
Sejak kejadian waktu itu Karin menutup diri. Dia memang masih mencintai Deo, tapi dia selalu menghindar jika tidak sengaja bertemu dengan Deo. Dia hanya mengamati Deo dari jauh, cintanya begitu besar hingga sulit untuk dia hilangkan.
"Ada apa dengan Karin? kenapa mukanya ditekuk kayak gitu? ini semua pasti ada hubungannya sama Deo." Guman Clarisa dalam hati.
Clarisa terus menatap kearah Karin hingga dia tidak menyadari jika dirinya juga tengah diawasi oleh dua sorot mata yang tajam yang kini tengah menatapnya.
Evan menyengol lengan Clarisa karena kini si guru killer tengah menatapnya.
"Sa." Ucap Evan pelan.
Clarisa menengok kearah Evan.
"Lihat samping kamu." Bisik Evan.
Clarisa memiringkan wajahnya menatap si guru killer yang kini sudah berdiri disamping meja Clarisa. Clarisa menyengir kuda.
"Emm..bapak, ada apa ya pak."
"Kamu..berdiri di belakang sampai pelajaran saya selesai."
"Tapi Pak."
"Se..ka..rang!" Seru guru killer itu dengan nada keras.
"I--ya Pak."
Clarisa berdiri dan berjalan menuju belakang. Carlos dan Deo menahan tawanya melihat Clarisa yang tengah di hukum oleh si guru killer.
"Sial! ngapain juga tadi aku pakai acara sok peduli sama gadis cupu itu. Ngapain juga aku tadi memikirkan Karin. Jadi kena sial sendiri kan." Guman Clarisa dalam hati.
Sudah satu jam Clarisa berdiri, kedua kakinya terasa pegal. Dia terus mengerutu, sesekali Evan menengok kearah Clarisa, dia tidak tega melihat Clarisa harus berdiri selama pelajaran si guru killer. Sedangkan pelajaran berlangsung selama 3 jam.
"Evan!"
"Emm..iya Pak."
"Apa yang sedang kamu lihat?"
"Enggak ada Pak, saya cuma mau minta izin ke toilet sebentar."
"Silahkan."
Evan keluar dari kelas, dia melihat Clarisa dari jendela luar. Clarisa juga tengah menatapnya dengan mengerucutkan bibirnya.
"Pasti tadi Clarisa sedang memikirkan tentang perubahan sikap Karin. Aku memang tidak dekat dengan Karin, aku juga nggak pernah bertegur sapa dengan Karin. Clarisa bahkan juga tidak terlalu dekat dengan itu anak cupu, tapi dia begitu peduli dengannya."
Setelah beberapa menit Evan kembali kedalam kelas. Evan tidak sengaja melihat Karin sedang menatap Deo.
Akhirnya pelajaran selesai. Clarisa menjatuhkan tubuhnya disamping Evan, untung dengan sigap Evan langsung menangkap Clarisa.
"Sa.." Evan menepuk-nepuk pipi Clarisa.
"Van, apa aku udah mati." Ucap Clarisa dengan suara lemah.
Carlos memberikan sebotol air mineral kepada Evan.
"Sekarang kamu minum dulu."
Evan membuka tutup botol itu lalu diberikan kepada Clarisa. Clarisa menerimanya lalu meneguknya.
"Kamu tadi lagi ngelamunin apa sih?" Tanya Deo penasaran.
__ADS_1
"..." tak ada jawaban dari Clarisa.
"Kalau kamu pusing, lebih baik kamu sekarang aku antar ke UKS, biar aku temani." Tawar Evan.
Deo dan Carlos setuju dengan usul Evan.
"Biar nanti aku bilangin sama Bu Siska, kalau kalian lagi sakit dan sedang beristirahat di UKS." Ucap Carlos.
Clarisa menganggukan kepalanya. Evan membantu Clarisa berdiri dan memapahnya menuju UKS. Evan merebahkan tubuh Carla keranjang.
"Udah buat tiduran aja, aku akan jagain kamu disini." Evan menarik selimut untuk menyelimuti tubuh Clarisa.
"Van."
"Hemm."
"Aku udah merepotkan kamu ya." Ucap Clarisa pelan.
Evan menarik kursi lalu didudukinya, dia menggenggam tangan Clarisa.
"Aku nggak merasa kamu repotin, aku akan selalu ada buat kamu, tapi aku nggak suka kamu ikut campur urusan Karin dan Deo."
"Tapi--"
"Sa, kenapa kamu sebegitu pedulinya dengan Karin? kalian aja tidak terlalu dekat." Ucap Evan penasaran.
"Itu karena Karin dan aku, kami--"
Clarisa tidak dapat melanjutkan ucapannya. Suaranya seakan menyangkut ditenggorokan dan tidak dapat keluar.
"Kamu dan Karin apa? atau jangan-jangan kamu juga suka sama Deo?" Evan mencoba menebak-nebak.
"Nggak!" Seru Clarisa keras.
"..." tak ada jawaban.
"Berarti benar kamu suka sama Deo, tenang nanti akan aku sampaikan sama Deo kalau kamu su--"
Clarisa langsung membungkam mulut Evan dengan bibirnya. Kedua mata Evan membulat seketika, ini kedua kalinya Clarisa menciumnya. Untung keadaan UKS sepi, kalau tidak mereka akan kena masalah besar.
Clarisa menundukan kepalanya.
"Jangan pernah berfikiran macam-macam, aku nggak suka sama Deo, tapi aku--"
"Suka sama aku."
Clarisa mendongakan wajahnya menatap Evan.
"Aku tau Sa kalau kamu suka sama aku, tapi--"
Clarisa menutup mulut Evan dengan telunjuknya.
"Jangan dilanjutin, aku udah tau apa yang ingin kamu ucapkan. Aku udah berusaha untuk menghilangkan perasaan ini Van, tapi aku tetap nggak bisa. Aku tau kamu nggak pernah mencintai aku, tapi aku juga nggak mengharapkan kamu untuk membalas cinta aku." Clarisa kembali menundukan wajahnya.
Evan meraup wajahnya dengan kasar. Dia tidak menduga, perhatiannya selama ini akan disalah artikan oleh Clarisa. Dia memang menyukai Clarisa, karena Clarisa gadis yang baik, tapi dia tidak bisa mencintai Clarisa karena dia tidak ingin menyakiti Clarisa.
"Lebih baik sekarang kamu istirahat."
"Kamu marah sama aku."
Evan menggelengkan kepalanya. Dia menarik Clarisa kedalam pelukannya.
__ADS_1
"Aku nggak bisa marah sama kamu, tapi aku juga nggak bisa menerima perasaan kamu. Maaf."
"Kenapa kamu minta maaf, aku bisa terus bersama dengan kamu itu bagiku udah lebih dari cukup. Aku nggak mau kehilangan sahabat sebaik kamu."
Evan mengecup kening Clarisa lalu merebahkan tubuhnya. Evan menarik kursinya menjauh dari ranjang Clarisa. Untuk mengalihkan pikirannya, Evan memainkan game online diponselnya.
Bel tanda pulang telah berbunyi.
Evan melihat Clarisa masih terlelap. Dia berjalan mendekati ranjang, dia tatap wajah imut Clarisa yang tengah tertidur lelap.
"Maafin aku Sa, bukannya aku nggak mencintaimu, tapi aku cuma nggak ingin kehilangan sahabat sebaik kamu. Aku bahkan rela kehilangan semua pacar aku demi sahabat sebaik kamu, Sa." Guman Evan dalam hati.
Deo dan Carlos menghampiri Evan dan Clarisa ke UKS. Mereka membawakan tas Evan dan Clarisa.
"Nyenyak juga tidurnya ini Cewek. Udah kamu apain si Clarisa." Goda Deo.
"Sialan kamu, memangnya aku kamu, yang suka mengambil kesempatan didalam kesempitan." Sindir Evan.
"Ya siapa tau, UKS ini kan sepi, dan nggak ada CCTV lagi, aman Van, aman." Ucap Deo sambil menggerakan alisnya naik turun.
Evan tidak mengubris ucapan Deo, dia mencoba membangunkan Clarisa.
"Sa, bangun, kamu mau pulang atau tidur disini." Evan mengoyang-goyangkan tubuh Clarisa.
Tapi Clarisa tetap diam dan tak bergeming. Evan terlihat sangat cemas, dia menyentuh kening Clarisa.
"Clarisa demam!" Teriak Evan.
"Kok bisa!" Seru Deo dan Carlos bersamaan.
"Ya mana aku tau, lebih baik kita bawa dia ke rumah sakit sekarang."
Evan membopong tubuh Clarisa menuju parkiran. Semua guru dan murid sudah pulang. Deo menyuruh Evan untuk memasukan Clarisa kedalam mobilnya. Mereka membawa Clarisa ke rumah sakit terdekat.
Dokter telah selesai memeriksa Clarisa. Dia duduk di kursi kerjanya.
Evan duduk didepan meja kerja Dokter.
"Bagaimana keadaan teman saya Dok?"
"Teman anda baik-baik saja, dia cuma deman. Ini saya kasih resep dan tolong diminumkan secara teratur." Ucap Dokter itu sambil memberikan resep kepada Evan.
Clarisa membuka matanya secara perlahan. Dia merasa berada ditempat yang asing dengan penerangan yang sangat menyilaukan mata.
Evan berdiri dan berjalan mendekati Clarisa, dia membantu Clarisa duduk.
"Aku dimana Van?" Clarisa mengerjapkan kedua matanya berkali-kali.
"Kamu dirumah sakit, tadi badan kamu panas tinggi dan kamu nggak sadarkan diri. Aku, Deo dan Carlos membawa kamu kesini."
Evan membantu Clarisa turun dari ranjang dan membantunya duduk di kursi.
"Saya sakit apa Dok?"
"Anda hanya kecapekan aja dan terlalu stres. Untuk sementara waktu jangan memikirkan hal-hal yang bisa memicu emosi anda. Saya saran kan untuk istirahat beberapa hari dirumah." Ucap Dokter.
"Terimakasih ya Dok, kalau begitu kami permisi." Ucap Evan lalu menjabat tangan Dokter, begitu juga dengan Clarisa.
Evan membantu Clarisa berjalan, mereka keluar dari ruang pemeriksaan.
"Gimana?" Tanya Deo dan Carlos bersamaan.
__ADS_1
"Nggak ada apa-apa, ayo kita pulang."
⭐⭐⭐⭐