
Setelah kepergian keluarga Adriana sahabat nya, butik pun di tutup karena sudah menjelang malam, Lisna pun sudah pulang ke rumah nya, dan kini tante Ralin pun duduk termenung seorang diri di lantai atas.
Tante Ralin memang tinggal di lantai atas di butik nya, setiap malam dia selalu sendiri, hening dan sepi nya malam seolah-olah sudah menjadi hal biasa bagi nya.
Malam ini berbeda dengan malam-malam yang sudah ia lalui, dalam keheningan dan kesendirian nya, tante Ralin mengingat kembali kejadian dua puluh tahun lalu.
FLASHBACK
"Mas, aku hamil," teriak Ralin sambil memperlihatkan alat tes kehamilan yang sudah terlihat ada dua garis merah di alat itu.
"Kamu hamil sayang? Pokok nya aku ingin anak laki-laki, kalau anak nya bukan laki-laki, aku tidak akan mengakui nya, dan bahkan aku akan membuang atau membunuh nya sekalian." ucap Baron suami nya Ralin.
Senyuman yang tadi nya menghiasi bibir Ralin, kini langsung menghilang ketika mendengar penuturan dari suami nya.
"Tapi mas, mau laki-laki atau pun perempuan kan sama saja, yang penting aku dan anak ku sehat nanti nya." jawab Ralin.
"Tidak bisa! Aku hanya menginginkan anak laki-laki saja." teriak Baron.
Baron ini terkenal dengan kekejaman nya pada orang yang mau mengganggu hidup nya, bahkan kerjaan Baron pun ngga jelas maka dari itu kedua orang tua Ralin tidak menyetujui pernikahan mereka.
Karena Ralin sangat mencintai Baron, Ralin pun mengabaikan kedua orang tua nya, bahkan dia pun di usir dan tidak di akui anak lagi oleh orang tua nya.
Awal pernikahan mereka pun hidup bahagia hingga Ralin mengandung buah cinta mereka, Baron pun yang terkenal kejam tapi dia sangat menyayangi Ralin.
Selama pernikahan, Ralin tidak pernah bertanya pekerjaan suami nya, karena Baron pernah bilang pada Ralin, kalau Ralin jangan mencampuri urusan nya, yang penting dia menyayangi dan memenuhi kebutuhan nya.
Selama kehamilan nya pun Ralin selalu diutamakan oleh Baron, bahkan Baron sangat menjaga banget akan diri Ralin.
Hingga kehamilan Ralin menginjak sembilan bulan, Baron sangat mengharapkan sekali kehadiran anak laki-laki nya.
Sebenar nya Ralin sudah melakukan USG tanpa sepengetahuan Baron, dan ternyata hasil nya adalah anak perempuan, dan Ralin menyembunyikan hasil nya dan menyimpan rapat-rapat di benak nya, dengan harapan Baron akan berubah pikiran setelah anak nya lahir ke dunia.
Di saat Baron berada di luar kota, Ralin tinggal bersama Adriana sahabat nya yang memang baru beberapa hari ini melahirkan anak perempuan nya.
__ADS_1
Adriana dan suami nya selalu setia mendampingi Ralin, suami Adriana merasa kasihan melihat Ralin yang sedang hamil besar tapi malah di tinggal oleh Baron dengan alasan banyak kerjaan, padahal setahu suami nya Adriana, Baron adalah seorang preman yang selalu mendapat kerjaan dari bos nya, dan yang suami Adriana dengar kalau Baron ini seorang pembunuh bayaran, dan sekarang dia lagi di utus bos nya untuk membunuh musuh nya di kota lain.
Namun suami Adriana tidak mau ikut campur dan pura-pura ngga tahu, karena takut berimbas kepada anak dan istri nya.
Hari itu mereka berdua lagi berbincang ringan di ruang tamu, dan suami Adriana sedang menggendong putri nya.
"Na, perut ku sakit Na." teriak Ralin sambil memegang erat tangan Adriana.
"Mas, tolong Ralin mas, seperti nya dia mau melahirkan." teriak Adriana pada suami nya.
"Ya udah ayo kita bawa ke rumah sakit, kamu bisa kan memapah Ralin? Tanya Radit suami nya Adriana.
"Kamu bisa berjalan kan Lin? Tanya Adriana pada Ralin.
Ralin pun mengangguk sambil berdiri dengan tangan memegang erat tangan Adriana.
"Mas siapin mobil dulu sayang." kata Radit lalu pergi ke halaman rumah untuk menyiapkan mobil nya sambil menggendong putri nya.
"Sakit Na." teriak Ralin.
"Sabar Lin, kamu pasti bisa, kamu kuat Lin, Suami kamu kapan pulang nya sih?" tanya Adriana sedikit kesal dengan suami nya Ralin yang menurut nya tidak bertanggung jawab itu.
"Entah l;ah Na, dia kan datang dan pergi sesuka hati nya, mungkin kerjaan nya masih sibuk jadi belum bisa pulang." jawab Ralin sambil menahan rasa sakit d perut nya.
Mereka pun sampai di rumah sakit, Radit langsung memanggil suster yang lagi jaga.
Ralin pun di bawa ke ruang bersalin oleh suster, sedang kan Adriana dan Radit menunggu nya di ruang tunggu.
Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan seorang bayi membuat Adriana menatap Radit sambil tersenyum.
"Alhamdulilah mas, Ralin sudah melahirkan." ucap Adriana.
Setelah persalinan selesai, dan Ralin pun sudah di pindah kan ke ruang perawatan, Radit dan Adriana pun masuk ke ruangan Ralin.
__ADS_1
"Selamat ya Lin, kamu melahirkan seorang putri yang cantik." ucap Adriana.
Ralin pun tersenyum sambil melihat ke arah putri nya.
"Mas anak kita sudah lahir, kamu cepetan pulang." gumam bathin Ralin.
"Boleh aku menggendong nya?" pinta Adriana pada Ralin.
"Boleh Na, dan makasih buat kalian berdua sudah membawa aku kesini, seandainya ngga ada kalian entah gimana aku dan anakku ini." kata Ralin.
"Kayak sama siapa aja kamu Lin, kamu itu sudah aku anggap seperti adik ku sendiri." jawab Adriana sambil memberikan putri nya ke pangkuan Radit.
"Mas pegang dulu putri ya? Aku mau gendong anak nya Ralin." kata Adriana.
"Ah, sayang cantik nya kamu ini, jadi gemes deh pengen cubit." kata Adriana sambil menggendong bayi nya.
"Yey kalau mau cubit, cubit aja putri, dia juga ngegemesin kok." jawab Ralin sambil tersenyum.
"Ya, dia pipis, lihat deh jadi basah kan semua nya" ucap Adriana.
Adriana pun mengganti baju bayi nya Ralin dengan telaten, begitu baju nya terbuka semua, nampak lah tubuh mungil dan bersih dengan tanda hitam di bahu kanan nya.
"Lin, anak mu ada tanda lahir nya lo, lihat." ucap Adriana sambil menunjukan tanda lahir yang ada pada bayi nya Ralin, Ralin hanya tersenyum dan mengangguk.
Setelah rapih kembali, bayi nya Ralin pun menangis kencang.
"Sepertinya bayi kamu haus Lin, ASI nya subur kan Lin?" Tanya Adriana.
"Itu dia Na, ASI nya ngga mau keluar padahal sudah aku ikuti saran dokter supaya subur dan keluar, tapi tetap saja ngga ada dan ngga mau keluar ASI nya." jawab Ralin dengan raut muka yang sedih.
"Kasihan dia haus Lin, bagaimana kalau aku saja yang ngasih dia ASI, kalau kamu mengizinkan itu juga" ucap Adriana.
Akhir nya Adriana pun memberikan ASI nya kepada bayi Ralin, setelah Ralin menyetujui nya.
__ADS_1