
Sesuai janjinya setelah makan malam Dona menceritakan bagaimana Carlos mau tidur tanpa ia temani.
" Sekarang Mama ceritakan apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Frans sambil duduk dismping istrinya.
" Sebenarnya yang membujuk Carlos bukan Mama tapi Evan." Ucap Dona.
Frans mengeryitkan dahinya, ia tidak menyangka Evan bisa membujuk Carlos. Lelaki itu bertanya bagaimana caranya Evan bisa membujuk Carlos sedangkan dirinya saja sangat sulit membujuk itu anak.
" Evan hanya bilang, jika sekarang mereka sudah besar dan harus berani tidur sendiri. Evan juga berjanji akan menemainya tidur." Ucap Dona.
" Hanya itu aja!" Ucap Frans tidak percaya. Dona menganggukan kepalanya.
" Astaga, kalau hanya seperti itu kenapa nggak dari dulu aja, kita nggak perlu repot-repot membujuk itu anak." Ucap Frans sambil menepuk keningnya sendirinya.
" Carlos menyetujuinya bukan hanya karena itu Pa, tapi karena sekarang sikap Evan sudah berubah baik sama dia. Evan bahkan sekarang lebih membela Carlos ketimbang sahabat karibnya. Mama senang akhirnya Evan bisa menerima kehadiran Carlos disini." Ucap Dona sambil menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.
" Kan Papa udah pernah bilang, Evan itu anak yang baik, lambat laun Evan akan bisa menerima kehadiran Carlos. Evan kan juga butuh waktu untuk bisa menerima keadaan ini." Ucap Frans lalu mengecup puncak kepala istrinya.
" Jadi mulai malam ini Carlos akan tidur bersama Evan?" Tanya Frans. Terlihat senyuman tipis di wajah pria itu.
" He emm."
Malam itu terasa begitu dingin, diluar hujan turun dengan derasnya dan disertai dengan angin yang membuat udara malam semakin dingin. Frans memanfaatkan suasana malam ini untuk merayu istrinya. Apa lagi sekarang sudah tidak ada lagi si bocil yang mengganggu.
" Ma--"
Frans menghentikan ucapannya lalu mendongakan wajah istrinya agar menatapnya.
" Kita lanjutin urusan yang tadi sempat tertunda." Ucap Frans dengan senyuman di wajahnya.
Dona menatap lekat kedua mata suaminya. Tanpa pikir panjang wanita itu menganggukan kepalanya. Ia juga tak bisa memungkiri jika dirinya juga sangat merindukan suasana romantis bersama dengan suaminya.
Frans menarik tangan Dona dan membawanya ke ranjang. Pria itu mendudukan tubuh Dona di tepi ranjang. Keduanya saling menatap, Dona tau apa yang akan suaminya lakukan setelah ini. Dona mulai memejamkan matanya saat Frans mulai menyatukan bibirnya dan memberikan sentuhan-sentuhan lembut pada bibirnya.
Mereka saling mengeratkan pelukan, saling melepaskan rindu dan hasrat yang selama ini mereka tahan. Mereka memang sangat merindukan hal-hal seperi ini, keduanya sangat merindukan sentuhan satu sama lain. Cukup lama mereka terhanyut dalan pangutan yang membuat gejolak dalam tubuh semakin bergelora.
Frans tidak ingin terburu-buru karena ia ingin menikmati setiap detik waktu yang akan ia lewati malam ini, bersama dengan istrinya yang sangat ia rindukan. Pria itu ingin memberikan kenikmatan kepada Dona melalui belaian-belain lembut disetiap jengkal tubuhnya.
Dona hanya bisa memejamkan kedua matanya sembari menikmati setiap sentuhan-sentuhan yang suaminya berikan pada tubuhnya. Ia bahkan tidak menyadari jika dirinya kini sudah terbaring di bawah kungkungan suaminya.
Frans mengapit kedua kaki Dona dan mulai membuka kancing piyama yang di kenakan Dona satu persatu, menyikap dan menyerukan wajahnya kebagian itu. Dona mengeluarkan suara lenguhannya saat suaminya mulai menenggelamkan wajah di lehernya, ia merasa melayang saat hembusan nafas pria itu terasa panas di permukaan kulitnya.
Begitu memburu dan mengebu, meninggalkan jejak-jejak kepemilikannya. Tangan Frans tidak tinggal diam, pria itu mulai menikmati kedua aset Dona yang terpampang jelas di depan kedua matanya.
Dona kembali mengeluarkan suara-suara kenikmatan yang tidak dapat ia tahan saat suaminya mulai bermain dengan dua asetnya yang sangat berharga.
" Emm..Frans."
Dona mencengkeram kuat kedua lengan suaminya hingga terdapat goresan-goresan dari keganasan kuku-kukunya dikedua lengan suaminya.
" Jangan kamu tahan, keluarkanlah, aku ingin mendengarnya."
Frans tanpa henti mencecapi, menghisap dan memberikan pijatan-pijatan lembut di kedua aset istrinya. Tidak lupa ia tinggalkan tanda merah sebagai tanda kepemilikannya. Dona sekuat tenaga menahan suara lenguhannya agar tidak meledak karena ulah suaminya yang telah membangkitkan gairah dalam tubuhnya. Membuat darah dalam dirinya seakan mendidih saat gairah dalam dirinya mulai memuncak.
Tapi kini Dona tidak lagi sanggup menahan suara lenguhannya saat tangan suaminya mulai menyentuh area sensitifnya di bawah sana. Suara lenguhan Dona terdengar sangat merdu di telinga Frans yang membuatnya semakin bersemangat.
Frans mendongakan wajahnya menatap kedua mata Dona yang kini terpejam dengan nafasnya yang memburu, " Sayang, kamu sudah basah." Bisiknya.
Dona membuka kedua matanya dengan perlahan, ia tatap wajah suaminya yang kini tengah tersenyum sambil menatapnya.
" Itu karena ulah kamu, aku nggak bisa menahannya, ini terlalu nikmat." Ucap Dona dengan nafas yang mengebu-gebu. Ia tutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, wajahnya kini mulai tersipu malu.
__ADS_1
Frans menyingkirkan tangan yang menutupi wajah cantik istrinya, ia mencium kilas bibir sensual Dona.
" Kenapa kamu harus malu, ini bahkan bukan yang pertama kalinya." Goda Frans dengan senyuman di wajahnya.
Frans mulai melucuti pakaiannya dan juga pakaian istrinya. Sejenak pria itu menatap tubuh istrinya, hingga membuat Dona semakin tersipu malu. Sorot mata Frans seperti sorot mata hewan buas yang siap menerkam mangsanya.
" Aku akan melakukannya sekarang, aku sudah nggak bisa menahannya lagi. Ini terasa begitu menyakitkan." Ucap Frans sambil mengecup kening Dona. Dona hanya bisa menganggukan kepalanya.
Dona kembali memejamkan kedua matanya, saat suaminya mulai menghujami tubuh bagian bawahnya. Rasa nikmat yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Rasa panas yang serasa membakar seluruh tubuhnya saat ia melepaskan pelepasannya yang pertama. Tubuhnya bergetar, mengeliat bak cacing kepanasan.
Frans semakin mempercepat tempo gerakannya hingga membuat tubuh Dona menguncang hebat. Pria itu merasa seperti terbakar di sekujur tubuhnya, mendidih dan rasanya seakan ingin meledak.
Tokk..tokk..tokk..
Terdengar suara ketukan di pintu kamar mereka yang membuat pria itu mengerang frustasi.
" Pa--"
Dona menatap wajahnya suaminya yang memerah menahan amarah.
" Aku nggak bisa menahannya lagi Ma." Ucap Frans kesal.
Kembali terdengar suara ketukan di pintu yang disertai suara tangisan dari kedua anaknya.
" Mama..Papa..Evan takut, Evan takut dengan suara petir." Rengek Evan disela tangisannya.
" Carlos juga takut Ma. Bukain pintunya, Carlos takut Ma." Rengek Carlos sambil menahan tangisannya.
" Pa..gimana ini? Mama nggak tega sama anak-anak, sepertinya mereka benar-benar ketakutan." Ucap Dona cemas.
Dona mengingat kembali saat Evan masih kecil. Anak itu menangis tiada henti saat mendengar suara petir yang terus bergemuruh.
Dona sebenarnya tidak tega melihat suaminya seperti ini tapi ia juga tidak tega membiarkan kedua anaknya menangis di depan pintu kamarnya di malam yang selarut ini. Dona turun dari ranjang dan kembali mengenakan piyamanya. Ia berjalan menuju pintu. Dengan perlahan ia mulai membuka pintu kamarnya. Setelah pintu terbuka, Evan dan Carlos langsung berhambur memeluk tubuh Dona.
" Ada apa sayang?" Tanya Dona sambil duduk berjongkok dihadapan Evan dan Carlos.
" Ada petir Ma, Evan takut." Ucap Evan sambil menahan tangisannya.
" Carlos juga takut Ma."
Dona memeluk tubuh kedua anaknya dan memberikannya kenyamanan. Ia membawa masuk kedua anaknya ke dalam kamarnya.
" Papa dimana Ma?" Tanya Evan.
" Papa ada di kamar mandi." Ucap Dona sambil menutupi tubuh kedua anaknya dengan selimut.
" Kenapa Papa mandi ditengah malam seperti ini Ma?" Tanya Carlos.
" Iya Ma, kalau nanti Papa sakit bagaimana?" Ucap Evan cemas.
" Emm..itu..itu..karena Papa kalian kegerahan." Ucap Dona gugup.
" Tapi udara malam ini sangat dingin Ma, Evan aja sampai menggigil karena kedinginan." Ucap Evan.
" Emm..itu..itu--"
" Apa Mama juga kepanasan? karena Mama juga banyak mengeluarkan keringat." Tanya Carlos sambil melihat wajah Mama nya yang bercucuran keringat.
Dona kini merasa sedang berada di dalam sidang, ia tidak tau harus menjawab apa agar kedua anaknya berhenti memberinya pertanyaan yang sangat sulit untuk ia jawab.
Frans yang telah selesai meredakan gejolak dalam dirinya keluar dari kamar mandi. Pria itu terpaksa harus berendam air dingin di malam yang dingin ini hanya untuk kembali menetralkan sesuatu yang sedari tadi membuat tubuhnya mengerang frustasi karena menahan gejolak yang sangat membara dalam tubuhnya.
__ADS_1
" Kenapa kalian tengah malam terbangun? Bukannya kalian sudah berjanji akan tidur sendiri mulai malam ini?" Tanya Frans sambil berjalan menuju ranjang.
" Kita takut sama suara petir Pa, suaranya serem banget." Ucap Evan sambil memeluk Dona.
Frans mengambil nafas dan membuangnya secara perlahan. Jika yang ada dihadapannya ini bukan anak-anaknya, maka pria itu tidak akan segan-segan menghajarnya karena telah mengganggu kesenangannya. Untuk kesekian kalinya Frans harus menahan gejolak dalam dirinya. Bahkan rasa sakitnya masih ia ingat dengan sangat jelas.
Dona hanya bisa menatap wajah suaminya dengan kedua mata sendunya. Wanita itu tau betapa tersiksanya suaminya saat ini menahan gejolak yang sudah siap meledak.
Frans merebahkan tubuhnya disamping Carlos. Malam ini mereka akhirnya tidur berempat dengan berhimpit-himpitan.
" Maaf." Ucap Dona sambil menatap wajah cemberut suaminya.
" Aku akan memintanya lain waktu, aku nggak akan melepaskan kamu barang sedetikpun." Ucap Frans pelan.
Dona hanya tersenyum menanggapi ucapan suaminya.
⭐⭐⭐⭐
NB.
Hai para readers sekalian..
Cerita aku kali ini tidak begitu menarikah, hingga like yang aku dapat tak sebanyak seperti di bab awal novel ini?.
Author : Kalian ingin up yang banyak tiap harinya?
Readers : YUUPS 😊
Author : Boleh, tapi ada syaratnya.
Readers : Apakah itu? 😏
Author : Aku nggak minta uang atau yang lainnya. Aku hanya minta banyakin like dan coments kalian aja. Apakah itu sulit?
Readers : Aku udah kasih thor? Tapi nggak tau yang lain.😁
Author : Aku ngetik naskah 3 bab butuh waktu berjam-jam, tapi kalian hanya tinggal tekan tombol like nggak akan memakan waktu ampe satu menit. Apakah itu sulit?
Readers : Nggak sih thor. 😔
Author : Masih ingin up yang banyak dari aku? Aku mau like disetiap bab bisa mencapai batas seperti di awal bab novel ini 😉😉.
Readers: Aku usahaain Thor 😁
Author : Buktikan..
Readers : 😭😭
Author : Mau up banyak nggak!
Readers : Mau..💪💪
Author : Apa kalian juga udah baca yang season 2 dari Bos Yang Angkuh?
Readers : Belum 😔 judulnya apa Thor?
Author : Hadeh 😒😒...kalian harus baca juga dong, Judulnya " Haruskah Aku Mengalah? "
Readers : Asiapp...berangkat..😊😊
💞💞💞💞💞
__ADS_1