Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Tujuh bulan


__ADS_3

5 Bulan kemudian..


Kini usia kandungan Dona sudah menginjak bulan ke tujuh. Dona baru saja menjalani prosesi tujuh bulanan.


"Sayang kamu pasti capek, ayo sekarang aku akan membawa kamu ke kamar untuk istirahat." ucap Frans.


Frans tidak tega melihat kondisi istrinya yang sangat lemah, sebenarnya Frans tidak setuju mengadakan acara tujuh bulanan bila mengingat kondisi Dona yang sangat lemah, tapi kedua orang tua mereka bilang ini harus dilakukan, karena ini sudah menjadi adat bagi wanita yang hamil anak pertama.


"Baik sayang." ucap Dona.


Frans memapah tubuh Dona dan membantunya menaiki tangga, mereka berjalan menuju kamarnya. Frans merebahkan tubuh Dona di atas ranjang.


"Sekarang istirahatlah, aku akan menemanimu disini." ucap Frans sambil duduk di kursi dekat ranjang.


"Maafin aku ya sayang, karena aku sudah merepotkan kamu." ucap Dona sedih.


Dona tidak tega melihat suaminya selalu mengkhawatirkan keadaanya. Dona sebenarnya tidak mau menjadi wanita lemah yang hanya merepotkan orang lain, tapi keadaan tak mendukungnya, karena kehamilan pertamanya ini tubuhnya sudah tidak seperti dulu lagi, tapi Dona harus bersabar demi bayi yang kini sedang di kandungnya.


"Kenapa minta maaf, ini sudah jadi tugas aku sebagai suami kamu dan juga ayah bagi calon anak kita." ucap Frans sambil mengecup kening Dona.


Frans sanggup melakukan apa pun demi kebahagiaan istri dan calon anaknya, walaupun ia harus menahan sakit bila melihat kondisi istrinya yang sangat lemah. Apalagi Dokter menyarankan untuk Dona melahirkan secara cecar melihat kondisi yang tidak mungkin sanggup bila melahirkan secara normal.


Awalnya Dona menolak, karena ia ingin merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya. Tapi Frans selalu menyakinkan Dona, walau dia tidak melahirkan secara normal, tapi dia tetap berjuang demi mempertahankan bayinya dengan kondisi seperti ini.


"Sayang bagaimana kabar Mira, aku dengar dia udah hamil 3 bulan." ucap Dona.


"Iya sayang, kabar mereka baik, sekarang mereka sedang berada di LA karena Marcel ada bisnis disana." ucap Frans.


"Aku senang sayang akhirnya Mira dan Marcel sebentar lagi akan menyusul kita." ucap Dona senang.


Terpancar kebahagian di wajah Dona bila mengingat adiknya Mira, Dona bahagia karena kini adiknya sudah berumah tangga dan sebentar lagi dia juga akan menjadi seorang ibu seperti dirinya.


"Sayang istirahatlah, aku tau kamu pasti capek." ucap Frans sambil menyelimuti tubuh Dona.


"Baiklah." ucap Dona sambil memejamkan matanya.


Setelah Dona tertidur Frans pergi ke ruang kerjanya, ia memeriksa file-file dan berkas-berkas yang ia bawa pulang, akhir-akhir ini pekerjaan Frans sangat menumpuk, karena ia harus membagi waktunya untuk mengurus kantor dan istrinya. Walau ada Mona dan Meysa di rumah, tapi Frans tetap ikut andil dalam mengurus istrinya, karena ia selalu mengkhawatirkan istrinya.

__ADS_1


Tutt...tutt..tutt...( ponsel Frans berbunyi )


Frans mengambil ponsel dari atas meja dan melihat siapa yang menelfon, ternyata Marcel yang menelfon. Frans menjawab telfon dari Marcel.


"Ada apa, cel?" sahut Frans.


"Sorry ya Frans aku dan istri aku nggak bisa datang ke acara tujuh bulanan Dona, aku nggak bisa meninggalkan pekerjaan aku disini." ucap Marcel.


Marcel dan Mira menyesal karena mereka tidak bisa menghadiri acara yang penting untuk Dona dan Frans, karena kesibukannya yang membuatnya tak bisa meninggalkan pekerjaannya.


"Nggak apa-apa kok, bagaimana pekerjaan kamu, lancar kan?" tanya Frans.


"Alhamdulillah lancar." ucap Marcel.


"Dona mana? ini Mira mau bicara sama Dona." sambung Marcel lagi.


"Maaf Cel, Dona baru aja tidur, aku nggak bisa membangunkannya, kamu tau kan karena kehamilannya ini tubuh Dona menjadi sangat lemah, apalagi setelah menjalani prosesi tujuh bulanan yang sangat menguras tenaganya." ucap Frans.


"Kamu harus bersabar ya Frans, kamu harus memberi dukungan kepada Dona, beri dia semangat agar dia tidak sedih." ucap Marcel.


Marcel sebenarnya juga tidak tega melihat kondisi Dona. Untungnya Mira tidak mengalami hal seperti Dona jika tidak mungkin dia juga akan seperti Frans.


"Maafin aku ya Frans, aku nggak ada di samping kamu saat kamu membutuhkan bantuan aku." ucap Marcel menyesal.


"Kenapa kamu minta maaf, ini juga bukan salah kamu, pekerjaan kamulah yang membawamu pergi jauh dari aku." ucap Frans.


Frans dan Marcel adalah sahabat dari kecil, Frans sudah menganggap Marcel seperti kakak kandungnya sendiri. Mereka tak pernah berpisah selama ini.


"Udah dulu ya Cel, aku harus menyelesaikan pekerjaan aku malam ini juga." ucap Frans.


"Baiklah, salam untuk Dona." ucap Marcel.


"Ok.." ucap Frans lalu menutup telfonnya.


Frans kembali meneruskan pekerjaannya. Frans merasa sangat haus akhirnya ia keluar dari ruang kerjanya dan berjalan menuju dapur. Frans mengambil air mineral dari dalam lemari pendingin lalu meneguknya.


Saat Frans ingin kembali ke ruang kerjanya Frans melihat Mery sedang duduk sendirian.

__ADS_1


"Ngapain malam-malam begini Mery duduk disitu?" ucap Frans penasaran.


Frans berjalan menghampiri Mery, ia penasaran kenapa Mery duduk disana sendirian.


"Ngapain kamu duduk disini sendirian?" tanya Frans.


"Ah kak Frans mengagetkan aja." ucap Mery terkejut.


"Kamu melamun ya, sampai tidak sadar akan kedatanganku." ucap Frans.


"E--enggak kok kak." ucap Mery gugup.


"Kamu lagi ada masalah? kamu bisa cerita sama aku." ucap Frans sambil duduk di sofa tak jauh dari tempat duduk Mery.


Frans bisa melihat kegelisahan dari raut wajah Mery.


"Ada apa Mer? kenapa kamu diam aja?" tanya Frans penasaran.


"Enggak ada apa-apa kok kak." ucap Mery.


"Apa ini semua ada hubungan dengan Sandy?" tanya Frans menebak nebak.


Frans tau kalau sebenarnya Mery menaruh hati sama Sandy. Tapi Frans juga tau kalau Sandy itu masih belum bisa melupakan Dona.


"Kalau ada hubungannya sama Sandy, kamu ceritain sama aku, aku akan mencoba untuk membantu kamu." ucap Frans.


"Enggak usah kak, ini masalah aku, aku ingin menyelesaikannya sendiri." ucap Mery.


"Jadi benar ini ada hubungannya dengan Sandy? apa kamu menyukainya?" tanya Frans.


"Ya aku menyukainya, tapi apa gunanya rasa cinta ini kalau ternyata kak Sandy belum bisa melupakan kak Dona, aku tau kalau kak Sandy itu masih sangat mencintai kak Dona." ucap Mery sedih.


"Mer..jika kamu benar-benar menyukai Sandy maka perjuangkan lah, sekeras-kerasnya batu kalau terus kena tetesan air maka akan rapuh juga, begitu juga dengan Sandy, kalau kamu terus mencurahkan kasih sayang kamu kepada Sandy, maka perlahan-lahan Sandy juga akan mulai menyukaimu." ucap Frans.


"Tapi bagaimana aku bisa memulainya kak, kak Sandy aja nggak mau deket-deket sama aku." ucap Mery.


"Kalau kamu mau ikutin saran aku, maka kamu harus--"

__ADS_1


¤¤¤¤


__ADS_2