
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Kini Carlos dan Evan sudah duduk di bangku 6 SD.
Hari-hari Carlos dan Evan dilalui dengan penuh kebahagian, Carlos sudah tidak lagi bersikap kekanak-kanakan, Evan juga sudah bisa menerima kehadiran Carlos sebagai adiknya.
Setelah kejadian yang menimpa Evan 2 tahun yang lalu saat dirinya digigit oleh ular, saat itu juga Evan menjadi fobia dengan heman yang namanya ular. Entah itu ular sungguhan atau hanya mainan.
Bahkan Dona harus membuang semua mainan Evan yang bisa mengingatkannya dengan tragedi waktu itu.
" Ma, Evan mana Ma?" Tanya Carlos lalu duduk disamping Dona yang tengah asyik menonton acara kesukaannya.
" Abang kamu sedang keluar dengan Papa kamu. Ada apa kamu mencari Evan, sayang?" Tanya Dona sambil merangkul pundak Carlos.
" Emm..nggak ada apa-apa kok Ma, Carlos hanya mau pinjam sesuatu ke Evan." Ucap Carlos gugup.
Dona merasa ada yang sedang Carlos sembunyikan darinya. Dona langsung mematikan televisi dan ditatapnya wajah Carlos.
" Katakan sama Mama, kamu mau pinjam apa dari Evan?" Tanya Dona penasaran.
" Carlos mau pinjam tablet Evan Ma, tablet Carlos rusak. Tadi ada tugas dari sekolah dan besok sudah harus dikumpulin." Ucap Carlos.
" Emm..mau pakai ponsel Mama nggak? Memangnya apa yang sedang kamu cari?" Tawar Dona lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.
" Nggak usah Ma, Carlos pakai punya Evan aja." Tolak Carlos.
" Ya udah kalau nggak mau, kamu pakai aja punya Evan, nanti biar Mama bilang sama Evan." Ucap Dona sambil mengusap lembut lengan Carlos.
Carlos menganggukan kepalanya lalu berdiri dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Dona kembali menonton acara kesukaannya. Tak berselang lama Evan dan Frans masuk ke dalam rumah sambil menenteng dua kantong kresek berisi makanan.
" Kalian dari mana, kok lama banget keluarnya?" Tanya Dona sambil mengamati dua kantong kresek yang di pengang oleh Evan dan Frans.
Frans mengambil kantong kresek yang dibawa Evan dan ia letakkan diatas meja.
" Papa tadi habis beli sate ayam, tapi saat mau pulang Papa ketemu sama teman Papa, jadi kita ngobrol sebentar." Frans menatap sekeliling, " Carlos mana Ma?" Tanya Frans.
" Tadi katanya mau belajar Pa, oya sayang, tadi Carlos mau pinjem tablet kamu dan Mama suruh mengambilnya sendiri." Ucap Dona.
" Bukannya Carlos sudah punya tablet sendiri Ma, kenapa harus pakai punya Evan?" Ucap Evan sambil cemberut.
__ADS_1
Dona menarik tangan Evan dan mendudukannya di sampingnya.
" Sayang, Carlos kan hanya pinjam tablet kamu, nanti juga akan dia kembalikan." Ucap Dona mencoba memberi pengertian kepada Evan.
Carlos turun dari tangga dengan tergesa-gesa, ditangannya ia membawa tablet Evan. Mata Evan membulat seketika saat melihat tabletnya sudah remuk tak berbentuk lagi.
" Apa yang kamu lakukan sama tablet aku?" Teriak Evan sambil merebut tabletnya dari tangan Carlos.
" Maafin aku Van, tadi aku nggak sengaja ngejatuhin tablet kamu. Maafin aku.." Ucap Carlos sambil menggenggam tangan Evan.
Evan menghempaskan tangan Carlos lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Dona dan Frans saling menatap. Frans berjongkok didepan Carlos.
" Maafin Carlos Pa, Carlos nggak sengaja." Ucap Carlos sambil menahan tangisannya.
" Lo kok nangis, anak Papa kan udah besar, nggak boleh cenggeng dong." Goda Frans sambil menghapus air mata Carlos.
" Evan pasti sangat membenci Carlos, ya kan Pa?" Tanya Carlos sambil menatap Frans. Frans menggelengkan kepalanya.
" Evan nggak mungkin membenci kamu, dia kan sayang sama kamu." Ucap Frans mencoba untuk menenangkan Carlos.
Dona menarik tangan Carlos lalu mendudukannya disampingnya.
" Evan cuma butuh waktu, kamu tau kan itu tablet kesayangan Evan? Dan Evan juga nggak akan bisa marah sama kamu, karena dia sangat menyayangi kamu." Ucap Dona lalu memeluk Carlos.
" Sekarang biarkan abang kamu sendiri, besok dia akan segera melupakan semuanya. Sekarang lebih baik kamu tidur, tugas kamu sudah selesai belum? Apa perlu Mama bantuin?" Tanya Dona. Carlos menggelengkan kepalanya.
Carlos berjalan meninggalkan Mama dan Papa nya. Dona berdiri lalu mendekati suaminya.
" Pa..gimana ini? Mama tau betul itu tablet kesayangan Evan, karena tablet itu pemberian dari Omanya saat ulang tahunnya kemarin." Ucap Dona cemas.
" Sekarang lebih baik kita temui Evan." Ajak Frans.
Kini Frans dan Dona sudah berdiri didepan kamar Evan. Setelah naik kelas 6, Evan dan Carlos tidur terpisah. Itu pun atas permintaan Carlos. Dona mengetuk pintu kamar Evan.
Tokk..tokk..tokk..
" Sayang, Mama dan Papa boleh masuk nggak?" Tanya Dona sambil terus mengetuk pintu kamar Evan.
__ADS_1
Setelah mendengar sahutan dari dalam, Dona dan Frans masuk ke dalam kamar Evan. Mereka melihat Evan duduk di lantai sambil menekuk kedua lututnya. Dona dan Frans berjalan menghampiri Evan dan duduk disamping Evan.
" Sayang, kamu jangan membenci Carlos ya, tadi kan Carlos bilang kalau dia tidak sengaja menjatuhkan tablet kamu." Ucap Dona sambil mengusap puncak kepala Evan.
" Tapi ini tablet kesayangan Evan Ma, ini hadiah ulang tahun dari Oma." Ucap Evan sambil menahan tangisannya.
" Papa janji, Papa akan membelikan yang lebih bagus dari ini." Bujuk Frans.
" Nggak! Evan nggak mau Pa, Evan mau yang ini." Rengek Evan.
" Nanti coba di betulin dulu, siapa tau masih bisa dipakai." Ucap Dona mencoba menenangkan Evan.
" Ma, kenapa Carlos selalu merebut apa pun yang Evan suka. Carlos sudah merebut kasih sayang Mama dan Papa, Carlos juga sudah merebut kamar Evan, dan sekarang, tablet kesayangan Evan dirusak sama Carlos." Ucap Evan lalu menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
Frans memeluk Evan dengan sangat erat, walau pun Evan sudah menerima kehadiran Carlos, tapi di hati Evan masih ada sedikit rasa tersisihkan.
" Sayang dengerin Papa." Frans mendongakan wajah Evan agar menatapnya.
" Bukankah kamu sudah menganggap Carlos sebagai adik kamu," Evan menganggukan kepalanya.
" Kalau kamu sudah menganggap Carlos sebagai adik kamu, seharusnya kamu bisa mengalah untuk Carlos. Kamu ini lebih tua dari Carlos, kamu ini abangnya Carlos. Dan sebagai abang, sudah sepantasnya kamu mengalah untuk adik kamu, apa pun itu." Ucap Frans.
" Tapi Pa Evan kan--"
" Sekarang Evan harus berjanji sama Mama dan Papa, Evan harus selalu mengalah untuk Carlos, apa pun itu. Karena Mama dan Papa tidak suka kedua anak Mama saling membenci. Evan harus bisa mengerti kalau yang Carlos miliki itu hanya kamu, hanya kamu yang bisa membuat Carlos tetap tersenyum dan bahagia seperti sekarang ini. Carlos itu sangat menyayangi kamu, apa kamu mau berjanji sama Mama dan Papa?" Tanya Dona.
Evan menganggukan kepalanya. Dona dan Frans langsung memeluk Evan.
" Evan juga sayang sama Carlos Ma, Evan janji, Evan akan selalu mengalah demi Carlos, Evan akan selalu membuat Carlos bahagia." Ucap Evan.
" Itu baru anak Papa." Ucap Frans sambil mengusap lembut puncak kepala Evan.
⭐⭐⭐⭐
Budayakan klik tanda jempol dan kasih bintang 5 setelah selesai membaca ya, itu berarti usaha aku kalian hargai dengan menekan tombol like dan menjadikan novel ini sebagai novel favorit kalian. Itu akan membuat aku semakin tambah bersemangat, apa lagi kalian semua juga meninggalkan jejak berupa coment.
Dan jangan lupa mampir juga ke novel yang Season 2 ya, ceritanya juga nggak kalah seru kok. Terimakasih atas dukungan kalian selama ini Ya.🙏🙏🙏😘😘
__ADS_1