Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Ketakutan Mery..


__ADS_3

Sudah berbulan bulan Mery menunggu kabar gembira tapi tak kunjung muncul tanda-tanda akan kehamilannya. Jujur saja saat ini Mery ingin sekali mempunyai momongan. Sudah dua tahun semenjak pernikahannya dengan Sandy. Kadang Mery merasa sedih dan menyesal karena dulu dia nekat meminum obat pencegah kehamilan. Tapi Sandy selalu ada untuk menghibur Mery.


"Kak, kenapa aku belum juga hamil ya, kita udah menikah selama dua tahun." Mery mengeluh kepada Sandy.


"Sabar sayang, mungkin Allah belum mempercayakan kita untuk merawat salah satu hamba-Nya." Ucap Sandy sambil menggenggam tangan Mery.


Sebenarnya Sandy juga sudah tidak sabar ingin memiliki momongan, tapi Sandy harus bersabar dan menguatkan Mery agar tidak putus asa.


"Gimana kalau kita tanyakan ini sama Reni Kak." usul Mery.


"Baiklah, kita akan periksa ke rumah sakit, tapi apapun nanti hasilnya kamu harus kuat."


Mery menatap Sandy dan menganggukkan kepalanya. Akhirnya merekapun bersiap-siap ke rumah sakit. Setelah sampai di rumah sakit mereka langsung menuju ruangan Reni.


Sebelumnya Mery sudah mengirim pesan kepada Reni kalau dia dan Sandy akan berkonsultasi padanya. Mery mengetuk pintu ruangan Reni.


Tok..tok..tok..


"Masuk." sahut Reni.


Mery membuka pintu, dan masuk kedalam diikuti oleh Sandy dibelakangnya, mereka duduk di depan meja kerja Reni.


"Ada apa Mer? kamu mau konsultasi soal apa?" tanya Reni.


Mery pun menceritakan kepada Reni perihal masalah yang kini tengah dia hadapi. Reni akhirnya menyuruh Sandy dan Mery untuk cek kondisi tubuh mereka.


Setelah melakukan cek laboratorium, Reni memberikan vitamin untuk Mery. Reni merasa ini akibat dari Mery yang mengkonsumsi pil pencegah kehamilan.


"Kamu tenang aja, kalian harus lebih berusaha lagi. Kalau bisa melakukannya jangan tiap hari. Mungkin 3 kali dalam seminggu." ucap Reni.


"Kenapa harus seperti itu? bukannya setiap hari itu lebih mempercepat kehamilan." Tanya Sandy protes.


"Emmm..gimana ya, kalau menurut kedokteran hal kayak gitu nggak baik jika dilakukan tiap hari. Lebih baik kasih waktu jeda.Ya paling nggak dua hari sekali." jelas Reni.


"Makasih ya Ren, kalau gitu kita permisi dulu." Pamit Mery lalu berdiri.


"Besok kalau hasil lab nya udah keluar akan aku menghubungimu." ucap Reni.

__ADS_1


Mery merasa khawatir tentang hasil tesnya. Dia takut kalau yang bermasalah adalah dirinya. Sandy menggenggam tangan Mery memberinya kehangatan dan kekuatan.


"Baiklah, makasih ya." ucap Mery.


Mery dan Sandy keluar dari ruangan Reni. Mereka berjalan menuju mobil.


"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Sandy penasaran karena melihat Mery sedari tadi hanya diam.


"Kak, kalau ternyata aku nggak bisa hamil bagaimana? kalau ternyata yang bermasalah aku bagaimana? aku takut kak, apa kak Sandy akan meninggalkan aku, karena aku nggak bisa memberi kak Sandy keturunan?" tanya Mery cemas.


Tanpa sadar air mata menetes membasahi kedua pipi Mery. Sandy menghapus air mata Mery dan mengecup kening Mery.


"Jangan berfikir yang macam-macam. Apapun nanti hasilnya aku nggak akan pernah meninggalkan kamu."


"Tapi kak, jika aku benar-benar nggak bisa memberi kak Sandy keturunan bagaimana?" ucap Mery sambil menundukkan wajahnya.


"Itu nggak penting sayang, yang terpenting kamu selalu ada buat aku. Kita akan berusaha bersama-sama, dan semoga Allah memberikan kita kepercayaan untuk memilik anak." Ucap Sandy sambil tersenyum menatap Mery.


Mery bersyukur memiliki suami seperti Sandy yang sangat mencintainya. Mery juga menyesali perbuatannya dulu yang telah mengkonsumsi pil pencegah kehamilan.


Sandy dan Mery sangat terkejut karena Dona dan Mira berada di rumah mereka.


"Hai Tante, Om." Sapa Carlos dan Evan bersamaan.


"Hai sayang, kapan kalian datang?" Tanya Mery sambil memeluk kedua keponakannya yang sudah tubuh besar dan juga tampan.


"Kalian dari mana?" Tanya Mira yang berjalan kearah mereka.


"Dari rumah sakit." Jawab Sandy sambil berjalan mengusap lembut puncak kepala Carlos.


"Siapa yang sakit?" Tanya Dona yang tiba-tiba ikut nimbrung.


"Nggak ada, cuma check up aja." Ucap Mery sambil melirik Sandy.


"Halo jagoan-jagoan Om, kalian lagi pada libur ya." Ucap Sandy sambil berjongkok didepan Evan dan Carlos.


"Iya, Om. Evan kangen sama Tante Mery, udah lama Tante nggak main ke rumah Evan."

__ADS_1


Semenjak menikah Mery dan Sandy memang jarang mengunjungi keluarganya di Jakarta.


"Ya udah, sekarang kalian main sama Om ya." Ucap Sandy lalu mengajak Evan dan Carlos menuju teras belakang.


Dona dan Mira tau kalau Mery merahasiakan sesuatu.


"Kamu nggak mau cerita sama kakak." Ucap Dona sambil duduk di sofa.


Mira ikutan duduk di samping Dona. Mery merasa takut menceritakan masalah yang kini sedang ia hadapi.


"Nggak ada apa-apa kok Kak." Ucap Mery sambil duduk di samping Dona.


"Kamu nggak bisa berbohong sama kakak Mer, kakak bisa tau dari raut wajah kamu kalau kamu sedang gelisah memikirkan sesuatu." ucap Dona.


Mery memeluk Dona dan tanpa sadar air mata menetes membasahi kedua pipinya.


"Ada apa Mer? cerita sama kak, siapa tau kakak bisa membantu masalah kamu." Ucap Dona sambil mengusap lembut punggung Mery.


"Apa kak Sandy berbuat sesuatu sama kamu? apa kak Sandy menyakiti kamu lagi?" Tanya Mira cemas.


Mery melepaskan pelukannya dan mengelengkan kepalanya.


"Terus apa masalahnya?" tanya Mira penasaran.


"Aku takut kak, sampai sekarang aku belum juga hamil. Aku takut kalau ternyata aku nggak bisa hamil. Padahal kak Sandy ingin sekali memiliki anak." Ucap Mery sambil menghapus air mata.


"Kamu jangan putus asa, mungkin memang belum saat nya aja." Ucap Mira mencoba menenangkan Mery.


"Tapi kak, aku takut karena aku dulu pernah melakukan hal bodoh."


"Emangnya apa yang kamu lakukan?"


"Aku...a--aku meminum pil pencegah kehamilan." Ucap Mery gugup.


"Apa!"


¤¤¤¤

__ADS_1


__ADS_2