
"Sandy!" Teriak Dona dan Frans bersamaan.
Dona hanya terpaku melihat Sandy datang ke rumah Frans. Frans berjalan menghampiri Sandy. Sandy berdiri dari duduknya.
" Ngapain kamu kesini?" tanya Frans sambil menarik kerah baju Sandy.
" Lepasin!" seru Sandy sambil menepis tangan Frans.
Mona yang melihat Frans berada tepat didepannya kini mulai berdiri. Dia menatap lekat wajah Frans, dia tidak percaya anaknya tumbuh dengan baik, dia tumbuh menjadi sosok laki-laki yang berwibawa dan tampan.
Mona melihat lengan Frans, dia mencari tanda lahir yang berada di lengan kanan Frans. Seketika Mona meneteskan air mata setelah melihat tanda lahir yang berada di lengan Frans. Frans menatap Sandy dengan penuh emosi.
" Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Dona sambil berjalan menghampiri Frans dan Sandy.
Dona melihat Mona yang meneteskan air mata.
" Tante, nggak apa-apa?" tanya Dona sambil menyentuh lengan Mona. Mona tersadar dari lamunannya.
" Tante nggak apa-apa." sahut Mona sambil menghapus air matanya.
" Ada apa tante kesini?" tanya Dona penasaran. Dona mendudukkan Mona ke sofa.
" Tante...tante...mau ket--"
Mona belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Frans menarik tangan Dona dan berjalan meninggalkan ruang tamu.
" Kamu apa-apa sih, main tarik aja." ucap Dona terkejut sambil melepaskan tangannya dari genggaman Frans.
" Aku nggak suka melihat kamu deket-deket sama Sandy." ucap Frans dengan nada marah.
" Kamu masih cemburu, kamu nggak percaya sama aku?" tanya Dona sambil memegang kedua pipi Frans.
" Aku nggak suka sayang." ucap Frans pelan.
" Lihat aku." Dona mengarahkan wajah Frans supaya menatap wajahnya.
" Aku harus membuktikan dengan cara apa lagi agar kamu percaya sama aku kalau hanya kamu yang aku cintai." Sambung Dona lagi.
" Maafin aku sayang." ucap Frans sambil memeluk tubuh Dona.
Dona memeluk tubuh Frans erat.
" Apa aku harus memberikan kesucian aku agar kamu percaya sama aku?" Bisik Dona di telinga Frans.
Frans sontak melepaskan pelukannya dan menatap wajah Dona.
" Kamu mau melakukan itu buat aku?" tanya Frans dengan senyuman di wajahnya.
" Enggak mau." goda Dona sembari tersenyum.
__ADS_1
Dona berjalan menuju ruang tamu.
" Awas ya kamu, liat aja, aku nggak akan melepaskan mu." ucap Frans sambil mengejar Dona.
Mona melihat Frans yang sedang berjalan menuju ruang tamu. Dona merasakan ada yang aneh dengan tatapan Mona terhadap Frans. Dona duduk di samping Mama nya.
" Ma sebenarnya ada apa ini?" tanya Dona pelan.
Dona menatap Mona yang masih menatap kearah Frans.
" Nanti kamu juga akan tau." sahut Meysa sambil memegang tangan Dona.
Mona berdiri dan mendekati Frans yang sedang berdiri di samping Dona. Frans menatap wajah Mona, Frans merasa tidak asing dengan wajah itu, tapi ada yang berbeda dengan wajah wanita yang ada didepannya.
" Maaf tante, ada yang bisa saya bantu?" tanya Frans ketika melihat Mona sudah berdiri didepannya.
" Frans." Mona menyentuh kedua pipi Frans.
" Frans anak Mama." ucap Mona tanpa sadar air mata menetes dikedua pipi Mona.
Frans hanya diam, dia kembali teringat dengan masa lalunya, suara yang begitu sangat dirindukannya. Kini terdengar di telinganya.
" Frans anak Mama, Mama sangat merindukanmu sayang." sambung Mona lagi sambil memeluk tubuh Frans.
" Mama, apa benar ini Mama?" tanya Frans terkejut.
" Mama, Frans sangat merindukan Mama." ucap Frans sambil memeluk tubuh Mona dengan erat.
Mona melepaskan pelukannya, dia menciumi kedua pipi Frans terus menerus, terpancar kebahagiaan di wajah Mona dan Frans.
" Anak Mama sudah tumbuh besar dan tampan." ucap Mona sambil menatap wajah Frans.
" Mama kemana aja, selama ini Frans mencari Mama kemana-mana tapi nggak pernah ketemu." tanya Frans.
" Ceritanya panjang sayang." ucap Mona sambil menggenggam tangan Frans.
Dona merasa bahagia, akhirnya Frans bisa bertemu kembali dengan Mamanya. Sandy dan Mira, berjalan keluar, mereka tidak mau menganggu Frans dan Mamanya. Dona dan Meysa juga pergi dari ruang tamu dan menuju dapur.
" Mama ayo duduk dulu." ajak Frans sambil mendudukan Mona di sofa.
Frans duduk bersimpuh didepan Mona. Dia menyenderkan kepalanya di pangkuan Mama nya, Mona membelai lembut rambut Frans.
" Sayang, maafin Mama karena telah meninggalkanmu." Mona terus membelai rambut Frans.
" Malam itu Mama nggak tau harus berbuat apa, hati Mama sakit, yang ada dalam pikiran Mama hanya bagaimana caranya Mama keluar dari rumah itu." Sambung Mona lagi.
" Kenapa Mama nggak kembali untuk menjemput ku?" tanya Frans sambil mendongak wajahnya menatap Mona.
" Bukannya Mama nggak mau menjemputmu, tapi Mama harus bangkit dulu dari keterpurukan, Mama nggak mau kamu hidup menderita bersama Mama. Setelah Mama sudah merasa mampu untuk menghidupi mu, Mama kembali ke rumah itu, tapi Mama nggak menemukan mu, rumah itu sudah dijual, berbagai cara Mama lakukan untuk mencari kamu tapi tetap nggak ketemu." sahut Mona mencoba memberi penjelasan kepada Frans.
__ADS_1
" Setelah setahun kepergian Mama,.Papa menikah lagi dan kita pindah ke Australia." ucap Frans.
" Jadi akhirnya Papa kamu menikahi wanita itu! karena wanita itu hidup Mama hancur, karena wanita itu Mama harus terpisah dengan kamu." ucap Mona.
" Setelah Papa menikah dengan tante Siska, Papa sudah nggak memperdulikan Frans lagi, ingin rasanya Frans pergi meninggalkan Papa dan mencari Mama, tapi karena waktu itu Frans masih kecil jadi Frans harus tetap bertahan. Setelah Frans lulus kuliah Frans kembali ke Bandung untuk mencari Mama, segala cara Frans lakukan tapi Frans nggak bisa menemukan Mama." ucap Frans.
" Sayang, Mama minta maaf karena Mama nggak bisa berada di samping kamu saat kamu sangat membutuhkan Mama." ucap Mona menyesal.
" Ini bukan salah Mama, ini semua salah Papa. Papa sudah mengkhianati Mama dan memilih tante Siska." ucap Frans.
" Mungkin Papa kamu nggak salah sayang, Mama lah yang salah karena telah hadir diantara Papa kamu dan Siska, kakek kamu menjodohkan Papa kamu dengan Mama dan Papa kamu terpaksa menikahi Mama, padahal saat itu Papa kamu sedang menjalin hubungan dengan Siska. Mama nggak mau tau dengan hubungan mereka, karena waktu itu Mama sangat mencintai Papa kamu, mungkin ini adalah balasan untuk Mama karena telah merebut Papamu dari Siska." ucap Mona.
" Mama jangan menyalahkan diri Mama lagi, yang terpenting sekarang kita bisa bersama lagi." Ucap Frans.
" Sayang, Mama sangat merindukanmu, Mama bahagia akhirnya Mama bisa bertemu kembali dengan anak kesayangan Mama." Ucap Mona.
Mona membantu Frans berdiri dan memeluknya. Dia begitu sangat merindukan anaknya.
" Oh ya, Mama tau dari mana frans tinggal disini?" tanya Frans sambil melepaskan pelukannya.
" Mama tau dari Sandy sayang." sahut Mona.
" Apa hubungan Mama dengan Sandy?" tanya Frans penasaran.
" Sandy anak Mama, adik kamu." sahut Mona.
Frans bagai tersambar petir disiang bolong. Orang yang begitu sangat dibencinya ternyata adalah adiknya sendiri.
" Enggak mungkin Ma, Mama pasti bohong. Frans dan Sandy hanya terpaut umur beberapa tahun, jadi nggak mungkin Sandy adalah adik Frans, Mama pasti bohong." ucap Frans dengan muka tidak percaya.
" Ceritanya panjang sayang, tapi Sandy memang anak Mama, walau dia bukan anak kandung Mama, tapi Mama sudah menganggap Sandy seperti anak kandung Mama sendiri." ucap Mona.
" Sayang Mama tau kamu sangat terpukul mendengar semua ini, Mama tau kamu nggak suka sama Sandy, tapi Mama mohon sama kamu jangan membenci Sandy lagi karena dia sekarang adalah adik kamu." Sambung Mona lagi. Mona menggenggam tangan Frans.
" Kalau Mama adalah Mamanya Sandy, itu berarti selama ini Mama kenal dengan Dona?" Tanya Frans.
" Ya..Mama sangat mengenal Dona, Sandy sering membawa Dona main ke rumah." Ucap Mona.
" Mama tau siapa Dona bagi Frans?" Tanya Frans.
" Mama tau sayang, Dona adalah calon istri kamu, tapi sayang, Sandy sudah mengikhlaskan Dona untuk kamu, hubungan mereka hanyalah masa lalu." Ucap Mona.
" Tapi Ma, Frans belum bisa sepenuhnya percaya sama Sandy. Frans yakin Sandy masih mengharapkan Dona." Ucap Frans cemas.
" Sayang dengerin Mama, kalau kamu nggak percaya sama Sandy setidaknya kamu percaya sama Dona." Ucap Mona sambil menyentuh kedua pipi Frans.
" Franss..." panggil Sandy dari depan pintu.
🌟🌟🌟🌟
__ADS_1