.


*


*


"Kenapa butik nya masih buka?" gumam bathin Jev lalu turun dari mobil nya.


Jev pun masuk sambil terus melihat keadaan butik.


"Adek, sayang, kalian dimana?" Jev terus memanggil-manggil adik dan kekasih nya.


"Ceroboh sekali, pintu terbuka kalian tidak ada di tempat." Jev terus memanggil dan mencari di setiap sudut rumah.


"Ternyata bang Jev sudah pulang." gumam Ken sambil turun dari mobil, tidak lupa dia membawa makanan dan bunga untuk meluluhkan hati Sandra yang sedang marah kepada nya.


"Assalamualaikum? Kalian pada di mana?" teriak Ken sambil melihat ke sekeliling butik.


"Hai Ken, Sandra nya mana?" tanya Jev sambil melihat ke arah pintu dengan wajah yang khawatir dan berharap kalau Sandra bersama Ken.

__ADS_1


"Bukan nya Sandra ada di sini? Tadi siang sempat sama aku keluar cari makan, tapi sudah balik lagi kesini kok, bahkan aku melihat dia sampai benar-benar masuk ke dalam." jawab Ken yang mulai ikut khawatir.


"Kemana mereka, tadi pas aku datang pintu terbuka dan mereka ngga ada di dalam." gumam Jev lalu mengusap wajah nya dengan kasar.


"Kamu sudah menghubungi nya?" tanya Ken sambil mencari kontak Sandra.


"Sudah berkali-kali aku menghubungi no mereka berdua, tapi ponsel mereka seperti nya mati."


Selagi mereka di buat khawatir dan bingung dengan kehilangan Sandra dan Lisna, ponsel Jev pun berdering membuat nya kaget dan langsung menerima panggilan tersebut tanpa melihat layar.


"Kamu dimana dek? Dari tadi abang mencari kamu." ucap Jev yang tanpa bertanya dulu siapa yang menghubungi nya.


"Nak, ini mamah? kamu lagi mencari adik kamu?" ucap Ralin di seberang telepon.


"Mamah, maaf mah, aku kira adek yang telepon."


"Memang nya adik kamu ngga ada di butik?" tanya Ralin makin khawatir.


"Tadi pas abang pulang pintu terbuka dan mereka ngga ada di tempat, ini juga lagi mencari mereka."


"Apa! Nak, kamu masuk ke kamar mamah sekarang." teriak Ralin.


"Tapi mah, aku ngga berani masuk kamar mamah."


"Berarti kamu belum mencari Sandra di kamar mamah?"


"Tadi cuma di panggil-panggil dan di ketuk pintu kamar nya, tapi ngga ada siapa-siapa.


"Sekarang kamu masuk, mamah izinkan kamu masuk kamar mamah, cepat."


"Baik mah." Jev pun langsung berlari ke atas di ikuti Ken dari belakang.


"Adek ngga ada di butik?" tanya Baron.


"Iya mas, ini Jev juga lagi mencari nya."


"Mah, halo." teriak Jev mengagetkan Ralin.


"Iya nak, gimana ada ngga adek di kamar mamah?"


"Ngga ada mah, kamar nya kosong dan masih rapih."


"Kalau begitu kamu cek cctv, remot nya ada di dinding di samping televisi."


"Oke mah."

__ADS_1


Jev pun langsung menyalakan dan memutar rekaman cctv hari ini.


"Bang cek dari pas makan siang saja." ucap Ken sambil terus menatap layar di depan nya.


"Gimana bang?" tanya Ralin yang benar-benar khawatir dengan keadaan Sandra.


"Sebentar mah, aku lagi cek ini."


Jev dan Ken begitu teliti memutar rekaman cctv, hingga akhir nya mereka melihat ada seorang wanita yaitu Miranda keluar dari butik terus menghampiri mobil yang terparkir di depan.


"Tidak ada yang aneh." gumam Jev.


"Kamu putar terus sampai jam pulang Reni."


Jev pun kembali memutar dengan secara perlahan karena takut ada yang terlewati.


"Sampai Reni pulang, mobil itu masih parkir di situ, coba percepat sedikit rekaman nya." ucap Ken.


Jev pun mempercepat rekaman cctv nya dan nampak lah dua orang pria yang turun dari mobil berwarna hitam tersebut masuk ke dalam butik.


Jev dan Ken melihat Lisna dan Sandra di bawa oleh kedua pria tersebut dalam keadaan tidak sadar.


"Bajingan, mau main-main dengan aku rupanya." teriak Jev.


Jev lupa kalau ponsel nya belum Ralin matikan.


"Ada apa nak?' apa sudah terjadi sesuatu?" teriak Baron dan Ralin.


Raln sengaja mengloud speaker ponsel nya biar Baron sang suami ikut mendengar apa yang di sampaikan Jev.


"Ada dua orang yang membawa adek dan Lisna yah."


"Apa! Sandra, mas, Sandra mas." teriak Ralin sambil menangis.


"Sabar sayang, kita akan mencari nya." Baron pun memeluk Ralin dan menenangkan nya.


"Jev, tolong zoom kedua orang itu, ayah akan langsung pulang malam ini juga."


Jev pun memperbesar gambar nya, dan betapa kaget nya Jev, ternyata yang membawa adik nya adalah Bobi alias Black.


"Bobi, bajingan kamu, kalau sampai terjadi sesuatu sama mereka berdua, aku akan membunuh kamu." teriak Jev


"Apa! Jadi yang membawa adek adalah orang yang sama yang waktu itu membuat adek jatuh pingsan? ayah dan mamah pulang sekarang." ucap Baron lalu memutuskan panggilan nya.


"Sayang kita pulang sekarang, adek dalam bahaya." Baron tahu Sandra bisa beladiri, tapi Bobi bukan lah lawan yang sepadan buat Sandra.

__ADS_1


__ADS_2