Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Kepercayaan..


__ADS_3

Setelah menikah Sandy memutuskan untuk tinggal bersama Mona. Meysa tinggal bersama dengan Frans dan Dona. Awalnya Mery menolak saat Meysa memutuskan untuk tinggal di Jakarta tapi Dona menasehati Mery dan akhirnya Mery menyetujuinya.


Awalnya sulit untuk Mery jika harus berpisah dari mamanya. Karena Mery tidak pernah tinggal berjauhan dengan Mama nya. Seiring waktu berlalu Mery sudah terbiasa tinggal bersama Sandy dan Mona.


Mona sangat baik terhadap Mery. Mona sudah menganggap Mery seperti anak kandungnya sendiri.


Kehidupan Mery dan Sandy sangat bahagia. Sandy selalu mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya kepada Mery. Sandy bahkan sering mengajak Mery untuk sekedar jalan jalan berdua di waktu senggang mereka.


Walau Mery sudah menikah sama Sandy, tapi Mery memutuskan untuk tetap menjadi sekretaris Sandy, karena Mery ingin selalu bersama Sandy.


Setelah dua bulan menikah sikap Sandy semakin protektif kepada Mery. Sandy tidak membiarkan Mery untuk pergi sendirian bahkan saat Mery ingin pergi bersama teman-temannya Sandy selalu ingin ikut.


Mery merasa sikap Sandy kali ini sudah keterlaluan, karena Sandy melarang Mery untuk pergi bersama Reni. Padahal saat ini Reni sangat membutuhkan Mery.


"Kak, jangan seperti ini dong, aku kan cuma mau ketemuan sama Reni." ucap Mery memohon.


"Aku akan mengizinkan kamu asal aku ikut sama kamu."


"Kak, Reni itu mau curhat sama aku, ya nggak nyaman dong kalau kak Sandy ikut." Protes Mery.


"Kalau gitu kamu nggak boleh pergi, kalau mau curhat kan bisa lewat telfon."


"Please dong kak, apa sih yang kak Sandy takutkan?" Tanya Mery penasaran.


Mery selalu membiarkan Sandy mengatur hidupnya, tapi kali ini Mery sudah tak bisa mentoleransi sikap protektif Sandy.


"Ya aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa sayang." Ucap Sandy memberi alasan.


Sandy tidak ingin Mery tau kalau dia masih takut kalau Mery akan ketemuan sama teman-teman laki-lakinya.


"Ya udah, kak Sandy boleh mengantar aku, tapi Kak Sandy nanti menunggu didalam mobil. Aku nggak mau teman aku merasa nggak nyaman karena kehadiran kak Sandy." Ucap Mery yang mulai lelah berdebat.


"Makasih sayang." Ucap Sandy senang lalu mengecup kening Mery.

__ADS_1


Merekapun keluar dari kamar.


"Kalian mau kemana? udah rapi gini." Tanya Mona penasaran.


"Sandy mau menemani Mery untuk ketemu sama temannya Ma." sahut Sandy.


"Mery kan bukan anak kecil lagi sayang, ngapain juga kamu temani." ucap Mona.


"Iya ini Ma, Kak Sandy maunya ngikut mulu, cemburunya itu berlebihan padahal Mery cuma mau ketemuan sama teman cewek Mery Ma." protes Mery.


"Sayang, kasih Mery waktu untuk jalan sama teman-temannya. Jangan terlalu mengekang Mery, karena itu nggak baik untuk hubungan kalian kedepannya." Mona mencoba menasehati Sandy.


"Tapi Ma--"


"Kasih kepercayaan sama istri kamu. Mama yakin Mery nggak akan melakukan hal yang aneh." bujuk Mona.


"Dengerin kata Mama, aku tau kak Sandy peduli sama aku tapi sikap kak Sandy kali ini udah keterlaluan. Apa kak Sandy nggak percaya sama aku?" tanya Mery.


Sandy mengambil nafas panjang dan membuangnya kasar. Sandy tidak mau berdebat dengan Mery didepan Mama nya.


"Makasih ya kak." Ucap Mery senang lalu memeluk Sandy.


"Hati-hati ya sayang." ucap Mona.


"Iya Ma, kalau gitu Mery pergi dulu." Ucap Mery lalu mencium tangan Sandy dan Mona.


Mery keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil. Semenjak menikah dengan Sandy, Mery dibelikan mobil oleh Frans dan Dona sebagai kado pernikahan mereka.


Mery melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Sandy.


"Ma, kenapa Mama belain Mery." protes Sandy.


"Mama nggak membela Mery, tapi Mama lakukan ini demi kebaikan kamu. Mama melihat sikap kamu sama Mery udah keterlaluan. Mery itu istri kamu bukan peliharaan kamu yang harus kamu kurung didalam rumah. Mery itu juga butuh bergaul dengan teman-temannya. Bukannya kamu juga mengenal semua teman-teman Mery, lalu apa yang kamu takutkan?" tanya Mona penasaran.

__ADS_1


"Sandy nggak suka aja, Sandy takut Mery akan meninggalkan Sandy Ma." Ucap Sandy sambil cemberut.


"Kamu ini ya mikir ya aneh-aneh aja, mana mungkin Mery akan meninggalkan kamu. Kalau itu sampai terjadi Mama yang akan menghukum Mery. Mama ingin kamu percaya sama Mery." pinta Mona.


"Baiklah, Sandy akan melakukan apapun yang Mama mau."


"Jangan melakukan hal yang akan merugikan kamu sayang. Sikap yang terlalu protektif juga nggak baik untuk hubungan kalian. Mery itu sangat mencintai kamu jadi Mama yakin Mery akan tetap setia mendampingimu." Ucap Mona sambil menepuk bahu Sandy.


Sandy berjalan menuju teras depan. Sandy duduk bersantai sambil membaca koran. Sandy mencoba untuk tetap tenang..


Beberapa jam kemudian.


Sandy yang sudah tidak sanggup lagi menunggu kepulangan Mery akhirnya memutuskan untuk menghubungi Mery.


Tutt..tutt..tutt..( ponsel Mery berbunyi )


"Iya kak." sahut Mery.


"Kapan kamu pulang? aku udah kangen nie." Ucap Sandy memberi alasan.


"Ini lagi nemenin Reni ke rumah orangtuanya."


"Rumahnya dimana?" tanya Sandy sambil mengernyitkan dahi.


"Bogor."


"Ada keperluan apa sampai harus ke Bogor segala? Kenapa kamu nggak bilang sama aku?" tanya Sandy merasa kecewa.


"Maaf kak, habis tadi mendadak, Mama nya Reni sakit. Kak tenang aja, ini kita udah mau pulang kok."


"Setelah kamu mengantar Reni, kamu langsung pulang jangan pergi kemana-mana lagi." ucap Sandy.


"Iya kak, udah dulu ya, aku nggak enak ini sama orang tua Reni. I love you kak, muuacchh." Ucap Mery lalu mematikan telfon.

__ADS_1


¤¤¤¤


__ADS_2