
"Pagi menjelang siang." ucap Ralin yang baru massuk ruang makan dengan wajah yang lebih segar dari semalam.
"Pagi juga sayang, kamu juga kesiangan ya? wah kamu lebih terlihat cantik pagi ini" ucap Baron sambil tersenyum manis.
"Iya mas, ah mas juga lebih tampan kok." jawab Ralin yang juga mengembangkan senyuman nya.
"Stop dulu saling memuji nya, Adek mana mah?" tanya Jev yang tidak melihat adik nya, Baron dan Ralin pun hanya tersenyum.
"Tadi masih di kamar sebentar lagi kesini." jawab Ralin.
"Lo kok udah banyak makanan, siapa yang masak?" tanya Ralin kaget melihat banyak makanan di meja makan.
"Bu Murni." jawab Baron.
"Siapa bu Murni?" tanya Ralin, karena Ralin memang belum tahu dan belum mengenal nya.
"Sebentar aku panggilkan." jawab Baron sambil berdiri dan pergi ke belakang manggil bu Murni.
Ralin pun menyiapkan sarapan buat Baron, dia masih ingat dengan semua kesukaan suami nya itu.
"Ini bu Murni sayang, dia adalah calon istri nya Jay." ucap Baron mengenalkan bu Murni.
"Selamat datang bu." ucap bu Murni.
"Kenalkan bu saya Ralin." ucap Ralin sambil mengulurkan tangan nya.
""Jangan panggil ibu dong bu ngga enak saya." protes bu Murni.
"Ngga apa-apa yang penting kita semua nyaman saja." ucap Ralin.
"Ya suah terserah ibu saja." ucap bu Murni pasrah.
"Ayo kita sarapan bu." ajak Ralin.
"Saya sudah sarapan tadi bu, silahkan saja saya belum selesai beres-beres di belakang." ucap bu Murni.
"Makasih ya bu sudah masakin kita." ucap Ralin.
"Itu sudah tugas saya bu, kalau begitu saya ke belakang dulu." ucap bu Murni, lalu pergi ke belakang setelah mendapatkan sebuah angguk kan dari Ralin.
"Ini mas, makan yang banyak ya." ucap Ralin sambil memberikan piring yang sudah berisi makanan itu.
"Makasih sayang." ucap Baron sambil menerima piring yang di berikan Ralin.
"Yah, mah nanti siang aku akan mengenalkan calon istri sama ayah." ucap Jev.
"Wah ternyata anak ayah juga ngga mau tersaingi, sudah ada calon istri saja." ucap Baron.
"Apa yang di maksud Jev adalah Lisna?" gumam bathin Ralin.
"Memang nya wanita nya siapa nak?" tanya Ralin yang penasaran.
"Mamah kan sudah mengenalnya." jawab Jev.
__ADS_1
"Kamu sudah mengenal calon istri nya Jev sayang?" tanya Baron.
"Ngga tahu kan Jev juga belum memberitahu."
"Dia Lis," belum sempat Jev meneruskan kalimat nya, terdengar suara Sandra yang baru datang dan bergabung bersama mereka.
"Wah ternyata udah pada kumpul." teriak Sandra.
"Lama amat sih dek, abang kan sudah la par, Lisna." ucap Jev terbata ketika membalik kan tubuh nya ternyata ada sosok yang akan dia kenalkan kepada keluarga angkat nya ini.
"Mas Jev." gumam Lisna sambil menatap semua orang yang ada di sana.
Sungguh ini membuat nya bingung tapi sekaligus bahagia karena ada diantara keluarga mereka.
"Abang sudah mengenal mbak Lisna?" tanya Sandra.
"Iya dek, ini kan yang abang ceritakan semalam." jawab Jev.
"Jadi mbak Lisna ini calon kakak ipar adek bang?" tanya Sandra dengan penuh antusias.
"Iya dek, dia adalah calon istri nya abang."
"Ya sudah ayo nak semua nya duduk, kita sarapan yang udah kesiangan ini." ucap Ralin.
"Kamu kapan kesini Yang?" tanya Jev sambil menggeser kursi buat Lisna.
Lisna sungguh bahagia sekaligus malu di perlakukan manis seperti itu oleh Jev.
"Cie udah panggil sayang aja." goda Sandra.
"Sudah-sudah, ayo makan." ucap Baron.
Mereka pun menikmati sarapan nya yang kesiangan, sedangkan Lisna makan dengan pikiran yang berkecamuk dengan kejadian pagi ini.
*
*
Kini mereka pun sudah berkumpul di ruang keluarga di temani cemilan dan minuman.
"Jadi kalian sudah resmi pacaran?" tanya Ralin.
"Iya mah semalam." jawab Jev sambil tersenyum.
"Berarti malam tadi adalah malam kebahagiaan kita." ucap Baron.
"Kita? kalian saja, adek ngga, kalian ternyata pada bahagia sedang kan adek sedang menahan sakit perut sambil nungguin sate yang lama nya super duper lama." ucap Sandra sambil mengerucut kan bibir nya.
"Sabar ya dek, nanti juga kamu datang seseorang yang akan menerima adek apa adanya." ucap Baron.
"Entah lah yah, adek belum kepikiran kesana, dari dulu adek mau pacaran atau menikah itu kalau abang sudah ada pendamping nya." ucap Sandra.
"Nah kan sekarang abang nya sudah ada yang mendampingi." ucap Ralin.
__ADS_1
"Tapi kan mereka baru jadian mah, belum lanjut ke pernikahan." jawab Sandra.
"Gimana Lis kalau dalam jangka waktu dekat ini kamu dilamar oleh Jev?" tanya Ralin.
"Tapi kita belum terlalu lama kenal bu." jawab Lisna.
"Mulai sekarang panggil aku mamah seperti Jev." ucap Ralin.
"Tapi bu." ucap Lisna.
"Ngga ada tapi-tapi an, pokok nya mulai sekarang kamu ganti panggilan kamu." potong Ralin.
"Baik lah bu, eh mah." jawab Lisna sambil malu-malu.
"Ya sudah kalau gitu abang ajak Lisna dulu ke taman samping ya yah?" ucap Jev.
"Ke belakang juga boleh bang, biar sekalian kalian berenang." ucap Sandra.
"Wah jomblo merajuk, jangan cemburu ya? oh iya dek kemarin calon kakak ipar kamu ini cemburu berat sama kamu lo." ucap Jev.
"Kok bisa sih bang? gimana cerita nya?" tanya Sandra.
"Mas ih, ngga usah di bahas malu tahu." ucap Lisna dengan pelan, tapi Jev hanya tersenyum saja mendengar protes dari Lisna.
"Ya dia kira kamu itu istri nya mas, hingga susah banget buat ngeyakinin nya."
"Mas, sudah cukup ngga usah di bahas." ucap Lisna.
"Ya sudah ayo kita ke taman, di sini banyak nyamuk." ucap Jev sambil menarik tangan nya Lisna.
"Dasar bucin." teriak Sandra.
"Adek sudah cukup, kalian itu berdebat mulu." ucap Baron.
"Mas, aku mau pulang ke butik ya?" ucap Ralin.
"Mau apa sih Yang, memang nya di sini ngga luas apa, pakai acara ke butik segala." ucap Baron dengan wajah tidak suka nya.
"Bukan begitu mas, tapi kita kan belum menikah kembali, ngga enak lo sama tetangga dan yang lain nya, kita memang masih suami istri tapi kan kita sudah lama terpisah." ucap Ralin.
"Betul yang di bilang mamah, jadi kalau menurut aku mamah dan ayah jangan serumah dulu." ucap Sandra.
"Kalau begitu kita nikah secepat nya." ucap Baron.
"Ya terserah mas, tapi untuk sementara waktu biarkan aku tinggal di butik dulu." ucap Ralin.
"Kenapa sih yah kalau mamah mau tinggal di butik dulu, kan dari dulu juga mamah tinggal nya di butik." ucap Sandra.
"Ya itu kan dulu, tapi kan sekarang sudah ada rumah ini, rumah ini juga buat siapa lagi kalau bukan buat kalian." jawab Baron.
"Ya sudah sabar saja Yah, biar mamah aku yang temenin di butik." ucapan Sandra membuat Ralin sungguh bahagia.
"Beneran sayang? kamu mau nemenin mamah di butik?" tanya Ralin dengan mata yang berbinar.
__ADS_1
"Benar lah mah." jawab Sandra sambil tersenyum.
"Ya sudah deh terserah kalian saja, ayah pasrah dengan kemauan kalian." ucap Baron dengan wajah pasrah nya.