
Ken, Ralin dan Adriana pun kembali dengan tangan dan harapan yang kosong, sepanjang perjalanan mereka hanya bisa diam dan di sibukan dengan pikiran mereka masing-masing.
"Kamu kemana sih San, aku butuh kamu, kenapa kamu malah pindah?" gumam bathin Ken.
"Kamu dimana nak, walaupun tante baru beberapa kali mengenal kamu dan kamu bukan lah siapa-siapa nya tante, tapi tante merasakan kamu itu spesial buat tante, tante kangen kamu nak." gumam bathin Ralin.
"Mereka berdua pasti lagi kecewa karena ngga bisa bertemu dengan Sandra." gumam bathin Adriana sambil melirik ke arah Ralin dan Ken.
"Kalian mau mampir ke cafe dulu ngga?" tanya Adriana.
"Ngga." jawab Ken dan Ralin secara bersamaan.
"Wah, kompak kalian, apa ini efek dari tidak bertemu nya dengan Sandra hingga kalian seperti ini?"
Ralin dan Ken pun hanya bisa diam tak mau menjawab pertanyaan dari Adriana.
"Ya sudah pak antar kita pulang ke rumah saja." ucap Adriana, pak Sopir pun hanya mengangguk lalu melajukan kendaraan nya ke arah kediaman pak Anthoni.
*
*
Jev mulai di sibuk kan dengan kerjaan baru nya mengelola textile ayah angkat nya, dia begitu gigih untuk menguasai semuanya, hingga tidak butuh waktu lama Jev pun sudah menguasai beberapa kerjaan nya.
"Siang pak Jev, besok ada pertemuan di jam makan siang dengan Lins Fashion." ucap Sani.
"Lins Fashion? apa itu klien lama atau klien baru?" tanya Jev.
"Itu klien baru, dia memesan banyak bahan dan dia ingin bekerja sama ke depan nya dengan tektile kita." jawab Sani.
"Baiklah, besok kamu ingat kan saya lagi, dan kamu ikut saya ke pertemuan itu ya? soal nya saya belum paham, jadi tolong bantu saya." ucap Jev.
"Baik pak, kalau begitu saya permisi." ucap Sani lalu pergi dari hadapan Jev.
__ADS_1
"Kamu pasti bisa Jev, kamu harus yakin kamu bisa, kamu harus bisa mengemban tugas yang di berikan oleh ayah, aku tidak akan mengecewakan ayah yang sudah menolong aku dan Sandra." gumam Jev.
*
*
Sepulang dari rumah Sandra Ralin langsung menuju butik nya, terlihat Ralin yang begitu tidak bersemangat masuk ke ruangan nya dan duduk di kursi kerja nya.
"Permisi bu, maaf saya mengganggu." ucap Lisna sambil mengetuk pintu kerja Ralin yang terbuka.
"Ya masuk saja Lis." ucap Ralin sambil melihat ke arah Lisna yang sedang berdiri di depan pintu.
"Maaf bu, saya hanya mau mengingatkan kalau Barlin Textile tadi menghubungi dan mereka siap untuk bertemu ibu besok siang pada jam makan siang." ucap Lisna.
"Benarkah? baik kalau begitu besok pagi ingatkan saya lagi, dan siapa yang akan menemani saya besok?" tanya Ralin.
"Seperti nya yang menemani ibu besok saya, karena Reni lagi sibuk untuk menyelesaikan pesanan yang akan segera diambil sore hari nya." jawab Lisna.
"Baik bu, kalau begitu saya kembali bekerja, permisi." ucap Lisna lalu pergi meninggalkan Ralin.
"Belum juga perasaan ku merasa dekat dengan Sandra, entah kenapa aku ini sekarang jatuh cinta pada Barlin Tektile dan sangat penasaran sekali sama pemilik nya, perasaan macam apa ini? ayolah Ralin kamu itu bukan siapa-siapa mereka, kamu itu ngga ada hubungan sama mereka, sekarang kamu fokus kerja kembali, tingkatkan lagi butik kamu." gumam Ralin sambil berdiri lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka nya dan menyadarkan dirinya dari berbagai lamunan.
"Bekerja pun belum bisa fokus, lebih baik aku pergi ke mall membeli semua kebutuhan ku." gumam Ralin sambil meraih tas dan kunci mobil nya.
Sedangkan Baron kini sudah kembali ke rumah nya, dia akan mengajak Sandra untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari.
"Nak, kamu lagi apa?" tanya Baron yang baru masuk dan melihat Sandra lagi duduk di ruang keluarga.
"Eh, ayah sudah pulang? Sandra lagi diam saja yah, Sandra bosan dari pagi diam saja." jawab Sandra sambil merapihkan duduk nya.
"Kamu bosan ya nak? kalau gitu gimana kalau kita pergi ke mall, kita belanja kebutuhan sehari-hari, kita penuhin tuh kulkas, biar kamu bisa masak, bisa buat kue atau cemilan apapun." ajak Baron sambil tersenyum.
"Sekarang yah?" tanya Sandra.
__ADS_1
"Tahun depan, ya iya sekarang dong sayang."
"Baiklah ayah sayang, kalau gitu Sandra ganti baju dulu ya." ucap Sandra sambil berdiri.
"Iya, ayah tunggu di sini ya nak."
"Terimakasih ya Allah, walaupun aku belum di pertemukan dengan istri dan ankku, tapi aku sangat bahagia sekali dengan kehadiran Sandra, aku berjanji jika seandainya suatu saat aku dipertemukan dengan istri dan anakku, aku akan tetap menyayangi Sandra dan menganggap kalau Sandra itu anak ku sendiri." gumam bathin Baron sambil menatap Sandra yang pergi ke kamar nya.
"Ayo ayah aku sudah siap." teriak Sandra yang baru keluar dari kamar nya.
"Wah anak ayah cantik sekali, harus di jaga ketat, takut ada lelaki hidung belang."
"Kalau hidung belang berarti saudara nya Zebra dong ayah."
"Ha,ha,ha kamu bisa saja nak, ya sudah ayo kita berangkat sekarang." ajak Baron sambil berdiri dari duduk nya.
"Ayah yang bawa mobil? kenapa ngga diantar pak sopir ayah?" tanya Sandra yang kini sudah duduk di kursi depan.
"Ayah ingin menikmati hari ini berdua sama anak ayah yang cantik ini." jawab Baron.
"Ah ayah bisa saja, jujur Sandra juga senang dan bahagia ayah sudah mau menjadi ayah Sandra, karena dari kecil Sandra belum merasakan di sayang dan di manjakan oleh seorang ayah." ucap Sandra dengan wajah sedih nya.
"Sudahlah nak jangan bersedih, sekarang kan ada ayah di samping kamu, walaupun ayah bukan ayah kandung kamu, tapi ayah akan menaganggap kamu seperti anak kandung ayah sendiri." ucap Baron sambil mengelus rambut panjang Sandra.
"Makasih ayah, ayah sudah mau menjadi ayah Sandra." jawab Sandra sambil tersenyum, Baron hanya menagngguk kecil dan mengembangkan sebuah senyuman di bibir nya.
"Oke, kita sudah sampai sekarang, baru kali ini ayah mengajak seorang wanita untuk berbelanja." ucap Baron lalu membuka pintu mobil nya.
Sandra hanya tersenyum mendengar ucapan dari Baron, Sandra turun dari mobil nya lalu berjalan masuk ke sebuah mall dengan tangan menggelayut manja ke tangan nya Baron.
Dilihat dari depan mereka terlihat jelas seperti anak dan ayah karena perpaduan wajah nya pun tidak beda jauh karena ada kemiripan diantara kedua nya, tapi kalau dilihat dari belakang mereka seperti sepasang suami istri yang romantis.
"Mas Baron." gumam Ralin yang melihat Baron melintas dihadapan nya.
__ADS_1