Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 19..


__ADS_3

Gasta dan Sakti memutuskan untuk menikah, mereka mengundang Mery, Sandy dan juga Evan dipernikahan mereka. Awalnya Mery menolak untuk menerima undangan untuk Evan, karena dia tidak bisa memberikan undangan pernikahan itu kepada Evan.


Mery menceritakan kepada Gasta tentang hari-hari yang dilalui Evan saat Gasta tidak lagi menemuinya. Gasta meminta maaf kepada Mery, dia tidak bermaksud untuk membuat Evan berharap padanya. Dia menyayangi Evan seperti adiknya sendiri, Gasta adalah anak tunggal dan dia ingin mempunyai seorang adik laki-laki.


Gasta senang bisa mengenal Evan yang berhati baik, karena kehadiran Evan, Gasta bisa merasakan rasanya mempunyai seorang adik laki-laki seperti yang dia impikan. Mery bisa mengerti keadaan Gasta, mungkin keponakannya yang sudah menyalah artikan perhatian dan kasih sayang Gasta.


" Ya udah, nanti biar aku beritahu kakak aku, kalau Evan dapat undangan pernikahan dari kamu." Mery mengambil undangan itu dari tangan Gasta, " sebenarnya kakak ipar aku sangat penasaran sama kamu, siapa gadis yang sudah mampu membuat anaknya jatuh hati di usia dini." Sambungnya.


" Sekali lagi maaf ya kak, aku itu sayang sama Evan, dia itu sudah aku anggap seperti adik aku sendiri. Aku yakin Evan juga menganggap aku sebagai kakaknya, hanya saja dia tidak mau mengakuinya dan malah menyalah artikan perasaannya." Ucap Gasta sambil menundukan wajahnya.


" Sudah lah sayang, lagian Evan kan sekarang udah besar, dia sekarang pasti sudah membedakan mana rasa sayang dan cinta. Lagian sebentar lagi dia juga udah mau SMP." Ucap Sandy sambil menggenggam tangan Mery.


Setelah menyampaikan niatnya dan berbincang-bincang, Gasta dan Sakti pamit pulang. Mery dan Sandy mengantar Gasta dan Sandy sampai kedepan pintu.


" Jangan lupa kasih ke Evan ya kak, aku sekalian juga mau minta maaf sama Evan." Ucap Gasta sebelum berjalan menuju mobil.


Mery menganggukan kepalanya.


Setelah kepergian Gasta dan Sakti, Mery menghubungi Dona..


Dona yang sedang asyik bersendau gurau dengan Evan dan Carlos mendegar suara ponselnya berbunyi. Dona mengambil ponselnya dari atas meja lalu mengangkat telfon itu.


" Hallo Mer," Sahut Dona.


" Gini kak, Evan dapat undangan pernikahan dari Gasta. Aku nggak bisa mengantarnya kesana jadi aku menelfon kakak, tolong sampaikan pada Evan."


" Maksud kamu Gasta cewek yang disukai Evan? Si kakak cantik itu?" Tanya Dona sambil mengeryitkan dahi.


Dona selama ini memang sangat penasaran dengan sosok Gasta yang sudah membuat anaknya sangat menyayanginya. Mery mengiyakan pertanyaan Dona.


" Ya udah nanti kakak sampaikan pada Evan."


" Acaranya seminggu lagi ya kak, jangan lupa, kalau gitu aku tutup telfonnya, aku cuma mau menyampaikan itu." Ucap Mery lalu mematikan telfon.

__ADS_1


Dona kembali meletakkan ponselnya diatas meja, ia melihat kedua anaknya kini tengah menatapnya.


" Ada apa? Kenapa kalian menatap Mama seperti itu?" Tanya Dona sambil menatap Evan dan Carlos yang sedari tadi menatapnya dengan ekpresi wajah terkejut.


" Ada apa dengan kakak cantik Ma? Kenapa tadi Mama menyebut nama kakak cantik?" Tanya Evan penasaran.


" Emmm..itu tadi tante Mery memberitahu kalau kakak cantik kamu akan menikah dengan Om Sakti, dia ingin kamu menghadiri pernikahannya." Ucap Dona dengan hati-hati.


Dona tidak ingin membuat anaknya kembali mengingat kenangan-kenangannya yang menyakitkan. Tapi dia melihat ekspresi yang berbeda dari wajah anaknya.


" Kenapa kamu malah senyum-senyum gitu?" Tanya Carlos penasaran.


" Ya aku bahagia aja, setelah 2 tahun tidak ketemu ternyata kakak cantik masih ingat sama aku. Aku juga bahagia akhirnya dia menikah dengan Om Sakti." Sahut Evan dengan senyuman diwajahnya.


" Jadi kamu menghadiri acara pernikahan mereka sayang?"


" Iya Ma, Evan ingin mengucapkan selamat untuk kak Gasta dan juga Om Sakti." Dona memeluk Evan dengan sangat erat.


»»»»»


Evan tengah asyik main game online di tablet barunya. Setelah kejadian kemarin, Frans langsung membelikan Evan tablet baru, bukan hanya Evan, Frans juga membelikan untuk Carlos.


" Jangan main game melulu, mentang-mentang tabletnya baru jadi sekarang jarang belajar." Goda Carlos lalu duduk disamping Evan.


Evan tidak mengubris omongan Carlos, karena dia sedang fokus dengan tabletnya.


" Van, aku boleh menanyakan sesuatu sama kamu nggak?" Tanya Carlos sambil memainkan tabletnya.


Baru saja dia mengatai Evan, tapi kini dia juga ikutan mainan tablet.


" Apa?" Sahut Evan sambil masih fokus dengan permainannya.


" Kenapa kamu bisa suka sama kak Gasta, padahal umur dia jauh diatas kamu." Ucap Carlos sambil memencet layar tabletnya. Entah permainan apa yang tengah Carlos mainkan.

__ADS_1


" Aku juga gak tau, aku hanya melihat kak Gasta itu baik, cantik dan sayang sama aku, itu aja sih menurutku."


" Tapi kamu tau kan kalau kak Gasta itu jauh lebih tua 11 tahun dari kamu, dan dia juga cuma menganggap kamu sebagai adiknya."


" Hemm..lagian sekarang aku juga udah lupa." Evan masih fokus dengan permainannya bahkan kedua tangannya terus menekan-nekan layar pada tabletnya.


" Ya....kalah deh!" Teriak Evan kesal sambil mengepalkan tangannya.


Carlos hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah abangnya yang sudah kecanduan game online. Carlos mematikan tablet nya lalu berdiri.


" Kamu mau kemana?" Tanya Evan saat melihat Carlos melangkah keluar dari kamarnya.


" Aku mau tidur siang, kenapa? Kamu butuh bantuan aku." Tanya Carlos sambil menengok kearah Evan.


" Temani aku kerumah Reza, ada sesuatu yang mau aku ambil." Ucap Evan lalu berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.


" Tapi mau naik apa, sepeda aku bocor, belum sempat ditambal." Ucap Carlos sambil mengikuti langkah kaki Evan.


" Pakai sepeda aku aja. Tapi kamu yang didepannya." Ucap Evan sambil tersenyum dan menggerakan kedua alisnya naik turun.


" Siapa yang butuh, siapa juga yang harus menderita." Gerutu Carlos sambil mencemberutkan bibirnya.


Carlos dan Evan berpamitan kepada Dona, setelah itu mereka berjalan menuju garasi. Carlos masih saja mencemberutkan bibirnya, tapi Evan tidak memperdulikannya. Evan memang paling suka mengerjai Carlos, karena dia suka melihat bibir Carlos yang cemberut, saking panjangnya hingga bisa dikepang dua.


Evan tersenyum membayangkan jika itu benar-benar bisa terjadi. Imajinasi Evan terlalu tinggi, mana ada bibir bisa dikepang dua..ada-ada aja.😄😄


⭐⭐⭐


Hai para pembaca setia Bos Yang Angkuh, maaf ya kemarin aku tidak bisa update. Karena kondisiku yang kurang fit, jadi aku nggak bisa membuat bab selanjutnya. Semoga kalian semua masih setia ya. Jangan lupa klik tombol like dan juga kasih bintang 5 ya kawan-kawan semua. Dan juga kalau kalian punya waktu untuk lima menit aja, untuk menulis coment, itu akan membuat aku semakin bersemangat.


Terimakasih ya, jangan lupa mampir baca juga yang season 2..


💞💞💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2