Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 7..


__ADS_3

Dona dan Frans mengajak kedua anaknya untuk mengunjungi Oma nya di Bandung. Apa lagi kedua anaknya saat ini sedang menikmati liburan semester.


Evan dan Carlos terlihat sangat bahagia, mereka juga sangat merindukan kedua Oma nya. Apa lagi Evan, dia sangat merindukan adik perempuannya Monica. Gadis cilik yang sering menjadi korban kejahilan Evan.


" Semuanya sudah siap? Nggak ada yang ketinggalan kan?" Tanya Frans.


" Nggak ada Pa, semuanya udah Mama bawa." Ucap Dona sambil kembali memeriksa barang bawaannya.


" Tunggu sebentar Pa, Evan ada barang yang ketinggalan!" Seru Evan.


" Ya udah cepetan kamu ambil, Papa dan Mama akan tunggu diluar." Ucap Frans.


Carlos menemani Evan mengambil barang di kamarnya. Evan membuka laci meja belajarnya dan mengambil sesuatu. Terlihat senyuman tipis dari bibir Evan.


" Apa yang ketinggalan Van?" Tanya Carlos penasaran.


Carlos melihat senyuman yang mengisyaratkan sesuatu dari wajah Evan. Carlos melihat ada hal yang mencurigakan dari tingkah Evan.


" Bukan apa-apa, ayo kita keluar, kasihan Papa dan Mama sudah menunggu diluar." Ucap Evan lalu berjalan keluar dari kamarnya.


Carlos merasa ada yang sedang Evan sembunyikan darinya. Apa itu Carlos juga tidak tau.


Dalam perjalanan Evan dan Carlos terlihat sangat bahagia. Dona senang melihat kedua anaknya tertawa lepas seperti sekarang ini. Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai di rumah Sandy.


Mereka turun dari mobil, Frans dan Dona mengambil barang-barang bawaannya dari dalam bagasi mobil. Evan dan Carlos lebih dulu berjalan menuju pintu utama. Mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua Oma nya. Evan mengetuk pintu utama.


Tokk..tokk..tokk..


Dona dan Frans hanya tersenyum melihat tingkah kedua anaknya yang sudah tidak sabaran.


" Sebentar!" Teriak Mery sambil berjalan menuju pintu utama.


" Siapa ya Ma yang datang?" Tanya Monic.


" Mama juga nggak tau sayang." Ucap Mery lalu membuka pintu utama.


" Hai tante..hai Monic." Sapa Evan saat pintu sudah terbuka dengan sepenuhnya.


" Ee..keponakan tante tersayang. Tante kangen banget sama kalian berdua." Ucap Mery lalu memeluk Evan dan Carlos.


Mery melihat Frans dan Dona yang sedang sibuk membawa barang-barang bawaannya.


" Kakak mau pindahan ya, kenapa bawa barang-barang banyak sekali." Goda Mery lalu membantu Dona membawakan barang bawaannya.


" Nggak tau itu kakak kamu, udah aku bilangin nggak usah bawa apa-apa tapi tetap ngeyel." Ucap Frans dengan mengerucutkan bibirnya.


" Ini itu aku bawa oleh-oleh buat semuanya." Ucap Dona.


Mery hanya tersenyum melihat Frans merajuk karena ulah kakaknya. Mereka masuk ke dalam rumah. Mona dan Meysa sangat bahagia melihat anak dan cucu nya datang mengunjungi mereka.


" Lain kali nggak perlu bawa apa-apa sayang, kalian datang kesini aja Mama udah sangat bahagia." Ucap Mona sambil memeluk Frans.


" Bilangin aja ke menantu Mama ini," Ucap Frans lalu menatap Dona.


Dona sama sekali tidak mengubris ucapan suaminya yang sedari tadi merajuk.


" Mama sehatkan." Ucap Dona sambil memeluk Mona dan Meysa secara bergantian.


" Mama sehat, mertua kamu juga sehat, jadi kamu nggak usah terlalu mengkhawatirkan kami berdua." Ucap Meysa.


Mona dan Meysa mencari kedua cucu mereka yang sangat mereka rindukan.


" Cucu-cucu Mama dimana ini?" Tanya Meysa.

__ADS_1


" Biasa Ma, lagi main sama Monic." Ucap Dona sambil mengeluarkan semua oleh-oleh yang dibawanya.


»»»»»


Evan, Carlos dan Monic sedang bermain di taman depan rumah. Monic sedang asyik duduk di ayunan. Evan berjalan menghampiri Monic dengan tangan yang ia sembunyikan di balik tubuhnya.


" Mon..abang punya hadiah buat kamu." Ucap Evan dengan senyuman di wajahnya.


Monic terlihat sangat senang karena abangnya mau memberinya hadiah. Jarang-jarang Evan memberinya hadiah.


" Apa itu bang? Boneka ya, abang mau memberi Monic boneka?" Tanya Monic penasaran.


" Kamu pejamkan mata dulu, nanti abang akan kasih tau kamu." Ucap Evan dengan senyuman di wajahnya.


Tanpa merasa curiga Monic menuruti semua ucapan Evan. Monic mulai memejamkan kedua matanya. Carlos hanya mengamati gerak-gerik Evan dari kejauhan. Evan memegang tangan Monic dan meletakkan sesuatu di tangan Monic.


" Sekarang buka mata kamu." Ucap Evan.


Monic merasa ada yang bergerak-gerak di tangannya. Gadis kecil itu mulai membuka matanya secara perlahan. Ia lalu membuka telapak tangannya secara perlahan.


" Aaaa..abang jahat!" Teriak Monic sambil mengibas-gibas kan tangannya.


Carlos yang mendengar teriakan Monic lalu berlari menghampiri Monic dan Evan. Evan tertawa terpingkal-pingkal melihat raut wajah Monic yang seketika langsung memucat karena ketakutan.


" Apa yang kamu lakukan sama Monic?" Tanya Carlos cemas.


Monic menangis sambil memeluk Carlos. Gadis kecil itu terlihat sangat ketakutan. Evan memegangi perutnya yang terasa sakit karena terus menerus tertawa.


" Aku--"


Evan menghentikan tawanya sejenak. Ia mulai mengatur nafasnya yang tidak beraturan karena terus menerus tertawa.


" Aku cuma memberikan hadiah untuk Monic, dasar Monic nya yang penakut." Ucap Evan dan kembali tertawa.


" Memangnya apa yang kamu berikan ke Monic?" Tanya Carlos penasaran.


Carlos mencoba menenangkan Monic dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Mereka meninggalkan Evan sendirian yang masih terus mengerutu kesal.


" Dasar Monic nya aja yang penakut, masa sama jangkrik aja takut." Ucap Evan sambil mendengus kesal.


Evan mengikuti Carlos dan Monic masuk ke dalam rumah. Evan mencari keberadaan Mama nya.


" Ma, Evan lapar." Ucap Evan sambil duduk disamping Mama nya.


" Kamu mau makan apa sayang? Biar oma suapi." Ucap Meysa.


Evan mencium tangan Meysa lalu memeluknya. Bocah kecil itu menganggukan kepalanya. Meysa membawa Evan ke meja makan.


" Kalau Evan ada disini, terus Monic dan Carlos dimana ya? Bukannya tadi mereka bermain bersama." Ucap Dona cemas.


Dona berjalan mencari Carlos dan Monic. Wanita itu berteriak memanggil nama Carlos dan Monic.


" Carlos disini Ma!" Teriak Carlos dari teras belakang rumah.


Dona berjalan menghampiri Carlos dan Monic. Wanita itu melihat Monic menangis dalam dekapan Carlos. Dona duduk disamping Carlos.


" Kenapa Monic menangis sayang?" Tanya Dona lalu memeluk Monic.


" Biasa Ma, ini semua ulah Evan. Evan menjahili Monic pakai jangkrik." Ucap Carlos.


Dona menghapus air mata gadis kecil itu. Dan meminta maaf atas kejahilan anaknya.


" Kamu tenang aja ya sayang, tante akan menghukum bang Evan. Tante nggak akan membiarkan bang Evan menjahili kamu lagi." Ucap Dona lalu mengecup kening Monic.

__ADS_1


Dona mengajak Carlos dan Monic masuk ke dalam rumah. Dona mengendong Monic, wanita itu sangat menyayangi keponakannya ini. Dona ingin sekali mempunyai anak perempuan, tapi dirinya takut untuk hamil lagi. Wanita itu seakan mempunyai trauma di kehamilan pertamanya yang sangat sulit ia lalui. Selain itu Frans juga melarang Dona untuk hamil lagi.


Pria itu tidak tega melihat wanita yang sangat ia cintai menderita menahan sakit di saat kehamilannya. Apa lagi kondisi rahim Dona yang lemah.


Dona mengajak Carlos dan Monic menuju ruang makan. Dona mendudukan Monic disamping Evan.


" Dasar penakut." Ledek Evan sambil menatap tajam kearah Monic.


Dona hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap anaknya kepasa adik perempuannya.


" Evan, sekarang Mama minta kamu untuk minta maaf kepasa adik kamu Monic. Mama nggak suka melihat sikap kamu kepada Monic." Ucap Dona.


" Tapi Ma, Evan kan nggak salah apa-apa, dasar Monic nya aja yang penakut." Ucap Evan.


" Sayang, Monic kan masih kecil, apa lagi umurnya masih 3 tahun. Kamu sebagai abangnya seharusnya melindungi Monic bukan malah menjahilinya dan membuatnya menangis." Ucap Dona sambil mengusap lembut puncak kepala Evan.


" Maaf." Ucap Evan sambil mengerucutkan bibirnya.


" Yang tulus dong sayang." Pinta Dona.


Evan mengulurkan tangannya, " Maafin abang ya Mon." Ucapnya. Monic menganggukan kepalanya dan menjabat tangan Evan.


" Nah..gitu dong. Itu baru benar. Lain kali jangan buat adik kamu menangis, Mama nggak suka. Evan kan anak yang baik." Ucap Dona dengan mengecup kening Evan.


" Jadi itu yang tadi kamu ambil dari laci meja belajar kamu?" Tanya Carlos.


" Heemmm."


Meysa mengusap lembut puncak kepala Evan.


" Kok cucu Oma ini sekarang jadi anak yang nakal ya." Goda Meysa.


" Evan nggak nakal kok Oma, Evan kan cuma bercanda, lagian Monic nya aja yang cenggeng. Masa cuma sama jangkrik aja takut." Ucap Evan sambil mengerucutkan bibirnya.


" Itu karena Monic masih kecil sayang, dulu waktu kamu seumuran Monic juga penakut. Apa lagi jika sama kecoa, kamu takutnya minta ampun." Goda Meysa.


" Evan nggak takut sama kecoa, Carlos itu yang takut sama kecoa." Ucap Evan.


" Kok kamu jadi bawa-bawa aku sih, wajarkan kalau aku takut sama kecoa. Kecoa itu kan binatang yang menjijikan, rasanya pengen muntah bila mencium baunya." Ucap Carlos dengan gaya seakan-akan ingin muntah.


Dona dan Meysa hanya tersenyum melihat tingkah Evan dan Carlos. Evan dan Carlos memiliki sifat yang bertolak belakang, Carlos sangat penyayang dan sabar, sedangkan Evan memiliki sifat yang badung dan jahil.


»»»»»


Dona dan Mery sedang menikmati keindahan malam di teras belakang rumah. Mereka mengenang momen-momen kebersamaan mereka dulu.


" Aku kangen sama Mira kak." Ucap Mery sambil menatap bintang-bintang di langit.


" Kakak juga sangat merindukan Mira. Kakak bangga kepada Mira dan Marcel, mereka telah membesarkan dan mendidik Carlos dengan baik. Sifat Carlos sangat mirip dengan Mira. Sifatnya yang sabar dan penyayang, dia bahkan bisa menerima setiap ejekan dari teman-temannya. Dia juga tidak pernah membenci teman-temannya itu." Ucap Dona sambil menghela nafas panjang.


" Gimana hubungan kamu dengan Sandy? Apa dia masih pencemburu seperti dulu?" Tanya Dona sambil melihat Mery. Mery menganggukan kepalanya.


Mery teringat akan acara Reuni kampusnya. Saat itu Mery menghadiri acara itu dan di temani oleh Sandy. Mery senang bisa berkumpul dengan teman-temannya. Dia juga bisa bertemu lagi dengan Davin. Sandy sangat cemburu melihat Mery bercanda tawa dengan Davin. Apa lagi status Davin yang masih sebagai karyawan di perusahaannya.


" Aku nggak tau Kak harus gimana lagi, masa aku cuma mengobrol sama teman kampus aku aja, Kak Sandy udah cemburu kayak gitu. Padahal Kak Sandy tau kalau aku dan Davin nggak ada hubungan apa-apa. Selain itu kita kan dulu pernah kerja di perusahaan yang sama." Ucap Mery kesal.


Dona juga tau betul bagaimana sifat Sandy, karena dirinya pernah menjalin hubungan dengan Sandy selama kurang lebih 3 tahun. Sandy memang orang yang pencemburu dan suka bersikap protektif.


" Ya kamu juga harus bisa mengerti keadaan Sandy. Dia itu takut kehilangan kamu, kakak bisa lihat dia itu sangat mencintai kamu." Ucap Dona sambil menepuk bahu Mery.


" Apa Kak Sandy dari dulu sifatnya memang seperti itu ya kak?" Tanya Mery penasaran.


Dona tersenyum dan menganggukan kepalanya.

__ADS_1


⭐⭐⭐⭐


⭐⭐⭐⭐


__ADS_2