
Nena masih belum merasa tenang sebelum mendengar penjelasan dari Evan. Dia akhirnya mengirim pesan kepada Evan.
[ Aku tunggu di taman, sekarang ] Nena.
Setelah menunggu beberapa menit tak ada balasan dari Evan. Nena kembali mengirimkan pesan kepada Evan.
[ Aku nggak perduli, aku akan tetap menunggu sampai kamu datang ] Nena.
Evan membanting ponselnya ke lantai setelah membaca pesan dari Nena. Dia mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
"Sekarang apa yang harus aku lakukan, Nena nggak akan pernah menyerah, tapi aku juga nggak tega menyakiti hatinya."
Evan akhirnya memutuskan untuk menemui Clarisa, dia ingin meminta bantuan Clarisa. Evan keluar dari kamar dan berjalan menuju mobilnya. Evan melajukan mobilnya menuju rumah Clarisa.
Dalam perjalanan menuju rumah Clarisa, Evan memikirkan cara untuk membuat Nena menyerah dan percaya padanya.
Sesampainya di rumah Clarisa, Evan melihat mobil Tino terparkir di halaman rumah Clarisa. Evan mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil.
"Aku harus bagaimana? aku nggak bisa menemui Nena sendirian. Aku butuh bantuan Clarisa, tapi ada Tino disini."
Evan mengacak-acak rambutnya. Dia terlihat sangat frustasi.
"Brengsek!" Teriak Evan.
Evan keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama. Evan mengetuk pintu.
Tokk..tokk..tokk..
"Aku buka pintu dulu ya, kak." Ucap Clarisa lalu berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Evan!" Seru Clarisa saat pintu terbuka dengan sepenuhnya.
"Ada perlu apa kamu datang kerumah aku?"
"Aku butuh bantuan kamu sekarang, ini soal Nena." Ucap Evan sambil menggenggam tangan Clarisa.
"Emm..tapi--"
"Aku tau, ada Tino kan didalam, aku akan minta izin sama Tino."
"Memangnya kamu mau mengajak tunangan aku kemana?" Tanya Tino dari arah belakang.
Clarisa melepaskan tangannya dari genggaman tangan Evan.
"Aku butuh bantuan Clarisa untuk menemui seseorang."
"Siapa?"
Clarisa menarik tangan Tino dan membawanya masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Kak, aku mohon izinkan aku untuk membantu Evan sekal ini saja." Pinta Clarisa.
"Kenapa kamu masih perduli sama Evan? bukannya dia sudah menyakiti hati kamu?" Tanya Tino penasaran.
"Itu karena selama ini Evan sudah baik sama aku, dia selalu ada disaat aku membutuhkannya. Soal dia yang menolak cinta aku, itu sepenuhnya bukan salah Evan, tapi salah aku. Aku nggak bisa memaksa Evan untuk mencintaiku disaat dia tidak mencintaiku," Clarisa menggenggam tangan Tino.
"Evan itu sahabat aku kak, aku udah berteman lama denganny. Walau kakak tidak mengizinkan aku pergi, aku akan tetap membantu Evan. Maafkan aku kak." Ucap Clarisa lalu pergi meninggalkan Tino.
"Sa, aku percaya sama kamu. Aku yakin kamu nggak akan kembali mencintai Evan, karena aku tau, kamu udah mulai mencintaiku." Teriak Tino.
Clarisa tidak memperdulikan ucapan Tino, dia pergi menghampiri Evan dan mengajak Evan pergi dari rumahnya.
"Kita mau kemana?"
"Ke taman, tadi Nena memintaku untuk menemuinya di taman. Nanti kamu tunggu aku di mobil, setelah aku panggil kamu baru keluar."
Clarisa menganggukan kepalanya, Evan melajukan mobilnya menuju taman.
Sesampainya di taman, Evan melihat Nena sedang duduk sendirian di bangku taman.
"Aku keluar dulu, kamu tunggu disini."
Clarisa menganggukan kepalanya, Evan membuka pintu dan keluar dari mobil. Dia berjalan menghampiri Nena.
"Maaf, sudah lama menunggu ya."
"Kenapa kamu ingin bertemu denganku?" Tanya Evan sambil menatap kedua mata Nena.
Evan melihat ada setetes air mata disudut mata Nena.
"Apa tadi dia habis menangis? kenapa hati aku sakit saat melihatnya menangis?" Guman Evan dalam hati.
"Van, kenapa sikap kamu berubah sama aku?" Tanya Nena sambil menggenggam tangan Evan.
"Emm..maksud kamu apa? sikap aku nggak ada yang berubah."
"Kamu sekarang menjaga jarak dari aku, telfonku selalu kamu tolak. Bahkan di sekolah kamu seakan-akan menghindar dari aku," Nena terus menggenggam tangan Evan.
"Van, aku nggak mau seperti ini terus, aku nggak sanggup Van, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Aku mau kita kembali lagi seperti dulu." Pinta Nena.
Evan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nena.
"Maafkan aku Na, tapi aku nggak tau apa maksud kamu, sepertinya selama ini kamu salah paham dengan sikap aku selama ini. Maafin aku Na, tapi selama ini aku hanya menganggap kamu sebagai sahabat aku, nggak lebih."
Evan terpaksa mengatakan semua itu kepada Nena. Hatinya pun terasa sakit saat mengatakan semua itu, tapi dia tidak ada pilihan lain.
"Nggak! kamu bohongkan, Van. Aku tau kamu juga mencintaiku, semua sikap dan perhatian kamu selama ini menunjukan semuanya, kamu mencintaiku kan, Van. Katakan!" Teriak Nena.
Air mata yang menggenang dikedua mata Nena akhirnya mengalir membasahi kedua pipinya. Evan sebenarnya tidak tega melihat Nena menangis, tapi dia harus bisa menahan perasaannya demi Carlos.
__ADS_1
"Maafin aku, Na, tapi aku nggak pernah mencintaimu."
"Bohong! kamu bercanda kan, Van. Katakan semua ini tidak benar. Katakan!" Teriak Nena sambil menarik kerah baju Evan.
Clarisa yang melihat pertengkaran Evan dan Nena, akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobil dan menghampiri Nena dan Evan.
"Sayang, tadi katanya cuma sebentar, kok lama banget." Ucap Clarisa yang tiba-tiba muncul dari arah belakang.
Nena menatap tajam kearah Clarisa. Evan berdiri lalu merangkul pundak Clarisa.
"Maaf ya sayang, ini udah selesai kok. Kenapa kamu keluar, tadi kan aku menyuruhmu untuk menunggu di mobil." Ucap Evan dengan suara yang di buat-buat.
Nena berdiri dan menatap tajam kearah Evan dan Clarisa.
"Sebenarnya apa hubungan kalian berdua?"
"Aku, aku pacarnya Evan. Kita udah lama pacaran. Sekarang aku yang tanya sama kamu, ada apa kamu menyuruh Evan kesini? bukannya kamu itu pacarnya Carlos?" Tanya Clarisa dengan senyuman diwajahnya.
"Na, Clarisa adalah pacar aku, sebelum aku mengenal kamu, aku udah berhubungan dengan Clarisa. Aku mohon sama kamu, terimalah cinta Carlos, dia benar-benar mencintaimu. Aku yakin dia akan membahagiakan kamu." Pinta Evan.
"Lalu selama ini sikap dan perhatian kamu itu apa, Van? apa kamu mempermainkan perasaan aku disaat kamu masih berhubungan dengan Clarisa?" Teriak Nena yang mulai emosi.
"Kamu itu yang ke GR an, Evan udah biasa bersikap seperti itu sama semua cewek, tapi cinta Evan hanya untuk aku. Apa kamu nggak tau apa julukan Evan disekolah? Playboy, apa kamu masih percaya dengan plauboy seperti Evan?" Tanya Clarisa dengan nada sinis.
"Kamu jahat, Va. Aku membencimu, aku membencimu!" Teriak Nena keras.
"Terserah kamu, aku nggak perduli kamu mau membenciku seperti apa. Tapi aku hanya minta satu hal sama kamu, terimalah cinta Carlos, karena dia tulus mencintai kamu. Kamu nggak akan pernah menemukan pria baik seperti Carlos."
Evan mengandeng tangan Clarisa dan pergi meninggalkan Nena yang masih menangis.
"Maafin aku, Na, maafin aku." Ucap Evan sambil meremas rambutnya dengan kasar.
"Van."
Clarisa menggenggam tangan Evan.
"Aku nggak apa-apa kok, Sa. Makasih ya, kamu udah mau membantuku."
Evan menyandarkan tubuhnya ke punggung pengemudi.
"Van, kalau kamu mencintai Nena, kenapa kamu melepaskannya?"
"Karena Carlos juga mencintainya, aku nggak mau merebut Nena dari Carlos."
"Tapi Nena juga mencintai kamu, bukankah kamu bilang sama aku, cinta itu tidak bisa di paksakan. Tapi kenapa kamu memaksa Nena untuk menerima cinta Carlos?" Tanya Clarisa penasaran.
"Aku nggak memaksa Nena, aku cuma memberitahu Nena jika Carlos itu pria yang baik, dia pantas mendapatkan gadis yang baik seperti Nena. Soal dia may menerima Carlos atau tidak itu semua keputusan Nena." Ucap Evan lalu melajukan mobilnya meninggalkan taman.
⭐⭐⭐⭐
__ADS_1