
Dona bangun pagi-pagi sekali, dia beranjak turun dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi Dona keluar dari kamar mandi, dia mengambil baju yang masih ada di dalam koper, karena semalam ia belum sempat menatanya di dalam lemari. Setelah selesai berpakaian, dia keluar dari kamar dan menuju dapur.
Dona memasak nasi goreng untuk sarapan, setelah selesai memasak, dia menaruh nasi goreng di atas piring dan meletakkannya di atas meja makan. Tak lupa dia membuat dua gelas susu hangat.
Dona berjalan menuju kamar, dia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar. Dia berjalan menuju ranjang dan melihat Frans masih terlelap. Dona memandang lekat wajah Frans.
" Walau dalam posisi tidur pun kamu tetap tampan." ucap Dona pelan.
Tiba-tiba tangan Dona di tarik oleh Frans, alhasil Dona pun terjatuh dalam pelukan Frans.
" Sayang kamu sudah bangun ya, kok nggak membangunkan aku." ucap Frans sambil memeluk tubuh Dona.
" Lepasin aku, ayo cepetan bangun, kamu nggak kerja, ini sudah siang." ucap Dona sambil melepaskan tangan Frans dari perutnya.
" Ini jam berapa sayang?" tanya Frans sambil menyenderkan tubuhnya.
" Jam 08.00 pagi, cepetan kamu mandi." ucap Dona sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Frans dan melipatnya.
Frans turun dari ranjang, dia mendekati Dona dan mencium kilas bibir Dona.
" Good morning sayang." ucap Frans sembari tersenyum.
" Sudah sana cepetan mandi." ucap Dona lalu mendorong pelan tubuh Frans.
Wajah Dona bersemu merah atas perlakuan Frans tadi. Frans mengambil handuk dalam lemari dan berjalan menuju kamar mandi.
" Aku tunggu di bawah ya." ucap Dona sambil berjalan keluar kamar.
" Ya.." sahut Frans sambil masuk kedalam kamar mandi.
Dona duduk di kursi meja makan sambil menunggu Frans, tiba-tiba ponsel Dona berbunyi.
" Halo.." sahut Dona.
" Halo Don, dimana kamu sekarang?" tanya Tari.
" Aku di rumah Pak Frans."
" Apa! kamu tinggal bersama Pak Frans?" teriak Tari terkejut.
" Jangan teriak keras-keras, nanti aku ceritakan semuanya sama kamu." Ucap Dona.
" Terus bagaimana kabar Mama kamu?" tanya Tari penasaran.
" Kabar Mama aku baik dan sudah sehat, hari ini aku sudah masuk kerja."
__ADS_1
" Ya sudah nanti kita ketemu di kantor, aku kangen banget sama kamu." ucap Tari.
Dona mematikan telfonnya. Frans keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan.
" Siapa yang telfon pagi-pagi begini?" tanya Frans sambil duduk di samping Dona.
" Tari..dia menanyakan kabar Mama."
" Ayo cepetan di makan sarapannya." sambung Dona lagi.
" Siap bos.." ucap Frans.
Dona tertawa mendengar ucapan Frans.
" Kok malah ketawa sih." ucap Frans kesal.
" Habisnya kamu panggil aku bos, bukannya kebalik, seharusnya aku yang bilang kayak gitu karena kamu kan bosnya." ucap Dona sambil menahan tawa.
" Aku memang bosnya, tapi kamu adalah nyonya Bos." ucap Frans sambil memegang tangan Dona.
Dona cuma diam dan memandang wajah Frans. Frans mencium kilas bibir Dona.
" Kenapa diam saja, ayo cepetan di makan." ucap frans sambil memasukan sesuap nasi goreng di mulutnya.
Dona mulai memakan sarapannya. Setelah selesai makan, Frans dan Dona bersiap-siap berangkat ke kantor. Frans dan Dona masuk ke dalam mobil, Frans melajukan mobilnya menuju kantor.
" Kita sudah sampai Nyonya Bos, silahkan turun." ucap Frans sambil membukakan pintu mobil..
Frans mengulurkan tangannya untuk membantu Dona keluar dari mobil. Dona dengan senang hati menerima uluran tangan Frans dan keluar dari mobil.
" Terimakasih Tuan Bos." ucap Dona sambil tersenyum.
Frans mengandeng tangan Dona dan berjalan menuju loby, semua karyawan melihat kearah tangan Frans yang mengandeng Dona. Frans tidak memperdulikan semua tatapan itu dan terus berjalan menuju lift. Tapi beda dengan Dona, dia merasa seakan semua cewek di kantor ini akan menerkamnya. Dona tau kalau pegawai cewek disini sering memuji ketampanan Frans dan berharap bisa menjadi pacarnya. Dona terus menundukkan kepalanya sampai didepan lift.
" Kamu kenapa? kok dari tadi aku lihat kamu menunduk terus." tanya Frans penasaran.
" Nggak kok, aku cuma malu saja semua karyawan pada melihat ke arah kita."
" Biarin saja, mereka kan iri sama kemesraan kita." ucap Frans sambil menggenggam tangan Dona.
Pintu lift terbuka, Frans dan Dona masuk kedalam Lift. Di dalam lift Frans tak henti-henti menggoda Dona. Bahkan Frans berkali-kali menciumi bibir seksi Dona. Frans seakan telah tertarik semakin dalam hingga tak akan sanggup jika harus kehilangan Dona.
Dona mengerucutkan bibirnya lalu keluar dari lift dan berjalan menuju ruang kerja. Frans hanya tersenyum melihat tingkah Dona. Dia merasa puas karena telah berhasil menggoda Dona.
Frans membuka pintu dan masuk kedalam ruangan. Dia duduk di kursi kerjanya dan membuka laptop. Frans mengecek semua berkas-berkas dan file, selama di tinggal ke Bandung.
Dona memeriksa berkas-berkas yang perlu di tanda tangani oleh Frans, setelah selesai Dona pergi keruangan Frans. Dona mengetuk pintu.
__ADS_1
Tokk..tokk..tokk..
Setelah mendengar sahutan dari dalam Dona membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Frans. Dona berjalan menghampiri Frans.
" Pak ini berkas-berkas yang perlu anda tandatangani." ucap Dona sambil memberikan berkas berkas yang ada ditangannya.
Frans menghentikan aktivitasnya dan menatap Dona tajam. Dona tidak tau kenapa Frans menatapnya begitu, tatapannya sangat menakutkan bagai harimau yang siap menerkam mangsanya. Frans berdiri dan berjalan kearah Dona. Frans berdiri dihadapan Dona.
" Sayang kamu tadi panggil aku apa?" tanya Frans sambil melipat tangannya di atas dada.
" Aku tadi panggil kamu Bapak, memangnya ada yang salah ya?" tanya Dona binggung.
" Jangan pernah panggil aku dengan sebutan Bapak lagi, aku lebih suka kamu panggil aku seperti biasanya, kamu panggil aku sayang." ucap Frans marah.
" Tapi ini kan di kantor, anda adalah atasan saya."
" Aku nggak perduli, mau di kantor atau nggak panggil aku sayang." ucap Frans kesal.
Dona merasa ada yang aneh dengan sikap Frans, dia mudah emosi kayak cewek yang lagi PMS saja. Dona pun menyentuh wajah Frans dan mencium kilas bibir Frans.
" Kamu kenapa sih, lagi ada masalah apa? kok sensitif banget."
" Maafin aku sayang, aku nggak suka saja kamu panggil aku Bapak, dan hari ini pekerjaan aku menumpuk, maaf ya karena sudah marah-marah nggak jelas sama kamu." ucap Frans sambil memegang tangan Dona.
" Nggak apa-apa kok, aku mengerti, mau aku bantuin?" tawar Dona.
" Nggak usah, terimakasih atas perhatiannya, sekarang kamu balik keruangan kamu saja, aku mau melanjutkan pekerjaan aku." tolak Frans.
" Beneran nggak mau aku bantuin." tanya Dona lagi.
" Beneran sayang."
" Ya sudah aku balik keruangan aku dulu, kalau kamu butuh sesuatu panggil aku ya." ucap Dona sambil berjalan keluar.
Frans kembali duduk di kursi kerjanya.
Didalam ruangan Dona hanya melamun, dia kasihan melihat Frans.
" Baaaaaa." teriak Tari mengejutkan Dona.
" Tari!" teriak Dona terkejut.
" Kamu ya, menggangetkan aku aja, kalau aku sampai jantungan gimana." ucap Dona terkejut.
" Maaf, maaf, habis dari tadi aku ketuk-ketuk pintu nggak dibukain dan waktu aku masuk kedalam kamu juga diem saja, jadi ya aku berinisiatif untuk menggangetkan kamu." jelas Tari sambil duduk didepan Dona.
"Kamu lagi ngelamun apa?" tanya Tari penasaran.
__ADS_1
¤¤¤¤