
Evan sangat senang bisa bertemu lagi dengan kakak cantiknya setelah 2 tahun mereka tidak bertemu. Dona dan Frans mengucapkan selamat kepada Gasta dan Sakti. Dona kagum melihat kecantikan Gasta, gimana Evan nggak tertarik dengan Gasta, Gastanya aja masih terlihat seperti remaja yang masih duduk dibangku SMA.
Gasta memang mempunyai wajah yang sangat imut, dan lagi kulitnya yang putih mulus. Evan dan Carlos juga mengucapkan selamat kepada Gasta dan Sakti.
Karena acara sudah selesai, Sakti mengajak keluarga sahabatnya untuk berbincang-bincang disalah satu ruangan di hotel itu.
" Maaf ya Kak, Evan terlambat." Ucap Evan meminta maaf.
" Nggak apa-apa kali Van, kakak senang akhirnya kamu bisa datang keacara pernikahan kakak, kakak minta maaf ya, karena nggak menemui kamu disaat terakhir liburan kamu, waktu itu kakak sibuk banget." Ucap Gasta sambil mengusap lembut puncak kepala Evan.
" Emmm..nggak apa-apa kok Kak." Ucap Gasta sambil menepiskan senyumannya.
" Gimana kamu nggak tertarik sayang, kakak cantikya aja secantik ini." Sanjung Dona yang membuat Gasta tersipu malu.
" Makasih tante atas pujiannya." Ucap Gasta.
Kedua mata Dona membulat seketika saat Gasta memanggilnya tante. Frans, Sandy dan Mery tertawa mendengar Gasta memanggil Dona dengan sebutan tante.
" Kok pada tertawa, apa ada yang salah ya dengan ucapan aku?" Tanya Gasta binggung.
" Pa, apa Mama udah kelihatan tua ya?" Tanya Dona sambil menepuk kedua pipinya. Frans menggelengkan kepalanya sambil menahan tawanya.
" Kalau menurut kamu Mer?" Tanya Dona lagi.
" Kakak masih cantik kok, awet muda lagi, walau umur kakak sekarang hampir kepala 4." Goda Mery dan langsung kena cubitan dilengan oleh Dona.
Mery mengeryitkan dahi sambil menahan sakit dilengannya.
" Terus kamu maunya di panggil apa Don? Kakak gitu, kayak Evan manggil Gasta kakak?" Ledek Sandy yang langsung mendapat tatapan mematikan dari Dona.
Gasta yang merasa bersalah dan binggung harus memanggil apa kepada Dona hanya diam seribu bahasa. Dona yang melihat ekspresi wajah Gasta berubah seketika langsung mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Kapan-kapan main kerumah tante ya."
Mendengar ucapan Dona seketika Gasta langsung mengeryitkan dahinya. Gimana tidak terkejut, tadi tidak suka dipanggil tante, tapi sekarang Dona malah menyebut dirinya tante.
__ADS_1
" Emm..maksud aku, main ke rumah Evan yang di Jakarta, suami kamu udah tau kok dimana rumah Evan." Sambung Dona lagi dengan menepiskan senyumannya. Gasta menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
Setelah lama bercakap-cakap mereka pamit undur diri. Waktu juga sudah semakin larut. Dona dan Frans memutuskan untuk menginap di rumah Sandy, karena tidak memungkinkan untuknya menempuh perjalanan yang cukup melelahkan apa lagi malam sudah semakin larut.
Sebelum pulang, Gasta memberikan sebuah paperbag kepada Evan. Evan sudah tidak sabar ingin mengetahui isi paperbag itu.
" Ayo Van, buka paperbagnya, aku juga penasaran apa isinya." Ucap Carlos lalu duduk disamping Evan.
Kini Evan dan Carlos sedang berada didalam kamar, malam ini mereka akan tidur satu kamar. Karena Carlos tidak terbiasa tidur sendirian selain di rumahnya sendiri. Evan mengambil sebuah kotak dari dalam paperbag itu. Sebuah kotak yang dibungkus rapi dengan kertas kado berwarna biru muda dan diatasnya diberi pita berwarna merah.
Evan dengan perlahan membuka bungkus kado itu. Ternyata didalam kotak itu terdapat dua buah kotak musik dan juga bingkai dengan foto Evan dan Gasta, foto yang Gasta ambil saat dia berkunjung ke rumah Mery 2 tahun yang lalu.
Evan membuka kotak musik itu, dia ingat lagu yang diputar dikotak musik itu lagu favorit Gasta. Evan memeluk bingkai foto itu.
" Ini kotak musik yang satunya buat kamu." Ucap Evan sambil memberikan salah satu kotak musik kepada Carlos.
Carlos menerima kotak musik itu dengan senang hati. Ternyata Gasta juga memperhatikan Carlos meskipun dia tidak terlalu akrab dengannya. Evan dan Carlos tidur sambil menyalakan kotak musik itu.
»»»»»
Kevin menelfon sekretaris Bos nya untuk memesan dua porsi makanan, karena dirinya juga merasa lapar. Sudah berjam-jam pula dirinya membantu Bos nya untuk mengecek berkas-berkas perusahaan Marcel.
Setelah kejadian penggelapan dana waktu itu, kini perusahaan Marcel sudah kian membaik. Bahkan banyak perusahaan besar yang menawarkan diri untuk bekerja sama.
Terdengar suara ketukan pintu, Kevin beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Dia lalu membuka pintu.
" Ini Pak, pesanannya." Ucap Widya sambil menyerahkan paperbag kepada Kevin.
" Makasih ya, sekarang kamu bisa kembali berkerja." Ucap Kevin sambil menerima paperbag yang berisi makanan.
Kevin menutup pintu lalu berjalan menuju meja kerja Frans.
" Bos, kita makan siang dulu. Ini saya sudah membelikan makan siang untuk Bos." Ucap Kevin sambil menujukan paperbag yang dibawanya.
Frans menganggukan kepalanya, dia lalu menutup laptopnya. Kevin mengeluarkan makanan dari dalam paperbag dan menaruhnya diatas meja.
__ADS_1
" Kamu memang asisten aku yang pengertian, tau aja kalau aku sedang lapar." Ucap Frans lalu mengambil makanan dari atas meja.
Frans membuka makanan itu, lalu dia mengambil satu sendok lalu dia masukan kedalam mulutnya.
" Kamu tau aja makanan kesukaan aku," Sambungnya.
" Sebenarnya ini yang beli Widya Bos, tadi saya cuma memintanya untuk membeli makanan, tapi saya tidak bilang harus membeli makanan apa." Ucap Kevin sambil mengunyah makanan.
" Oo..gitu, Widya memang biasanya aku suruh untuk membeli makanan kalau kamu sedang memantau perusahaan Marcel, makanya dia langsung hafal makanan kesukaan aku."
" Bisa gitu ya Bos." Ucap Kevin dengan menyengir kuda.
" Jangan mikir yang macam-macam ya kamu!" Seru Frans.
" Mana berani saya Bos, bisa-bisa nanti saya dipecat lagi. Dan juga mana mungkin Bos akan melakukan itu, sedangkan istri Bos aja secantik bidadari, apa lagi itunya..buihh..mantap Bos." Goda Kevin dan langsung mendapat lemparan bantal sofa kemukanya.
Untung saja makanan yang ia pegang tidak jatuh. Kalau sampai jatuh, lapar itu perut.
" Maaf Bos, cuma bercanda." Ucap Kevin sambil mengambil bantal yang jatuh ke lantai.
" Jadi selama ini kamu memperhatikan tubuh istri aku!" Seru Frans geram.
" Ya nggak lah Bos, lagian sebelum menjadi istri Bos, Dona kan sahabat aku. Mana mungkin juga aku berani kayak gitu Bos." Ucap Kevin dengan menyengir kuda.
⭐⭐⭐⭐
Hai para readers sekalian, maaf ya kalau cerita aku kali ini kurang menarik. Semoga kalian semua masih suka membaca tulisan aku ini.
Biasakan klik tombol jempol dan kasih bintang 5 ya, jadikan novel ini sebagai novel favorit kalian semua.
Terimakasih atas dukungan kalian selama ini, jangan lupa kasih like, coment yang banyak ya.
Jangan lupa juga baca novel kelanjutannya yang season 2..
Terimakasih,
__ADS_1
💞💞💞💞💞