
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Frans keras.
Frans melihat Sandy sedang memeluk Dona, dia seakan terbakar cemburu. Dia berjalan menghampiri Sandy dan Dona, Dona sontak langsung mendorong tubuh Sandy. Frans berdiri didepan Sandy dan langsung menarik kerah baju Sandy hingga membuat Sandy berdiri dari duduknya.
"Apa yang telah kamu lakukan sama Dona?" teriak Frans.
Saat ini dia benar-benar sangat emosi. Dia tidak terima calon istrinya dipeluk oleh Sandy.
"Kenapa! kamu nggak terima! kamu cemburu, kamu marah!" ucap Sandy dengan senyuman sinis nya. Dia seakan ingin menantang Frans.
Tanpa aba-aba Frans langsung menonjok pipi Sandy hingga Sandy jatuh tersungkur. Dona terkejut saat melihat Frans memukul Sandy.
"Sudah hentikan!" Seru Dona.
Dona menarik Frans agar menjauh dari Sandy. Dia tidak ingin melihat Frans dan Sandy berkelahi hanya gara-gara kesalah pahaman.
"Kamu lebih membela dia, hah! " teriak Frans emosi.
Ini pertama kalinya Frans membentak Dona dengan sangat keras.
"Aku nggak membela Sandy, tapi aku nggak mau kalian bertengkar." Ucap Dona.
Kini air mata Dona mengalir membasahi pipinya. Dia menangis bukan karena Frans dan Sandy bertengkar, tapi karena Frans sudah membentak dirinya dengan sangat keras.
"Apa yang barusan kamu lakukan? apa kamu berfikir untuk kembali lagi bersama Sandy dan meninggalkan aku!" Seru Frans dengan tatapan yang begitu dingin.
"Kamu jangan salah paham, aku
nggak ada niatan untuk meninggalkan kamu." Ucap Dona lalu menghapus air matanya.
Dia memegang tangan Frans, dia ingin meluruskan kesalahpahaman ini.
"Apa kamu sadar, apa yang kamu lakukan telah menyakiti hati aku?" ucap Frans marah.
"Maafin aku, aku minta maaf, tapi ini tidak seperti yang kamu pikirkan." ucap Dona dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Air mata kembali menetes membasahi kedua mata Dona. Frans hanya diam dan tidak memperdulikan air mata Dona yang terus mengalir membasahi pipinya.
Sandy yang melihat Dona menangis mencoba berdiri dan berjalan mendekati Dona.
"Don, maafin aku jika sikap aku sudah menyakitimu, aku minta maaf." ucap Sandy.
Sandy menghapus air mata Dona. Dia tidak tega melihat Dona menangis, hatinya seakan hancur.
__ADS_1
"Kamu nggak usah sok perhatian! singkirkan tangan kotor mu itu." seru Frans sambil menepis tangan Sandy.
"Udah cukup!" teriak Dona keras.
Dona menatap Frans dengan penuh amarah. Dia tidak menyangka Frans tidak percaya padanya. Dia berlari meninggalkan Frans dan Sandy.
"Sudah puas kamu menghancurkan hubungan aku sama Dona!" seru Frans emosi.
"Frans, ini bukan salah Dona, aku yang salah, aku yang sudah memaksanya untuk berbicara denganku, dan aku juga yang sudah memeluknya. Dona mencoba melepaskan pelukan aku, tapi aku tetap memeluknya dengan erat, maafin aku karena sudah termakan api cemburu, hingga aku nggak bisa mengendalikan diri aku." ucap Sandy menyesal.
"Kamu! kalau bukan karena Mama, mungkin aku sudah menghajar mu habis-habisan." seru Frans sambil menarik kerah baju Sandy.
"Aku menyesal, aku mohon jangan salahkan Dona, aku memang memintanya untuk kembali lagi bersamaku, tapi Dona menolak karena Dona hanya mencintaimu, selamanya hati Dona hanya milikmu." ucap Sandy sambil menundukkan kepalanya.
"Sekarang kamu pergi dari hadapan aku, aku nggak mau melihatmu!" seru Frans.
Frans berjalan meninggalkan Sandy. Dia berlari mengejar Dona, dia menaiki tangga menuju kamarnya. Frans mengetuk pintu kamar.
Tokk..tokk..tokk..
"Sayang boleh aku masuk?" ucap Frans sambil terus mengetuk pintu.
Dona tidak menyahut dan masih terus menangis didalam kamar.
Frans berjalan menghampiri Dona yang sedang duduk di lantai dengan posisi kaki ditekuk dan kedua tangan memeluk erat kedua kakinya, sedangkan wajahnya ditenggelamkan di atas kedua kakinya. Frans duduk di samping Dona.
"Sayang, maafin aku."
Frans menatap Dona, Dona hanya diam tidak menjawab.
"Sayang kamu boleh pukul aku, tampar aku, tapi jangan diemin aku kayak gini, maafin aku." sambung Frans dengan wajah memelas.
Dona mendongakkan wajahnya menatap wajah Frans.
"Kamu nggak percaya sama aku?" tanya Dona dengan suara parau.
"Maafin aku, aku percaya sama kamu, tadi aku terbawa emosi, aku nggak bisa mengendalikan diri aku."
Frans menarik tubuh Dona kedalam pelukannya. Dia sandarkan kepala Dona kedalam dada bidangnya.
"Aku nggak mengkhianati mu, aku nggak pernah berfikir untuk meninggalkan kamu." ucap Dona dalam dekapan Frans.
"Aku tau, kamu bisa pukul dan tampar aku sekarang, aku akan menerimanya, tapi maafin aku." ucap Frans sambil mempererat pelukannya.
__ADS_1
Dona melepas pelukan Frans. Dia menatap wajah Frans dan menyentuh kedua pipi Frans.
"Aku sangat mencintaimu, aku nggak bisa hidup tanpa kamu, jangan pernah berfikir kalau aku akan meninggalkanmu, karena itu nggak akan pernah terjadi." ucap Dona dengan mata sendunya.
"Aku tau, aku percaya sama kamu, aku juga sangat mencintaimu, aku begitu takut kehilanganmu. Aku nggak sanggup bila harus kehilanganmu." ucap Frans sambil menggenggam kedua tangan Dona.
Frans mengecup punggung tangan Dona.
"Jangan pernah meragukan cintaku."
"Maafin aku, aku janji ini nggak akan terulang lagi." ucap Frans sambil memeluk Dona.
Dona merasa nyaman saat Frans memeluknya, rasanya begitu damai.
"Sayang ayo bangun." Sambung Frans Lagi.
Frans membantu Dona berdiri, dia membopong tubuh Dona dan merebahkannya di atas ranjang. Frans tidur di samping Dona.
"Sekarang kamu harus istirahat, besok adalah hari yang sangat penting untuk kita, sekarang ayo kita tidur." ucap Frans sambil memeluk tubuh Dona.
Dona menenggelamkan wajahnya di dada bidang Frans. Dia bisa merasakan detak jantung Frans yang begitu kencang, dia mendongakkan wajahnya menatap wajah Frans dan tersenyum.
"Kamu kenapa malah senyum-senyum sendiri?" tanya Frans sambil menatap wajah Dona. Dia membelai lembut pipi Dona.
"Enggak apa-apa, cuma lucu aja mendengar detak jantung kamu yang sangat cepat seakan mau loncat keluar." Goda Dona.
"Oo..jadi kamu menertawakan aku, kamu jangan menggodaku ya, dari tadi aku sudah mencoba menahan diri aku, tapi kamu malah menertawakan aku" ucap Frans sambil mencubit pelan pipi Dona.
Dona menatap wajah Frans, dia tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya. Dia senang sekali bisa menggoda Frans.
"Sayang, kamu mau menggodaku ya, kamu mencoba membangunkan macan yang tidur."
Frans bersikap seolah-olah siap menerkam Dona saat ini juga.
"E--nggak kok." ucap Dona gugup.
Frans menatap Dona dengan senyuman nakalnya.
"Jangan menatapku seperti itu, aku kan malu." ucap Dona sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa harus malu." ucap Frans sambil menyingkirkan kedua tangan Dona dari wajahnya.
Dona memejamkan kedua matanya, dia tidak berani menatap wajah Frans.
__ADS_1
¤¤¤¤