
Setelah mengantar Nena pulang , Evan langsung ke rumah Clarisa, karena Clarisa menelfonnya dan membutuhkan bantuannya.
Evan berdiri didepan pintu rumah Clarisa lalu mengetuk pintu.
Tokk..tokk..tokk..
Clarisa berjalan menuju pintu dan membuka pintu, Clarisa langsung memeluk Evan dan menangis dalam dekapan Evan.
"Ada apa, Sa? kenapa kamu menangis?" Tanya Evan cemas.
"Papa, Van...Papa." Clarisa melepaskan pelukannya.
"Papa masih ingin menjodohkan aku dengan Tino. Dia tau kalau aku berpura-pura pacaran sama kamu dan mengatakan semuanya kepada Papa."
"Bagaimana Tino bisa tau?"
Clarisa menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak mau bertunangan dengan Tino Van, aku nggak mencintainya."
Evan mengajak Clarisa masuk kedalam rumah dan mendudukannya di sofa. Dia mencoba untuk menenangkan Clarisa.
"Sa, apa nggak sebaiknya kamu coba dulu jalan sama Tino. Kamu coba untuk lebih mengenal Tino, kalau aku lihat-lihat Tino itu pemuda yang baik. Dia juga sudah dewasa, dia pasti bisa membahagiakan kamu." Bujuk Evan.
"Nggak Van, aku nggak mau, aku nggak bisa mencintainya, karena aku men--"
"Karena kamu mencintaiku." Evan memotong ucapan Clarisa.
Clarisa menganggukan kepalanya. Evan menggenggam tangan Clarisa.
"Tapi maaf Sa, aku nggak bisa membalas perasaan kamu. Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta, kecuali meminta aku untuk menerima perasaan kamu. Kita ini sahabat, selamanya akan menjadi sahabat dan tidak akan berubah. Aku tidak ingin persahabatan kita hancur hanya karena tumbuh rasa cinta diantara kita."
"Apa semua ini karena Nena? apa kamu sudah jatuh cinta sama Nena, Van? hingga kamu menolak perasaan aku?" Tanya Clarisa dengan kedua mata yang mulai menggenang.
Evan menganggukan kepalanya.
"Kamu jahat Van, kamu jahat!" Teriak Clarisa sambil memukul dada Evan.
"Maafin aku Sa, maafin aku."
"Aku tulus mencintaimu Van, aku duluan yang mengenal dan mencintaimu, tapi kenapa harus Nena? kamu baru mengenalnya, dia awalnya hanyalah orang asing, tapi aku, aku--"
Evan menarik Clarisa kedalam pelukannya.
"Aku juga nggak tau sejak kapan perasaan ini muncul, setiap aku melihat Nena jantung aku berdebar-debar. Ini pertama kali aku rasakan setelah sekian lama aku nggak merasakannya kepada gadis manapun. Maafin aku Sa, aku benar-benar minta maaf."
"Termasuk aku!" Seru Clarisa.
Evan menganggukan kepalanya.
"Aku merasakan jantung aku berdebar-debar dulu, waktu aku masih berusia 9 tahun. Saat aku menyukai kakak cantik. Wanita yang aku cintai untuk pertama kalinya, cinta pertamaku yang jatuh ditempat yang salah."
"Terus sama pacar-pacar kamu selama ini, apa kamu nggak merasakannya?"
__ADS_1
"Aku nggak pernah merasakan itu. Aku jadian sama mereka karena mereka yang menginginkannya. Bukan karena aku mencintai mereka, aku sama sekali tidak mencintai mereka. Aku hanya menuruti keinginan mereka."
Clarisa menghapus air matanya lalu menatap Evan.
"Tapi saat aku memintamu untuk menjadi pacar aku, kenapa kamu menolakku? kenapa Van, kenapa?"
"Karena kamu sahabat aku, aku nggak mau menyakitimu, aku nggak bisa memaksa hatiku untuk mencintaimu. Dari awal aku hanya menganggap kamu sebagai sahabat aku."
"Apa Nena tau kalau kamu mencintainya? apa kamu sudah menyatakan cinta kamu sama Nena?" Tanya Clarisa penasaran.
Evan menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin melakukan pendekatan dulu, aku ingin lebih mengenalnya sebelum aku mengambil keputusan untuk menyatakan cinta aku."
Saat ini hati Clarisa benar-benar hancur. Dengan terang-terangan Evan mengatakan didepan Clarisa jika dia sudah jatuh cinta dengan Nena, gadis yang sangat dia benci.
"Aku ingin sendiri Van, lebih baik kamu pulang sekarang."
Clarisa berdiri dan berjalan meninggalkan Evan. Evan berdiri dan bergegas mengejar Clarisa lalu memeluknya dari belakang.
"Maafin aku, Sa, jangan pernah membenciku, karena aku nggak mau kehilangan sahabat sebaik kamu. Ini lah yang aku takutkan, kehilangan sahabat sebaik kamu, makanya aku nggak mau membalas perasaan kamu. Jika kita pacaran dan ada masalah didalam hubungan kita maka kita akan mulai saling membenci dan menjauh satu sama salin, aku nggak mau itu terjadi Sa, tapi kalau kita tetap bersahabat, masalah apa pun itu kita bisa saling memaklumi dan memahami, karena kita nggak menggunakan hati untuk menyelesaikannya."
Clarisa melepaskan pelukan Evan dan kembali melangkahkan kakinya. Dia tetap diam dan tak mengubris ucapan Evan. Memang benar kata-kata Evan, tapi Clarisa tidak mau tau. Hatinya sudah benar-benar hancur, dia sangat kecewa terhadap keputusan Evan yang lebih memilih Nena ketimbang dirinya yang sudah lama dia kenal.
Evan mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Dia melangkahkan kakinya keluar dari rumah Clarisa. Clarisa menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kepergian Evan.
"Maafin aku Van, untuk sementara kita harus menjaga jarak. Aku ingin menghilangkan perasaan ini. Aku nggak sanggup menahan perasaan ini jika aku terus berada didekatmu." Air mata Clarisa kembali menetes membasahi kedua pipinya.
Evan masuk kedalam mobil, dia memukulkan tangannya ke stir mobil.
"Kenapa aku nggak bisa memiliki kalian berdua, kenapa? Aku hanya ingin memiliki Clarisa sebagai sahabat aku, dan Nena sebagia orang yang sangat aku cintai. Untuk pertama kalinya aku kembali jatuh cinta, tapi kenapa aku harus dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan yang sangat sulit bagiku."
Evan mendengar ponselnya berbunyi, dia mengangkat ponsel itu tanpa melihat siapa yang menelfonnya.
"Apa!" Sahut Evan dengan nada tinggi.
"Kenapa kamu berteriak seperti itu? Kalau kamu nggak suka aku menelfonmu, kenapa kamu menjawab telfon aku?" Seru Nena kesal.
Evan mengeryitkan dahinya, dia melihat layar ponselnya.
"Sial" Umpat Evan saat dia tau yang menelfonnya ternyata adalah Nena.
"Emm..maaf, aku nggak bermaksud untuk membentakmu. Aku sekarang sedang emosi, maaf ya." Ucap Evan mencoba menahan amarahnya.
"Kamu lagi kesal sama siapa sih? bukannya tadi kamu masih baik-baik saja?" Tanya Nena penasaran.
"Nggak dengan siapa-siapa, kenapa kamu menelfonku, bukankah kita belum lama berpisah? apa kamu sudah merindukan aku?" Goda Evan.
"Idih, jangan GR dulu, aku menelfon kamu hanya ingin menanyakan, apa dompet aku tertinggal di mobil kamu? tadi aku cari-cari didalam tas aku nggak ada. Memang isinya nggak seberapa sih, tapi didalamnya ada KTP aku dan surat-surat penting lainya."
Nena terlihat sangat cemas, dia berharap dompetnya benar-benar terjatuh di mobil Evan.
"Tunggu aku cek dulu."
__ADS_1
Evan mencari di kursi penumpang dan dibawah kursi penumpang. Dia melihat ada dompet berwarna pink lalu mengambilnya.
"Apa dompet kamu berwarna pink?"
Evan membuka dompet itu dan melihat ada foto Nena bersama dengan kedua orangtuanya.
"Ya, itu dompet aku, apa kamu bisa mengantarnya ke rumah aku? tapi kalau nggak bisa juga nggak apa-apa." Ucap Nena pelan.
"Aku akan mengantarnya kerumah kamu sekarang."
"Makasih ya, aku tunggu."
Nena lalu mematikan ponselnya.
"Untung nggak hilang, mana disitu ada surat-surat mobil aku lagi. Kalau sampai hilang, Papa pasti akan memarahiku dan tidak mengizinkan aku untuk membawa mobil lagi."
Nena menghela nafas lega. Dia keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Dia ingin menunggu kedatangan Evan di teras depan.
Sesampainya dirumah Nena, Evan keluar dari mobil. Nena berlari menghampiri Evan. Evan memberikan dompet itu kepada Nena.
"Makasih ya, kamu sudah mau mengantarkan dompet aku, ini sangat berharga buat aku."
Nena memeluk dompetnya dengan sangat erat, seakan-akan itu benda paling berharga di dunia ini.
"Wah aku iri ni." Evan berpura-pura mencemberutkan bibirnya.
"Maksud kamu? kamu iri dengan siapa?"
"Aku iri sama dompet kamu, aku yang menemukan dompet kamu, tapi bukan aku yang dalat pelukan tapi malah dompet kamu yang dapat pelukan dari kamu." Evan masih mencemberutkan bibirnya.
Nena tersenyum melihat tingkah Evan yang seperti itu. Bagi Nena saat Evan sedang cemberut seperti itu, maka tingkat ketampanannya akan semakin bertambah. Pemikiran yang sangat aneh.
Cuup..
Nena mengecup pipi Evan.
Evan membulatkan kedua matanya saat pipinya dikecup oleh Nena dengan tiba-tiba. Nena tersipu malu, dia tidak menyadari hal apa yang baru saja dia lakukan.
"Emm..makasih atas dompetnya, a--ku masuk dulu ya."
Nena bergegas berlari masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Evan menyentuh pipinya yang baru saja di kecup oleh Nena.
"Mimpi apa aku semalam."
Evan merasa seakan melayang, padahal itu hanyalah kecupan di pipi, belum lagi di bibir. Jika Nena mencium Evan di bibir, apa dia akan pingsan seketika?..
⭐⭐⭐⭐
Biasakan klik tombil jempol ya, kasih bintang 5 juga. Jangan lupa jadikan novel ini menjadi novel favorit kalian semua.
Tinggalkan jejak coment kalian, cerita aku ini nggak akan berarti tanpa like dan coment kalian semua.
Mampir juga ke season yang ke 2 ya..ramaikan juga yang season 2..
__ADS_1
Terimakasih,
😘😘😘😘