Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Bonus Chapter 29..


__ADS_3

Evan selalu menemani Clarisa disaat dia sakit, setiap pulang sekolah semua anggota Most Wanted datang ke rumah Clarisa. Mama Clarisa menyambut hangat kedatangan Deo, Carlos dan Evan. Kedua orangtua Clarisa sudah akrab dengan teman-teman Clarisa, terutama Evan dan Carlos, karena mereka putra dari rekan bisnis suaminya.


"Maaf ya tante, jika kami selalu merepotkan tante." Ucap Evan merasa tidak enak hati karena setiap hari berkunjung ke rumah Clarisa.


"Tante nggak merasa direpotkan, tante justru merasa bersyukur Clarisa mempunyai sahabat yang baik seperti kalian ini, yang mau menjenguk dan menemani Clarisa saat Clarisa sedang sakit."


"Clarisa juga teman yang sangat baik tante, makanya kita care sama Clarisa." Ucap Carlos.


"Ya udah, kalau begitu tante tinggal dulu ya, kalian terusin aja mengobrolnya, anggap saja seperti rumah sendiri."


"Beres tante." Ucap Deo dengan mengacungkan jempol. Clarisa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Deo yang sok akrab dengan Mama nya.


Mama Clarisa tersenyum lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Clarisa bersama dengan teman-temannya.


"Makasih ya, kalian udah mau datang menjenguk aku. Aku jadi nggak pernah merasa kesepian." Ucap Clarisa sambil tersenyum manis.


"Kamu jangan tersenyum seperti itu dong, bikin jantung aku dag dig dug aja." Goda Deo sambil melirik kearah Evan.


Evan menatap tajam kearah Deo, Deo mengantupkan kedua tangannya sambil tersenyum, dia tau saat ini Evan sedang cemburu terhadapnya.


"Ada yang cemburu nie ye.." Goda Carlos.


"Betul itu, kayaknya ada yang kepanasan nie. Sa, kenapa disini udaranya panas banget ya, apa kamu lupa menghidupkan AC nya." Sindir Deo sambil melirik kearah Evan.


"Betul itu Sa, kenapa disini udaranya menjadi semakin panas ya." Carlos ikutan memanas-manasi Evan.


"Los, kayaknya ada yang sedang terbakar api cemburu ya, baunya aja sampai gosong kayak gini." Goda Deo sambil sok bergaya menutup hidungnya dengan jari telujuknya.


"Udah nggak usah pada banyak bacot mulut kalian!" Seru Evan yang mulai kesal dengan tingkah sahabat dan juga saudaranya.


Clarisa hanya tersenyum melihat tingkah Deo dan Carlos yang terus menerus mengoda Evan hingga membuat Evan benar-benar emosi.


"Emm..besok aku udah masuk sekolah kok, jadi kalian nggak perlu khawatir lagi."


"Kamu yakin udah sembuh? kalau belum sembuh kamu bisa minta izin lagi. Kamu tenang aja, nanti aku bantu bilangin sama Bu Siska." Evan menyentuh kening Clarisa.


"Wah..modus itu Sa, modus itu." Goda Deo.


"Mendingan kamu keluar deh, berisik amat itu mulut, perlu aku bungkam dengan kaos kaki busuk ya!" Seru Evan yang mulai emosi.


Deo dan Carlos diam membisu sambil menyalakan televisi dan melihat acara kartun upin dan ipin. Mereka tertawa lepas saat melihat adegan yang menurut mereka lucu.


Evan hanya menghela nafas panjang melihat tingkah saudara dan juga sahabatnya.


"Udah biarin aja, lagian aku juga nggak merasa terganggu. Justru karena ada mereka berdua aku merasa sangat terhibur."


"Jadi kalau cuma ada aku kamu nggak merasa terhibur?" Ucap Evan sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kalau cuma ada kamu, nanti bisa-bisa aku sakit lagi dan nggak sembuh-sembuh." Goda Clarisa.

__ADS_1


"Kok bisa, memangnya aku Virus penyakit apa?"


"Kalau cuma berdua sama kamu, aku nggak bisa mengendalikan perasaan aku, aku takut nanti aku khilaf lagi." Clarisa menepiskan senyumannya.


Evan merasa tersindir atas ucapan Clarisa. Semenjak Clarisa mengungkapkan perasaannya waktu itu, dia sudah tidak canggung lagi menunjukan perasaannya terhadap Evan. Justru Evan yang merasa tidak enak hati karena tidak bisa menerima perasaan Clarisa.


"Maaf." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Evan.


"Nggak usah minta maaf, lagian ini bukan salah kamu. Dengan kamu masih mau berteman denganku, itu udah lebih dari cukup." Ucap Clarisa sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Evan.


"Selamanya kamu adalah sahabat terbaik aku." Ucap Evan sambil mengecup pucak kepala Clarisa.


"Makasih ya Van, untuk semuanya."


»»»»»


Saat pergantian jam mata pelajaran, Bu Siska wali kelas Evan, masuk kedalam kelas bersama dengan seorang gadis cantik.


"Saya punya pengumuman penting untuk kalian semua. Hari ini kelas kita kedatangan murid baru. Sekarang kamu perkenalkan diri kamu." Ucap Bu Siska menyuruh gadis itu untuk memperkenalkan diri.


"Emm..perkenalkan nama saya Felicia Nena Fajarwati, saya murid pindahan dari Amerika."


Semua murid saling berbisik, terutama Evan, Carlos dan Deo yang memuji kecantikan Nena.


"Ini pertama kalinya kelas kita ada cewek cantik." Ucap Deo sambil menatap Nena.


"Sang primadona kelas." Celetuk Carlos.


Clarisa hanya diam mendengar para sahabatnya memuji kecantikan sang murid baru.


"Sekarang kamu bisa duduk dibangku kosong itu." Ucap Bu Siska sambil menunjuk bangku disebelah Carlos.


Nena menganggukan kepalanya dan berjalan menuju bangku kosong itu. Deo terus mengoda Nena, tapi Nena sama sekali tidak mengubris ucapan Deo. Saat mendekati meja Evan, Nena melirik kearah Evan dan saat itu juga Evan juga tengah menatapnya.


Evan merasa Nena tersenyum kepadanya.


"Van." Clarisa menepuk bahu Evan.


"Heem."


"Kamu ngelihatin siapa sih?" Tanya Clarisa penasaran.


"Enggak, aku cuma merasa si murid baru tadi tersenyum kepadaku." Ucap Evan sambil melirik kearah Nena.


Clarisa sebenarnya juga tau kalau sejak tadi Nena diam-diam mencuri pandang kearah Evan.


Bel tanda istrirahat berbunyi.


Semua murid cowok sudah mengantri untuk berkenalan dengan Nena. Deo ternyata ada dibarisan paling depan.

__ADS_1


"Hai, aku Deo." Deo mengulurkan tangannya.


"Nena." Nena menjabat tangan Nena.


"Mau ke kantin bareng sam aku?" Tawar Deo dan langsung mendapat siulan dari Evan dan Carlos.


Dengan adanya Deo, semua murid laki-laki yang tadinya mengantri dibelakang Deo, lenyap satu persatu. Mereka takut jika harus bersaing dengan salah satu anggota Most Wanted.


"Jangan mau digombalin sama playboy cap kakap seperti Deo." Celetuk Evan.


"Apaan sih, udah kamu nggak usah mendengarkan ucapan Evan." Ucap Deo sambil tersenyum manis.


Nena melihat kearah Evan yang sudah keluar kelas bersama dengan Carlos dan juga Clarisa.


"Emm..jadi itu cowok namanya Evan, nama yang bagus setampan wajahnya." Guman Nena dalam hati.


"Gimana mau ke kantin sama aku?" Tanya Deo lagi. Nena menganggukan kepalanya.


Deo terlihat sangat bahagia. Tapi niat Nena menerima tawaran Deo hanya agar dia bisa lebih mengenal Evan.


Nena dan Deo keluar dari kelas, mereka tidak menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata yang sedang menatap tajam kearah mereka, sepasang mata itu adalah Karin.


Terlihat jelas kemarahan dari wajah Karin.


"Dasar gadis murahan, bisa-bisanya dia mendekati Deo." Karin mengepalkan kedua tangannya.


Sesampainya di kantin, Nena berkenalan dengan Evan, Carlos dan Clarisa. Clarisa tidak suka dengan tatapan Nena yang terus mencuri pandang kepada Evan.


"Kamu mau makan apa Na, biar aku yang traktir." Tawar Deo.


"Wah..modus ini modus." Seru Evan.


"Kamu nggak mungkin langsung termakan rayuan Deo kan?" Sindir Carlos.


Nena tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Aku disini cuma ingin mencari teman, jadi semua aku anggap sama, nggak ada yang aku beda-bedakan, termasuk Deo." Ucap Nena.


Deo menghela nafas panjang, ini pertama kalinya ada cewek yang tidak terpikat oleh ketampanan dan rayuan Deo.


"Sabar ya Deo." Sindir Evan dengan senyuman di wajahnya.


⭐⭐⭐⭐


Biasakan klik tombol like dan Favorit setelah selesai membaca ya, jangan lupa kasih bintang 5 untuk reting novel ini.


Dukugan dari kalian yang membuat aku semakin semangat untuk menulis. Jangan lupa tinggalkan coment kalian.


Mampir juga ke season yang kedua ya..caranya klik aja profil aku dan pilih novel yang berjudul "*Haruskah Aku Mengalah"

__ADS_1


Terimakasih..


😘😘😘😘*


__ADS_2