
Sepanjang malam Ralin terus mendamping Sandra di sisi nya, dirinya sampai tertidur sambil memegang erat tangan Sandra.
Baron yang kasihan melihat posisi istri nya tidur seperti itu punya inisiatif untuk memindahkan nya ke sofa.
Bagaikan mau menggendong seorang bayi yang sedang tertidur, Baron pun dengan secara perlahan menggendong Ralin dan membaringkan nya di atas sofa.
Lisna dan Ken di paksa untuk pulang sama Baron, awal nya mereka berdua menolak untuk pulang, tapi karena desakan dari Baron dan Ralin, akhir nya mereka pun pulang dengan diantar oleh Jay.
Kini tinggal Baron dan Ralin yang menunggu Sandra dan Ken, mereka berdua sengaja di rawat di satu ruangan atas permintaan Baron.
"Segitu sayang nya kamu sama Sandra, sampai kamu rela tidur sambil duduk seperti itu, sekarang tidur yang nyenyak biar besok pas kamu bangun badan kamu tidak sakit." gumam Baron sambil menutup tubuh Ralin dengan jaket yang dia pakai, Baron pun menatap ketiga nya dengan perasaan sedih.
*
*
"Mah, semalam Ken pulang jam berapa?" tanya pak Anthoni.
"Ngga tahu pah, mamah kan langsung masuk kamar sama papah, mungkin tengah malam baru pulang." jawab bu Adriana sambil menuangkan air minum untuk suami nya.
"Pagi mah, pagi pah." sapa Ken dengan muka yang penuh lebam.
"Nak, muka kamu kenapa? jangan bilang kamu berantem lagi." ucap bu Adriana dengan wajah kaget nya.
"Iya mah, semalam Ken berantem." jawab Ken sambil duduk.
"Kenapa sampai berantem? Terus sekarang kamu ngga akan masuk kantor?" tanya pak Anthoni sambil menatap penampilan Ken yang hanya memakai kaos oblong.
"Ngga pah, aku ngga masuk kantor dulu, aku mau ke rumah sakit."
"Siapa yang di rumah sakit nak?"
"Semalam Sandra sama Lisna di culik pah, mah."
"Apa! Di culik? Siapa yang menculik nya? Terus sekarang gimana keadaan Sandra? Di rumah sakit mana? tante Ralin sudah kamu kasih tahu belum? aduh mana Ralin dan Baron masih ada di Bali lagi." Bu Adriana pun khawatir.
"Mah, mamah tenang dulu, dengarkan Ken bercerita dulu." ucap pak Anthoni sambil mengusap pundak bu Adriana.
"Sekarang ceritakan dari wal sampai mereka ada di rumah sakit." ucap pak Anthoni.
Ken pun menceritakan semenjak dirinya mengantarkan Sandra hingga dirinya kembali pulang ke rumah nya.
"Nah begitu lah cerita nya pah, mah." Ken pun mengakhiri cerita nya.
"Syukur kalau Ralin sekarang bersama mereka, tapi kondisi Sandra sama kakak nya gimana sekarang?" bu Adriana pun sedikit tenang setelah mendengar kalau Ralin sudah bersama mereka.
__ADS_1
"Semalam masih tidak sadarkan diri, sekarang aku sama Lisna mau ke rumah sakit lagi sekalian membawa kan baju buat mereka."
"Mamah ikut nak."
"Papah ngga ikut sekarang ya? Banyak kerjaan di kantor, apalagi Ken ngga masuk sekarang, paling nanti sepulang dari kantor papah mampir."
"Iya pah, kalau begitu mamah akan ikut Ken ya pah?"
"Iya, kalian hati-hati, kalau ada apa-apa hubungi papah."
"Iya pah, tunggu sebentar mah, aku mau ngambil baju buat ganti bang Jev." ucap Ken.
"Sekalian baju buat om Baron nak, pah, pinjam baju buat mas Baron ya."
"Ambil saja mah."
Mereka pun berpisah di halaman rumah, bu Adriana ikut Ken pergi ke rumah sakit dengan membawa baju buat Baron dan Jev.
"Tapi kita ke butik nya tante Ralin dulu mah, soalnya mau jemput Lisna." ucap Ken sambil mengemudi.
"Iya ngga apa-apa nak, oh ya nak kita beli sarapan dulu buat mereka, pasti mereka belum pada sarapan."
"Baik mah."
Ken pun melajukan mobil nya ke butik Ralin untuk menjemput LIsna.
"Maaf ya bu, aku sudah lancang memasuki kamar ibu." gumam Lisna sambil membuka lemari Ralin, dia mengambil beberapa baju untuk Ralin beserta dalaman nya.
Di rasa sudah cukup, Lisna pun keluar dan menunggu Ken di depan.
Tidak berapa lama terlihat mobil Ken menghampiri Lisna, Lisna pun berdiri dan masuk ke dalam mobil Ken.
"Eh ada tante ternyata." ucap Lisna sambil masuk ke dalam mobil.
"Iya nak, kamu ngga apa-apa kan?"
"Aku ngga apa-apa tante, tapi kondisi Sandra yang parah."
"Insya Allah Sandra juga bisa melewati masa kritis nya."
"Kamu bawa baju buat Sandra dan tante Ralin kan Lis?" tanya Ken.
"Iya mas bawa, tapi aku ngga bawa ganti buat ayah dan kak Jev."
"Ngga apa-apa, tante sudah bawa kan, beli sarapan dulu nak."
__ADS_1
"Iya mah."
Ken pun melajukan kembali mobil nya, dan tidak lupa membelikan mereka sarapan.
*
*
"Pasti mas Baron yang mindahin aku." gumam Ralin sambil melihat sekeliling ruangan.
Terlihat Baron yang masih tertidur di sofa, sedangkan Sandra dan Jev belum sadarkan diri.
Ralin menghampiri Sandra yang masih memejamkan kedua matanya.
"Nak, bangun, ini mamah sayang." ucap Ralin lalu mencium kening Sandra dengan lembut.
Baron yang mendengar suara seseorang pun ikut terbangun lalu menghampiri istri nya.
"Kamu sudah bangun?" tanya Baron lalu mencium kening Ralin, sudah menjadi kewajiban bagi Baron sebelum dan sesudah tidur mencium kening istri nya.
"Mas, Sandra kenapa belum sadar juga." ucap Ralin dengan mata yang sudah kembali berkaca-kaca.
"Sabar sayang, kita do*a kan saja." ucap Baron menenangkan istri nya.
"Sadar lah nak, kasihan mamah kamu sangat mengkhawatirkan kamu, begitu besar rasa sayang mamah kamu, padahal kamu bukan anak kandung kami berdua." gumam bathin Baron.
Rasa khawatir dan cemas sama besar nya dengan yang di rasakan oleh Ralin, tapi Baron lebih bisa menahan dan menyembunyikan nya, dengan alasan biar bisa menenangkan istri nya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar membuat Baron langsung membuka nya, terlihat di sana sedang berdiri tiga orang yang sudah ia kenal.
"Kalian rupanya, ayo masuk." ucap Baron dengan muka bantal nya.
"Lin." ucap Adriana sambil menghampiri dan memeluk Ralin.
Tumpah kembali air mata Ralin dalam pelukan sang sahabat yang selama ini selalu ada buat dirinya.
"Sabar Lin, aku yakin Sandra bisa melewati ini semua, Sandra anak yang kuat." ucap Adriana sambil ikut menangis.
"Yah, ini baju ganti buat kalian semua." ucap Lisna.
"Iya om. Aku ambilkan ganti buat om baju papah." ucap Ken.
"Kenapa repot-repot, Jay juga pasti lagi di jalan dan membawakan baju buat om.
"Ngga apa-apa, buat persediaan saja, oh ya ini tadi aku belikan bubur ayam buat sarapan." Ken pun menata nya di atas meja.
__ADS_1
"Makasih ya nak." ucap Baron.