Bos Dan Aku

Bos Dan Aku
Pencarian


__ADS_3

Jay terus mencari informasi tentang orang yang sudah menghajar Sandra atas perintah dari Baron bos nya.


"Harus kemana aku mencari nya." Gumam Jay sambil terus berjalan tanpa menghiraukan jalanan yang dia lalui.


"Sorry om, saya ngga sengaja." Ucap Jev yang sudah menyenggol tubuh Jay.


Jev masih mencari Sandra karena dia khawatir dengan keadaan adik angkat nya itu, dia sudah pergi ke rumah Ken tapi hasil nya nihil, karena Ken sudah pergi ke kantor.


Ken yang terus berjalan dan fokus mencari Sandra pun tidak melihat sekitar hingga dirinya menabrak Jay yang sedang mencari sosok orang yang telah menghajar Sandra sampai pingsan.


"It's oke ngga apa-apa, saya juga lagi ngga fokus, soalnya lagi nyari orang " jawab Jay


"Saya juga lagi mencari adik saya yang dari kemarin ngga pulang-pulang, di telepone ngga nyambung seperti nya ponsel dia mati." Ucap Jev.


"Ya sudah kalau gitu gimana kalau kita bincang-bincang dulu sebentar di warung kopi itu." Ajak Jay sambil menunjuk warung kopi yang ada di pinggir jalan


"Ide yang bagus, ayo." Jawab Jev sambil berjalan bersama dengan Jay.


Kini Jev dan Jay pun sudah duduk saling berhadapan sambil minum kopi.


"Anda lagi nyari siapa?" Tanya Jev lalu menyeruput kopi nya.


"Panggil saja Jay, saya di suruh bos saya mencari orang yang sudah menghajar seorang perempuan sampai pingsan." Jawab Jay.


"Banci juga tuh orang, berani-berani nya menghajar seorang wanita, apa anda punya ciri-ciri nya?" Tanya Jev.


"Kebetulan pas bos saya lagi menghajar tuh orang, saya sempat mengabadikan nya di ponsel saya." Jawab Jay.


"Maaf apa saya boleh melihat nya? Siapa tahu saya pernah melihat atau bahkan kenal dengan orang itu " ucap Jev.


"Tentu saja boleh tuan " jawab Jay sambil mengambil dan membuka galeri di ponsel nya.


"Panggil saya Jev saja " ucap Jev yang merasa ngga enak dengan panggilan yang di berikan Jay.

__ADS_1


"Oke, ini Jev, tapi durasi nya cuma sebentar soalnya saya langsung membawa wanita yang dia hajar ke dalam mobil." Ucap Jay sambil memberikan ponsel nya.


Jev pun melihat video nya dengan begitu serius hingga dia melakukan screenshoot karena ingin memperjelas wajah yang sedang saling baku hantam itu.


Jev pun memperbesar Poto yang dia screenshoot


"Ini kan Bobi, ketua preman baru di daerah xxxx.


"Kamu kenal Jev?" tanya Jay yang mendengar gumaman dari Jev.


"Ya saya tahu dia, dia adalah ketua preman yang sadis dan suka memeras para pedagang." jawab Jev.


"Kamu tahu tempat nya?"


"Saya tahu, tapi kita kesana harus membawa pasukan, kalau tidak kita akan mati di keroyok." ucap Jev.


"Bos juga dulu nya seorang ketua mafia yang sangat kejam, tapi semenjak dia di tinggalkan istri nya dia sadar dan berubah seratus persen, tapi setelah melihat seorang perempuan yang dihajar kemarin seperti nya jiwa mafia nya keluar lagi." ucap Jay.


"Dia memang bukan siapa-siapa nya bos, tapi dengan kejadian itu bos jadi ingat sama anak dan istri nya."


"Oh seperti itu, ya sudah nanti kita atur waktu nya untuk menyerang mereka."


"Oke kalau gitu gimana kalau sekarang kamu ikut saya menemui bos." ajak Jay.


"Tapi saya lagi mencari adik saya yang menghilang dari kemarin." ucap Jev dengan wajah sendu.


"Kok bisa menghilang? bagaimana cerita nya?" tanya Jay penasaran.


"Saya juga ngga tahu awal nya gimana, tapi  dari kemarin dia ngga pulang ke rumah, saya sudah susul ke tempat kerja nya, tapi kata satpam di sana adik saya ini sudah ngambil cuti selama satu minggu.." jawab Jev.


"Ya sudah kalau gitu saya bantu kamu mencari nya, bisa saya lihat poto nya?" ucap Jay.


"Beneran mau bantu saya? sebentar saya cari dulu poto nya." ucap Jev sambil mengambil ponsel nya.

__ADS_1


*


*


"Jenuh sekali dari pagi baringan, mending aku masak buat makan siang saja." gumam Sandra sambil bangun dari tidur nya.


Sandra pun keluar dari kamar dan mencari ruangan dapur.


"Bersih juga rumah nya, tapi kenapa rumah ini sepi, pada kemana istri dan anak nya, isi kulkas nya pun penuh dan lengkap." gumam Sandra sambil mengeluarkan bahan-bahan yang akan dia masak dari dalam kulkas.


Sandra pun mulai menyibukan diri nya dengan memasak, entah kenapa hati nya merasa sangat bahagia sekali berada di rumah itu, padahal Sandra baru pertama kali ini menginjak kan kaki nya di rumah ini.


Sambil bersenandung Sandra pun masak dengan penuh semangat.


"Andaikan dia ayahku apa aku akan sebahagia ini? apa aku akan membenci nya atau menerima nya?" gumam Sandra sambil masak.


"Ah, aku lupa belum ngasih kabar sama abang, pasti abang khawatir dan mencariku, tapi bagaimana cara nya aku ngasih kabar abang sednagkan ponsel aku saja rusak." gumam Sandra sambil menata makanan di atas meja makan.


"Akhir nya selesai juga, tapi apa ayah akan suka dengan masakan ku ini." ucap Sandra sambil menatap makanan yang sudah tertata rapih di meja.


"Ayah, kenapa hatiku selalu bergetar begitu memanggil nya dengan panggilan ayah, apa karena aku terlalu merindukan sosok seorang ayah? apa karena aku sangat merindukan kasih sayang dari seorang ayah? ayah kalau pun memang benar engkau yang membuangku dulu, tapi se engga nya aku tahu dengan paras mu, ya Allah pertemukan aku dengan kedua orang tua ku, aku tahu hati ini sakit dan kecewa jika benar aku dibuang oleh orang tua ku, tapi se ngga nya aku tahu siapa orang tua ku itu." gumam Sandra dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Nak, sedang apa kamu di sini? seharus nya kamu istirahat." ucap Baron yang melihat Sandra duduk sambil menatap makanan di atas meja.


"Ayah, maaf ayah saya sudah lancang, tadi saya bosan seharian tidur di atas kasur, jadi saya pergi kesini dan masak untuk makan siang kita." jawab Sandra sambil mengusap air mata nya yang sudah lolos di pipi nya.


"Ayah mohon nak, tolong jangan bicara formal sama ayah, ayah ingin kita selayak nya anak dan ayah kandung." ucap Baron sambil menatap dengan tatapan yang memohon.


Sandra yang lagi menatap Baron pun melihat kalau Baron bicara dari hati nya, hati Sandra pun tergerak untuk menerima nya.


"Baiklah ayah, maafkan aku, ya sudah sekarang ayo makan ayah." ucap Sandra sambil tersenyum.


"Makasih sayang, makasih kamu sudah mau menjadi anak ayah." ucap Baron dengan mata yang berkaca-kaca karena bahagia, lalu memeluk erat Sandra.

__ADS_1


__ADS_2