Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Mimpi Serasa Nyata


__ADS_3

Hamparan daun hijau membuat tempat itu asri dan sejuk, Sandra merasa nyaman berada di sana, dia memang sendirian dan hanya di temani kupu-kupu warna warni yang sangat indah di pandang mata, kupu-kupu itu terus terbang di atas kepala Sandra kadang-kadang hinggap di tangan Sandra seolah-olah mereka ingin menemani Sandra.


Terdengar suara riuh orang-orang yang Sandra kenal, tapi Sandra tidak tahu mereka ada dimana, Sandra pun mencari-cari asal suara itu, Sandra berlari kesana kemari di ikuti oleh kupu-kupu.


"Itu suara mamah, ayah dan semuanya, tapi dimana mereka?" Sandra terus mengelilingi taman tersebut, sudah beberapa putaran Sandra tetap belum bisa menemukan jalan nya.


"Aku lelah, lebih baik aku istirahat saja lah." gumam Sandra sambil duduk di bangku yang ada di taman itu, tanpa terasa Sandra pun tertidur dengan begitu lelap nya.


*


*


"Ya ampun, pada kemana ini? Sudah hampir jam makan siang ponsel Lisna dan ponsel ibu ngga bisa di hubungi, ada apa ya dengan mereka?"


Reni pun terus mondar mandir di depan butik Ralin, dari pagi dia sudah datang dan terus-terusan menghubungi no Lisna dan Ralin, tapi sampai siang dan sebentar lagi waktu nya jam makan siang no mereka berdua tidak bisa di hubungi.


"Kenapa aku ngga minta no Sandra dan yang lain nya juga ya? Kalau sudah seperti ini aku harus menghubungi siapa coba, ya sudah lah kalau gitu aku balik ke kontrakan lagi, kali aja sore nanti no nya sudah bisa di hubungi." gumam Reni lalu pergi meninggalkan butik.


Sementara di rumah sakit, Lisna dengan telaten menyuapi Jev.


"Ayo kak habiskan ya? Ini tinggal sedikit lagi." ucap Lisna sambil kembali memberikan suapan nya.


"Katanya tadi mau panggil kakak sayang, kalau kamu ngga merubah panggilan nya, aku ngga mau makan lagi." protes Jev.


Sebenar nya Lisna bukan ngga mau memanggil Jev dengan panggilan sayang, tapi dia malu karena semua yang ada di dalam ruangan seakan-akan lagi memperhatikan dirinya.


"Ya sudah sayang, ayo habiskan ya?" dengan menahan rasa malu Lisna merubah panggilan nya, Jev pun tersenyum lalu menghabiskan makanan nya.


"Nah kalau begini kan cepat puliah." ucap Lisna lalu memberikan minum.


"Dek, cepat kembali, semuanya lagi menunggu kamu." gumam bathn Jev sambil menatap sendu Sandra yang sedang berbaring di samping nya.

__ADS_1


"Sayang, lebih baik kamu mandi dulu, Lisna sudah membawakan baju untuk kamu, biar kamu kelihatan lebih fresh, kalau adek sadar dan melihat kamu seperti ini adek akan sedih." bujuk Baron.


"Iya mah, mamah lebih baik mandi dulu, tenang saja adek ngga bakalan kenapa-kenapa, adek ada di tempat aman, adek bilang tadi dalam mimpi abang, kalau sudah waktu nya adek akan pulang." ucap Jev sambil tersenyum.


"Abang tadi mimpi sama adek?" tanya Ralin.


"Iya mah." Jev pun menceritakan mimpi yang dia alami tadi bersama Sandra hingga dirinya kembali dan tersadar.


"Ya sudah kalau begitu kamu mandi saja Lin, habis mandi temani aku sebentar ke toko perhiasan." ucap Adriana.


"Aku lagi ngga mau kemana-mana Na." ucap Ralin dengan suara malas nya.


"Lin, dengarkan aku, Lisna tadi bisa membuat Jev tersadar, dan sekarang waktu nya kita untuk membuat Sandra tersadar, kita beli perhiasan buat dia dan biar Ken yang membuat dia kembali dan tersadar."


"Benar apa yang di ucapkan Adriana sayang, apa slaah nya kalau kita mencoba nya." ucap Baron.


"Tapi mas." Ralin merasa sangat berat untuk meninggalkan Sandra.


"Ralin menatap suami nya terus beralih menatap Sandra yang masih memejamkan kedua matanya.


"Baik lah mas, aku mandi dulu." sebelum Ralin masuk ke kamar mandi, Ralin menghampiri Sandra lalu mencium kening nya, "Mamah mandi dulu ya sayang." setelah pamit dan puas mencium kening Sandra, Ralin pun masuk ke dalam kamar mandi.


"Mamah" teriak Sandra, dia terbangun dari tidur nya lalu melihat ke arah sekeliling.


"Ini sungguh seperti nyata, aku barusan dicium mamah, tapi aku di sini ngga ada siapa-siapa." gumam Sandra sambil terus memikirkan mimpi nya.


Ken terus menggenggam erat tangan Sandra hingga dirinya tanpa sadar menitik kan air mata nya.


"Aku bodoh, aku ngga bisa menjaga kamu, seandainya malam itu aku ngga terlambat, mungkin kamu ngga bakalan seperti ini." Ken terus bergelut dengan pikiran nya, Ken pun terus mencium telapak tangan Sandra.


Adriana dan Baron hanya memperhatikan dari sofa, sungguh mereka merasa ikut sedih melihat Ken yang sangat terpuruk melihat Sandra yang belum sadar juga.

__ADS_1


Terdengan pintu kamar mandi terbuka, terlihat Ralin yang sudah berganti pakaian dan terlihat segar.


"Tuh kan kalau sudah mandi kamu lebih segar dan cantik." puji Baron, Ralin hanya tersenyum lalu kembali menghampiri Sandra.


"Nak, bangun sayang, lihat mamah sudah mandi dan wangi, selagi mandi mamah berharap kamu sudah sadar dan menatap mamah dengan senyuman, tapi ternyata kamu masih betah dengan tidur kamu." ucap Ralin lalu mencium kening Sandra, ngga bosen-bosen Ralin mencium kening Sandra, entah kenapa dia merasa ngga mau kehilangan Sandra padahal Sandra hanya anak angkat saja.


"Ya sudah LI, ayo kita pergi." ajak Adriana, Adriana sengaja mengajak Ralin pergi agar dia tidak terus-terusan menangisi Sandra.


"Ken, tante titip Sandra ya? Kalau ada apa-apa langsung hubungi tante." ucap Ralin.


"Baik tante, Ken akan selalu menjaga Sandra." Ken merasa sedikit bahagia mendengar mereka akan pergi keluar, Ken akan semakin leluasa mengungkap kan perasaan nya.


"Mamah pergi dulu ya nak? Mamah harap begitu mamah pulang kamu sudah menyambut mamah dengan senyuman manis kamu, Bang, mamah keluar dulu sebentar ya." Ralin pun akhirnya pergi bersama Adriana, Baron tidak diam saja, dirinya ngga mau terjadi sesuatu pada istri nya.


"Iya mah, hati-hati."


"Lisna, Ken tolong jaga mereka berdua, ayah mau menemani mamah dulu." ucap Baron.


"Baik om,"


"Baik Yah."


Mereka bertiga pun meninggalkan ruangan, tinggal dua pasang kekasih yang masih setia dengan pasangan nya masing-masing.


"Yang, aku ingin jalan-jalan keluar, di sini sumpek." ucap Jev.


"Tapi sayang, kamu belum boleh banyak gerak, kamu harus banyak istirahat dulu."


"kalau aku tidur seperti ini justru susah untuk sembuh, ayolah sayang."


"Ya sudah aku mau minta izin sama dokter dulu, tapi kalau dokter tidak mengizinkan kamu harus nurut ya?" ucap Lisna, Jev pun mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2