
Bertahun-tahun sudah berlalu, tidak terasa kini Evan dan Carlos tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan dan sangat dikagumi oleh kaum hawa. Mereka kini sudah duduk dikelas 10 menengah atas.
Evan menjadi sosok remaja yang cool dan suka bergonta-ganti pasangan. Lain halnya dengan Carlos, sekalipun ia belum pernah pacaran. Bukannya dia tidak laku atau tidak ada yang menyukainya. Banyak gadis-gadis yang terpikat dengan ketampanan Carlos, tapi tidak ada satu pun yang menarik hati Carlos.
Di sekolah, Evan dan Carlos adalah anggota dari Most Wanted. Most Wanted terdiri dari tiga anggota, yaitu Evan, Carlos dan juga Deo. Deo adalah anak dari donatur terbesar disekolahnya.
Deo mempunyai sifat seperti Evan, dia juga seorang playboy, tapi playboy kelas kakap yang suka sekali mempermainkan hati wanita. Beda dengan Evan, meskipun dia seorang playboy tapi dia tidak pernah mempermainkan perasaan wanita. Justru Evan yang sering diputusin. Ceweknya yang menyatakan cinta, ceweknya pula yang memutuskan hubungan mereka.
Evan tidak begitu peduli dengan cewek-cewek yang telah mengakhiri hubungan dengannya, karena Evan juga tidak terlalu menanggapi perasaan mereka. Evan hanya mengikuti alur yang mereka buat dan inginkan.
" Malam ini kita mau nongkrong dimana nie?" Tanya Deo sambil menghisap rokok yang terselip dijemarinya.
" Aku lagi males kemana-mana." Sahut Evan.
" Aku juga." Carlos ikut menimpali.
" Yah, nggak asyik kalian!" Seru Deo kesal.
Deo adalah salah satu anggota Most wanted yang merokok dan suka minum-minuman keras. Evan dan Carlos bahkan tidak tertarik dengan semua itu, karena Frans juga tidak pernah menyentuh barang seperti itu.
" Bukannya kamu mau malam mingguan sama gebetan baru kamu?" Seru Evan sambil memasukan kentang goreng kemulutnya.
" Udah aku putusin kemarin."
" Serius kamu!" Tanya Carlos terkejut.
" Gila, baru juga satu minggu jadian." Ucap Evan sambil menggelengkan kepalanya.
" Sory ya, aku nggak mau pakai bekas orang." Ucap Deo yang berhasil membuat Evan dan Carlos melonggo tidak percaya.
" Kamu udah cobain itu cewek?" Tanya Evan dengan nada serius. Deo menanggapinya hanya dengan anggukan kepala yang membuat Carlos dan Evan semakin tidak percaya.
" Kenapa kalian terkejut sampai segitunya. Lagian hal kayak gitu udah nggak asing lagi dikalangam remaja kayak kita."
" Ehh..eh..sory ya, aku masih suci." Seru Evan tidak terima mendengar ucapan Deo.
" Aku juga masih tong-tong ini. Aku nggak mau melakukan sex diluar nikah, apa lagi sering gonta-ganti pasangan. Penyakit itu..penyakit." Ucap Carlos.
" Sok suci kalian." Seru Deo.
" Aku nggak mau ikut campur sama urusan kamu, yang penting kalau itu cewek sampai bunting kamu harus berani bertanggungjawab." Ucap Evan yang tidak begitu suka dengan sifat Deo.
__ADS_1
Tapi meskipun sifat Deo seperti itu, mereka tetap berteman baik. Karena mereka tidak ingin mencampuri urusan pribadi masing-masing.
" Gimana mau hamil, aku aja pakai pengaman. Aku belum mau merried ya, aku masih ingin menikmati kebebasan aku." Ucap Deo lalu mengambil botol air mineral lalu meneguknya.
" Pinter juga kamu." Puji Evan.
" Gila kamu Van, hal kayak gitu kamu puji." Ucap Carlos sewot.
" Ya kan aku muji cara pikirnya, main aman gitu. Udah puas tapi tak perlu bertanggungjawab, apa lagi itu cewek memang udah nggak suci dari awal." Ucap Evan lalu mendapatkan acungan jempol dari Deo.
" Van, boleh aku deketin si Clarisa?" Goda Deo.
" Awas ya kalau kamu sampai mendekati Clarisa! aku nggak akan membiarkan kamu merusak hidup Clarisa." Ancam Evan.
" Bercanda Van..bercanda. Tapi aku masih penasaran, kamu kan deket banget sama Clarisa, dia juga cantik, tapi kok kamu sama sekali nggak tertarik sama dia. Kamu malah menjadi pengawalnya yang selalu ngejagain dia." Ucap Deo penasaran.
" Ya itu karena kita udah sahabatan sejak masih SMP, dan kebetulan kita satu sekolah lagi. Clarisa itu anak dari kolega Papa aku." Ucap Evan mencoba untuk menjelaskan hubungan dengan Clarisa.
" Itu yang diomongin nonggol." Ucap Deo sambil melihat kearah Clarisa yang sedang berjalan kearah mereka.
" Lagi pada ngapain disini? Tumben nggak nongkrong ditempat biasa." Tanya Clarisa.
" Dah ah, aku mau balik dulu, lagian udah sore juga, takut dicariin nanti, kita kan masih anak Mama." Ucap Evan lalu berdiri dan menarik tangan Carlos dan Clarisa.
" Cih..anak Mama!" Seru Deo.
Mereka keluar dari kantin meninggalkan Deo sendirian dan berjalan menuju parkiran.
" Kamu bawa mobil nggak? Kalau nggak aku anterin sekalian." Tawar Evan.
" Ya itu memang tujuan aku nyamperin kamu tadi, minta dianterin pulang." Ucap Clarisa sambil menyengir kuda.
" Dasar! tau gini aku ogah nawarin kamu tadi!" Seru Evan lalu membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil.
" Kamu aja yang didepan, biar aku duduk dibelakang." Ucap Carlos lalu membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil.
Clarisa duduk disamping Evan, Evan lalu melajukan mobilnya menuju rumah Clarisa. Kini mereka sampai didepan rumah mewah, yang tak lain adalah rumah Clarisa.
" Mau mampir dulu nggak?" Tawar Clarisa sambil membuka pintu mobil.
" Bo--"
__ADS_1
" Nggak! Kita langsung balik aja, udah sore juga. Kita nggak enak sama om dan tante." Tolak Carlos sambil menatap tajam kearah Evan.
Evan mengerucutkan bibirnya.
" Kalau gitu makasih udah mau mengantar aku pulang. Van..jangan lupa besok temani aku kesuatu tempat." Ucap Clarisa mencoba mengingatkan Evan akan janjinya. Evan menganggukan kepalanya.
" Pada mau kemana sih? kok nggak ajak-ajak aku." Carlos merasa sangat penasaran.
" Kamu nggak perlu tau, udah cepetan kamu turun dan kamu.." Evan menunjuk Carlos, " pindah kedepan, aku bukan supir kamu." Seru Evan.
Clarisa dan Carlos keluar dari mobil.
" Besok aku boleh ikut nggak?"
" Nggak bo..leh!" Ucap Clarisa lalu masuk melewati pintu gerbang.
" Huuuu..bilang aja kalian mau kencan dan nggak mau aku ganggu." Teriak Carlos sambil membuka pintu mobil lalu masuk kedalam mobil.
" Kencan..kencan! kamu kali yang mau kencan." Seru Evan lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Clarisa.
Sesampainya dirumah, Carlos masih terus mengerutu kesal. Dia merasa Evan merahasiakan sesuatu darinya, padahal dirinya tidak pernah merahasiakan sesuatu dari Evan.
" Udah nggak usah mengerutu terus, aku tau kamu kesal sama aku." Sindir Evan sambil menaiki tangga menuju kamarnya.
" Kamu sekarang mau main rahasia-rahasiaan dari aku." Carlos berjalan dibelakang Evan.
" Bukan gitu juga, tapi ini kan rahasia Clarisa, jadi aku nggak bisa cerita sama kamu." Evan membuka pintu kamarnya.
" Kamu juga mau ikut masuk kekamar!" Sambung Evan lagi saat melihat Carlos mau masuk kekamarnya.
Carlos menyengir kuda lalu melangkah mundur.
" Dasar! mau tau aja urusan orang."
Setelah berganti pakaian Carlos keluar dari kamarnya. Dia merasa sangat haus.
" Mama kemana ya? kok rumah ini sepi?" Carlos membuka pintu lemari pendingin lalu mengambil sebotol air mineral.
" Mama kemana ya?" Evan berjalan menghampiri Carlos. Carlos menaikan kedua bahunya sambil meneguk air mineral ditangannya.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1