Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapther 16..


__ADS_3

Setelah selesai melakukan pemeriksaan pada kaki Evan. Dokter itu menyuruh suster untuk membawa Evan ke kamar inap. Meysa dan Carlos menemani Evan di kamar inap, sedangkan Sandy tengah bersama dengan dokter yang menanggani Evan.


" Bagaimana keadaan keponakan saya Dok?" Tanya Sandy cemas.


" Bapak tidak perlu takut, keponakan bapak baik-baik saja. Ular yang menggigit kaki keponakan bapak tidak berbisa, saya tadi juga sudah menyutikan obat untuk penawar bisanya." Ucap Dokter itu.


" Syukurlah, saya benar-benar takut Dok, saya takut kalau ular yang menggigit keponakan saya itu ular berbisa." Ucap Sandy lalu menghela nafas lega.


" Anda bisa langsung membawanya pulang setelah keponakan anda sadar. Dan ini saya tuliskan resep untuk vitamin dan daya tahan tubuhnya." Ucap Dokter sambil menuliskan resep dan diberikan kepada Sandy.


Setelah mengucapkan terimakasih, Sandy keluar dari ruangan pemeriksaan. Sandy berjalan menuju ruang rawat inap Evan.


Sandy melihat Evan sudah sadarkan diri dan sekarang sedang di peluk oleh Carlos. Sandy tersenyum melihat kedekatan kedua keponakannya.


" Apa kata Dokter San?" Tanya Meysa cemas.


" Evan baik-baik aja kok Ma, dia sudah boleh pulang. Ternyata ular yang menggigit kaki Evan bukan ular berbisa." Ucap Sandy sambil mengusap lembut puncak kepala Evan.


" Maafin Evan Om, Evan sudah membuat semua orang khawatir." Ucap Evan menyesali perbuatannya.


Sandy duduk di tepi ranjang, ia langsung menarik Evan kedalam pelukannya.


" Maafin Om ya, karena Om nggak bisa jagain kamu. Yang penting sekarang kamu baik-baik saja." Ucap Sandy sambil menampakan senyuman diwajahnya.


" Sebenarnya apa yang kamu lakukan di kebun Pak Rusdi?" Tanya Sandy penasaran.


" Emmm..tadi Evan hanya ingin mengejar kucing Om, kucing itu masuk kedalam kebun. Saat Evan mau menangkap kucing itu tiba-tiba kaki Evan digigit sama ular. Evan berteriak karena takut, setelah itu Evan nggak tau apa yang terjadi." Ucap Evan sambil menundukan wajahnya.


" Kamu nggak sedang membohongi Om kan?" Tanya Sandy curiga.


" Iya Van, tadi kata Monic kamu mau jalan-jalan dan semalam kamu juga bilang sama aku kalau kamu nggak ingin balik ke Jakarta sebelum bertemu dengan kakak cantik." Ucap Carlos.


Sandy dan Meysa saling menatap, Sandy menghela nafas panjang dan menepuk bahu Evan.


" Sayang, kakak cantik itu sudah ada yang punya, lagian kamu ini masih kecil, ngapain mikirin kayak gituan. Yang seharusnya kamu lakukan itu belajar biar pintar dan jadi juara kelas." Ucap Sandy.

__ADS_1


" Evan selalu menjadi juara kelas kok Om, Carlos aja nggak bisa mengalahkan Evan. Dia selalu berada di urutan nomor 2." Ledek Evan.


" Keponakan Om ini memang pandai, Om bangga pada kalian." Ucap Sandy.


" Tapi tadi Evan tidak bohong Om, Evan tadi memang mau mengenar kucing. Kucingnya bagus Om, bulunya tebal dan panjang. Warnanya coklat keemasan gitu. Itu kucing milik siapa ya Om, kok dibiarin lepas gitu aja." Ucap Evan penasaran.


" Iya Om percaya, Om juga tidak tau itu kucing milik siapa. Gimana keadaan kamu, apa kamu merasa pusing atau apa?" Tanya Sandy sambil menyentuh dahi Evan.


" Evan nggak apa-apa kok Om, Evan hanya takut aja. Lain kali Evan nggak mau main di kebun lagi, takut sama ular." Ucap Evan bergidik ngeri.


Setelah mengurus semua administrasi, Sandy membawa Evan pulang. Sesampainya di rumah Mery langsung berlari memeluk Evan.


" Sayang, apa ada yang sakit? Maafin tante ya sayang, tante nggak bisa jagain kamu." Ucap Mery lalu melepaskan pelukannya.


" Evan baik-baik aja kok tante, ini kan salah Evan, jadi tante nggak usah minta maaf sama Evan." Ucap Evan sambil menampakan senyuman manisnya.


Sandy menyuruh Carlos untuk mengajak Evan ke kamar. Ia menunda kepulangan Evan dan Carlos. Mery memberitahu suaminya jika dirinya sudah memberitahu Dona dan Frans, dan mengatakan jika mereka sedang dalam perjalanan kesini.


Mona dan Meysa menemani Evan dan Carlos didalam kamar. Evan merasa sangat bersalah karena telah membuat keluarganya khawatir.


Mona mengusap lembut puncak kepala Evan.


" Seharusnya Oma yang minta maaf sayang, seharusnya Oma bisa jagain kamu." Ucap Mona.


Mery masuk ke dalam kamar membawakan makanan untuk Evan dan Carlos.


" Sekarang kalian makan dulu, biar kalian punya tenaga lagi." Ucap Mery sambil memberikan mangkuk berisi sup kepada Evan dan Carlos.


" Sini biar Oma suapi." Ucap Mona sambil mengambil mangkuk sup dari tangan Evan. Sedangkan Meysa menyuapi Carlos.


Setelah selesai makan, Carlos ikutan tidur disamping Evan. Mona dan Meysa keluar dari kamar untuk menemui Sandy dan Mery.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, Dona dan Frans akhirnya sampai di rumah Sandy. Dona langsung menemui anak-anaknya.


" Sayang, maafin Mama. Seandainya Mama waktu itu menemani kalian disini, maka semua ini tidak akan terjadi." Ucap Dona sambil memeluk Evan yang tengah tertidur lelap.

__ADS_1


" Ma, jangan menyalahkan diri Mama sendiri. Ini semua udah takdir Ma, sekarang biarkan anak-anak tidur." Ucap Frans sambil mengusap punggung Dona.


Dona mengecup kening Evan dan Carlos, setelah itu mereka keluar dari kamar. Mereka kini tengah duduk diruang tengah. Frans bertanya tentang musibah yang menimpa Evan. Sandy menceritakan semuanya, dari apa yang di ceritakan Carlos juga dan perihal soal Gasta kekasih Sakti.


Dona dan Frans saling menatap, mereka tidak percaya dengan semua ucapan Sandy. Tapi Mery membenarkan semua ucapan suaminya.


" Tapi kakak tenang aja, Gasta itu gadis yang sangat baik, dia juga sayang sama Evan. Evan juga akan segera melupakan Gasta setelah nanti balik ke Jakarta." Ucap Mery.


" Tapi yang bikin kakak penasaran, kenapa Evan bisa tertarik dengan Gasta, padahal umur mereka terlaut jauh sekali." Ucap Dona penasaran.


" Aku sendiri juga binggung sih kak, bocah seusia Evan bisa mengenal yang namanya cinta. Dan lebih mengejutkan lagi dia tertarik sama kekasihnya Sakti. Ya memang sih Gasta itu masih muda, umurnya aja baru 20 tahun, mana cantik lagi." Sanjung Mery.


Dona tidak ingin anaknya berjalan di jalan yang salah, di usia Evan sekarang ini yang harus ia lakukan adalah belajar dan bersenang-senang. Dona memutuskan untuk membawa pulang Evan dan Carlos hari itu juga.


" Don, kamu nggak usah terlalu mengkhawatirkan Evan. Dia itu hanya belum bisa membedakan rasa sayang dengan cinta. Aku yakin Evan hanya sayang sama Gasta, sebab dia sangat baik dan sayang sama Evan. Gasta sudah menganggap Evan seperti adiknya sendiri." Ucap Sandy mencoba memberi penjelasan kepada Dona.


" Mama jangan memarahi Evan, dia masih kecil dan belum tau apa-apa, nanti kita akan memberi Evan pengertian secara perlahan." Ucap Frans lalu memeluk istrinya. Dona menganggukan kepalanya dan memeluk suaminya dengan sangat erat.


" Papa yakin Evan nggak akan salah jalan Ma, dia kan masih kecil dan belum tau apa-apa. Kita harus percaya sama Evan." Sambung Frans lagi.


" Mama hanya takut Pa, Mama merasa telah gagal mendidik Evan. Mama hanya takut Evan akan menjadi Playboy seperti mendiang Marcel." Ucap Dona.


Sandy dan Frans tertawa mendengar ucapan istrinya. Dona masih saja menghubungan masalah ini dengan sifat Marcel. Kasian Bang Marcel Don, aduh..kamu tuduh kayak gitu 😣😢😭.


⭐⭐⭐⭐


Maaf nie, aku selingi dengan sedikit obrolan ya. Maaf juga jika setiap bab aku numpang Promosiin novel aku yang lain. Novel lanjutan dari novel ini " HARUSKAH AKU MENGALAH " kenapa novel yang season 2 nggak seramai yang disini ya.


Apa tidak ada nie yang mampir baca untuk season yang kedua. Aku minta dukungannya juga dong, untuk novel yang season 2..ramaikan juga seperti yang season 1 ini.


Kalau binggung caranya gimana, KLIK AJA PROFIL AKU. itu cara yang paling mudah 👍👍


Dan tak lupa, kasih like dan coments nya ya 🙏🙏🙏


💞💞💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2