
Tanpa sadar air mata Frans menetes saat berada di dekapan Meysa. Dona yang melihat Frans meneteskan air mata langsung melepaskan pelukannya.
" Sayang kenapa kamu menangis?" tanya Dona cemas.
" Maaf, aku hanya terharu. Aku jadi terbawa suasana." Sahut Frans sambil menghapus air matanya.
" Nak Frans kalau ada masalah coba ceritakan sama tante."
" Nggak ada kok tante, aku cuma teringat saja sama Mama, sudah lama aku tidak merasakan pelukan dan kasih sayang seorang Ibu."
" Memangnya Mama nak Frans pergi kemana?"
" Mama meninggalkan aku saat aku masih berusia 8 tahun. Mama pergi meninggalkan aku dan Papa sendirian."
" Kenapa Mama kamu sampai tega meninggalkan kamu sayang?" tanya Dona heran.
" Aku juga nggak tau persis apa masalahnya, tapi waktu itu aku nggak sengaja mendengar Papa dan Mama bertengkar. Aku mendengar Mama berkata "Kamu pilih aku atau wanita itu!" dan Papa bilang sama Mama kalau Papa nggak bisa meninggalkan wanita itu, setelah itu Mama pergi dan tidak pernah kembali lagi " cerita Frans.
" Siapa wanita yang di maksud Mama kamu sayang?" tanya Dona penasaran.
" Dulu Papa pernah cerita sama aku kalau wanita itu adalah cinta pertama Papa. Papa menikah sama Mama karena dijodohkan, Papa terpaksa menikah sama Mama karena ancaman dari kakek. Saat itu kakek mengancam akan mencoretnya dari daftar keluarga kalau tidak mau menikah sama Mama dan setelah Mama pergi Papa sudah nggak perduli sama aku lagi. Papa lebih mentingin wanita itu. Sejak umur 10 tahun, aku bertekad..aku akan buktiin sama Papa kalau setelah aku dewasa aku akan lebih sukses dari Papa, aku bisa hidup tanpa Papa dan akhirnya aku bisa sukses sampai sekarang." cerita Frans.
" Sekarang nak Frans tinggal sama siapa?"
" Aku tinggal sendirian tante."
" Terus Papa kamu dimana?"
" Dua tahun yang lalu Papa meninggal karena kecelakaan tante."
" Nak Frans yang sabar ya, Nak Frans boleh kok menganggap tante sebagai Mama Nak Frans."
" Beneran tante?" tanya Frans senang.
" Iya..tante dari dulu pengen banget punya anak cowok, tapi anak tante malah cewek semua." Ucap Meysa sembari menepiskan senyumnya.
" Terimakasih tante, aku bahagia banget, akhirnya aku bisa merasakan kembali kasih sayang seorang ibu." ucap Frans sambil memeluk Meysa.
" Sama-sama nak Frans." (sambil membalas pelukan Frans).
" Senangnya yang baru dapat anak cowok sampai anak ceweknya dilupakan." goda Dona.
" Mama nggak lupa kok sayang, sini peluk Mama." Ucap Meysa.
Dona pun memeluk Mamanya, kebahagian terpancar dari raut wajah Mamanya Dona.
"Sayang..kamu tidak salah menentukan pilihan kamu. Frans orang yang sangat baik dan berhati lembut. Semoga kalian bahagia selamanya." Bathin Meysa.
Tiba-tiba ponsel Frans berbunyi.
__ADS_1
" Maaf tante, Frans mau mengangkat telfon dulu." ucap Frans sambil melepaskan pelukannya.
Meysa menganggukkan kepalanya. Frans berjalan menjauh lalu mengangkat telfon.
" Halo.." Sahut Frans.
" Kamu lagi dimana sekarang, bisa-bisanya kamu lupa kalau hari ini kita ada meeting penting!" teriak Marcel.
Frans menjauhkan ponselnya dari telinganya, karena suara Marcel yang sangat keras hingga memekakkan telinga. Setelah sedikit reda Frans kembali menjawab Marcel.
" Sorry aku benar-benar lupa, kamu tangani dulu, aku sekarang ada di Bandung." Sahut Frans.
Gara-gara terlalu memikirkan Dona, Frans sampai melupakan meetingnya dengan koleganya.
" Ngapain kamu ke Bandung? setahu aku kamu nggak ada saudara disana." tanya Marcel penasaran.
" Aku lagi di rumah Dona."
" Dona sudah ketemu! bagaimana kabarnya, baikkan? dia nggak kenapa-kenapa kan?" tanya Marcel bertubi tubi.
" Ngapain kamu menanyakan kabar wanitaku?" ucap Frans kesal.
" Aku kan juga khawatir sama Dona memangnya nggak boleh." Goda Marcel (Marcel tau kalau Frans lagi cemburu, Marcel senang mengoda temannya).
" Ya sudah cepetan kamu ajak Dona pulang, aku sudah kangen banget sama Dona." Sambung Marcel lagi sambil menahan tawa.
Marcel hanya tertawa mendengar celoteh Frans dan langsung mematikan telfon.
Marcel tertawa membayangakan betapa emosinya si Frans saat ini.
" Sialan..bikin orang emosi aja." ucap Frans geram.
" Kamu kenapa sayang? marah-marah nggak jelas gitu." tanya Dona bingung.
" Itu si Marcel bikin emosi saja, bisa-bisanya dia bilang kalau dia merindukan kamu." Ucap Frans kesal.
Dona hanya tersenyum mendengar kata-kata Frans, dia senang karena Frans cemburu, itu berarti Frans sangat mencintainya.
" Kenapa kamu malah senyum-senyum? kamu senang kalau Marcel ternyata merindukan kamu?" tanya Frans kesal.
" Nggak, aku senyum karena aku senang melihat wajah kamu kalau lagi cemburu."
" Sayang aku nggak suka kalau ada cowok lain yang merindukan kamu, karena hanya aku yang boleh merindukan kamu." Ucap Frans sambil memeluk tubuh Dona.
" Aku mencintaimu sayang..sangat..sangat..mencintaimu." Sambung Frans lagi sambil mempererat pelukannya.
" Aku juga sangat..sangat mencintaimu." ucap Dona sambil membalas pelukan Frans.
" Hemm...hemm."
__ADS_1
Dona dan Frans langsung melepaskan pelukan mereka setelah mendengar deh Eman dari Meysa. Dona lupa kalau Meysa masih berdiri dibelakang mereka.
" Lupa ya kalau Mama masih disini." Sindir Meysa.
Frans dan Dona hanya tersenyum sambil menahan malu.
" Siapa yang telfon Nak Frans?" sambungnya lagi.
" Teman aku tante, aku lupa kalau hari ini ada meeting penting." Sahut Frans.
" Ya sudah sekarang kamu sama Dona balik saja ke Jakarta."
" Tapi kan Mama belum sembuh." Ucap Dona terkejut.
Dona tidak ingin meninggalkan Meysa karena Meysa belum pulih seutuhnya.
" Mama sudah sembuh kok sayang, kan disini ada adek-adek kamu."
" Tapi Ma--"
" Sudah nggak usah pakai tapi-tapi, sekarang kamu siap-siap kasihan Nak Frans."
" Baik Ma.." Ucap Dona.
Dona berjalan meninggalkan meja makan dan masuk ke dalam kamar untuk mengemas pakaiannya.
" Nak Frans, tante mau bicara."
" Apa tante?" Ucap Frans sambil berjalan mendekat.
" Tolong jagain Dona, jangan pernah menyakitinya. Tolong bahagiakan Dona, karena Dona sudah terlalu banyak menderita, tante percaya sama Nak Frans."
" Aku janji akan selalu menjaga Dona, aku nggak akan pernah menyakitinya, aku akan membahagiakan Dona tante, terimakasih sudah percaya sama aku tante."
Tak berselang lama Dona keluar dari kamar sambil membawa koper.
" Ma Dona balik ke Jakarta dulu ya, Mama harus menjaga kesehatan Mama, jangan terlalu capek." ucap Dona sambil memeluk Meysa.
" Iya sayang, Mama akan ingat pesan kamu."
" Tante Frans pamit dulu." Ucap Frans sambil mencium tangan Mama Dona.
" Hati-hati ya Nak Frans, tante titip Dona."
" Baik tante."
Dona dan Frans berjalan keluar. Dona masuk ke dalam mobil Frans. Frans melajukan mobilnya menuju Jakarta. Frans menggenggam tangan Dona. Frans tau Dona nggak tega meninggalkan Mama nya.
¤¤¤¤
__ADS_1