
Hari ini Frans dan Dona sudah bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta, mereka kini tengah duduk di ruang tamu dengan semua keluarga. Dona bisa melihat betapa Carlos sangat tidak rela jika dirinya kembali ke Jakarta dan tidak menemaninya. Dona mengusap lembut puncak kepala anaknya.
" Jangan sedih dong sayang, Mama kan cuma mau pulang ke Jakarta untuk menemani Papa kamu. Kalau Mama disini kan kasian nanti Papa kamu nggak ada yang nemenin." Ucap Dona lalu mengusap lembut pipi Carlos.
Mery berdiri lalu duduk disamping Carlos.
" Nanti Tante dan Om akan ajak kamu jalan-jalan. Gimana kamu mau nggak?" Bujuk Mery, Carlos seketika langsung menganggukan kepalanya.
Dona hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Carlos yang langsung berubah ceria setelah di iming-imingi mau di ajak jalan-jalan oleh Mery.
" Kamu tenang aja Don, besok biar Evan dan Carlos aku yang antar pulang, kalian nggak usah menjemputnya." Ucap Sandy.
" Makasih ya San, aku titip kedua anak aku. Kalau nanti mereka berdua nakal kamu marahi aja." Goda Dona lalu memeluk kedua anaknya.
" Mama pulang dulu ya sayang, kalian harus dengeri kata Om, Tante dan Oma." Sambung Dona lagi. Evan dan Carlos menganggukan kepalanya.
Setelah berpamitan, Dona dan Frans masuk ke dalam mobil, mereka melambaikan tangannya. Frans melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sandy.
Evan mengajak Carlos masuk ke dalam rumah, Sandy berjalan menghampiri kedua keponakannya.
" Mumpung hari ini weekend dan Om lagi nggak ada pekerjaan, bagaimana kalau kita jalan ke wahana bermain?" Ucap Sandy lalu duduk disamping Evan.
" Yang bener Om, Carlos mau Om. Kamu juga mau kan Van?" Tanya Carlos dengan senyuman di wajahnya.
Sebenarnya Evan tidak ingin pergi kemana-mana tapi demi Carlos ia akhirnya mengiyakan ajakan Carlos. Evan hanya ingin membuat Carlos bahagia, dan tidak lagi sedih karena ditinggal Mama nya.
" Ya udah, sekarang kalian bersiap-siap, biar Om ajak Tante dan Monic juga." Ucap Sandy lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Evan dan Carlos.
Sedangkan dua bocah kecil itu berjalan menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Carlos terlihat sangat bahagia. Setelah sekian lama akhirnya dia bisa pergi ke wahana bermain lagi. Terakhir Carlos pergi bersama dengan kedua orang tuanya sebelum kecelakaan naas itu terjadi dan merengut nyawa kedua orang tuanya.
Setelah selesai bersiap-siap mereka keluar dari kamar. Sandy, Mery dan kedua anaknya sudah menunggu di luar. Mereka masuk ke dalam mobil. Sandy melajukan mobilnya menuju wahana bermain.
Dalam perjalanan Carlos, Evan dan Monic terlihat sangat bahagia. Mereka bernyanyi dan tertawa bersama-sama. Sandy dan Mery sangat bahagia bisa melihat kebahagia kedua keponakannya dan juga anaknya.
__ADS_1
Sesampainya di wahana bermain Carlos dan Evan terlihat sudah nggak sabaran ingin mencoba semua permainan yang ada. Evan mengajak Carlos untuk menaiki bong-bong Car. Sedangkan Mery menaikan Ricart dan Monic ke dalam kereta Mini yang hanya berputar di tempat. Monic dan Ricart terlihat sangat bahagia.
Ricart dan Monic melambaikan tangan mereka kearah Mery. Sedangkan Sandy menemani Evan dan Carlos bermain bong-bong Car. Evan beberapa kali sengaja menabrakan mobilnya ke mobil Carlos hingga membuat Carlos mengerutu kesal.
Carlos terus berteriak agar Evan tidak lagi menabrakan mobilnya ke mobilnya, tapi Evan sama sekali tidak mengubris ucapan Carlos.
" Evan hentikan!" Teriak Carlos.
" Kenapa? Kamu takut." Ucap Evan sambil terus tertawa.
Bagi Evan ini adalah permainan yang menyenangkan tapi tidak dengan Carlos. Ia menjadi tidak leluasa mengendalikan mobilnya karena Evan terus menghalangi jalannya. Sandy hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua keponakannya.
Pria itu juga membayangkan bagaimana sikap kedua anaknya jika sudah seumuran Evan dan Carlos. Apakah mereka akan akur, atau malah akan seperti Tom dan Jerry yang tidak akan pernah bisa akur.
Setelah puas bermain Sandy dan Mery mengajak mereka untuk pergi makan siang. Mereka pergi ke sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari wahana bermain. Karena Evan dan Carlos ingin kembali bermain setelah usai makan siang.
Kedua bocah itu sama sekali tidak mempunyai rasa lelah sedikitpun. Padahal Evan dan Carlos sudah mencoba berbagai macam permainan.
Saat mereka sedang menikmati makan siang, kedua mata Sandy menangkap sosok yang ia kenal.
" Kak Sandy melihat apaan sih, sampai nggak berkedip gitu?" Tanya Mery lalu menatap kearah apa yang dilihat oleh suaminya.
" Kak, bukannya itu Sakti dan Gasta!" Seru Mery lalu memanggil Sakti dan Gasta.
Sakti dan Gasta menengok kearah sumber suara yang sedari tadi memanggil-manggil nama mereka.
" Kak, bukannya itu Kak Mery dan suaminya?" Ucap Gasta lalu melambaikan tangannya kearah Mery.
" Kita kesana yuk kak, kita gabung sama mereka aja biar lebih seru." Sambung Gasta.
Sebenarnya Sakti enggan duduk semeja dengan Sandy, tapi pemuda itu tidak ingin kekasihnya curiga kepadanya. Akhirnya Sakti mengiyakan ajakan sang pujaan hati.
" Kak Mery udah lama disini?" Tanya Gasta lalu menarik kursi dan duduk didepan Mery. Sedangkan Sakti duduk didepan Sandy.
__ADS_1
" Nggak, kita baru aja kok. Kalian habis dari mana?" Tanya Mery.
" Habis jalan-jalan kak." Ucap Gasta sambil menatap Evan dan Carlos.
" Mereka anak-anak kamu Kak?" Tanya Gasta.
" Yang dua cowok itu keponakan aku, sedangkan gadis kecil dan jagoan kecil ini anak aku." Ucap Mery.
Sandy dan Sakti hanya diam tak bersuara, Sandy sedang sibuk menyuapi Monic. Evan menatap wajah Gasta.
" Kakak cantik ini teman tante Mery ya?" Tanya Evan.
" Iya sayang, kakak ini teman tante Mery, kenalin nama kakak Gasta, nama kamu siapa?" Tanya Gasta sambil mengusap lembut puncak kepala Evan.
" Nama aku Evan, kakak cantik deh, kalau aku udah besar nanti, aku ingin punya pacar kaya kakak." Ucap Evan dengan polosnya.
Sandy dan Mery hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keponakannya yang sudah berani merayu cewek di usianya yang masih belia.
" Kamu itu masih kecil, nggak boleh bicara soal pacar." Ucap Carlos.
" Dasar kamu lucu deh." Ucap Gasta sambil mencubit gemas pipi Evan.
" Masih kecil udah pandai merayu, besok kalau udah besar jangan menjadi playboy ya." Ucap Sakti.
Evan mencemberutkan bibirnya, anak itu tidak suka saat melihat lengan Sakti melingkar di bahu Gasta.
" Kenapa cemberut kayak gitu? Kamu nggak suka lihat Om merangkul kakak cantik kamu." Goda Sakti saat melihat raut wajah Evan yang seketika berubah masam.
" Om aja nggak marah saat kamu merayu pacar Om." Sambung Sakti lagi lalu menyingkirkan lengannya dari pundak Gasta.
Sandy tersenyum menatap Sakti yang sedari tadi mengoda keponakannya. Pria itu merasa Sakti bukan lagi ancaman untuk dirinya. Karena pria itu bisa melihat betapa Sakti sangat mencintai kekasihnya.
" Jangan ganggu kakak cantik ya Om, Evan nggak suka!" Seru Evan dengan wajah masih cemberut.
__ADS_1
Sakti tertawa mendengar ucapan bocah kecil yang ngencar menunjukan rasa sukanya kepada kekasihnya. Begitu pula dengan Mery dan Sandy, mereka tidak menyangka dipertemuan pertama Evan sudah tertarik dengan Gasta dan berani berbicara seperti itu kepada Sakti.
⭐⭐⭐⭐