
Frans dan Dona sudah sampai di Jakarta, setelah mengantar Dona pulang, Frans langsung pergi menuju kantornya untuk mengecek pekerjaan yang ia tinggalkan selama dua hari.
" Gimana Vin? Semuanya berjalan lancarkan?" Tanya Frans sambil memeriksa berkas-berkas di atas meja kerjanya.
" Lancar Bos, semua berjalan sesuai rencana. Kerja sama kita dengan Raksa Company juga sudah disetujui, kalau semua berjalan dengan lancar, kita akan mendapatkan keuntungan yang sangat banyak Bos." Ucap Kevin.
" Kamu memang bisa di andalkan. Bulan depan kamu akan menerima bonus dari kerja keras kamu." Ucap Frans dengan senyuman di wajahnya.
" Terimakasih Bos. Kalau begitu saya undur diri." Ucap Kevin lalu membungkukan tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan Frans.
Frans kembali mengecek berkas-berkas diatas meja kerjanya.
»»»»»
Setelah selesai mandi Dona duduk diruang tengah sambil menonton acara kesukaannya. Ini pertama kalinya wanita itu jauh dari kedua anak-anaknya. Ia merasa seperti kehilangan, rasanya begitu sunyi dan sepi.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari pintu utama. Dona berdiri dan berjalan menuju pintu utama, ia langsung membuka pintu.
" Tari!" Seru Dona terkejut.
Dona mempersilahkan sahabatnya itu masuk ke dalam rumah. Wanita itu menggendong anak sahabatnya yang masih beusia 3 tahun, anak Tari seusia dengan anak Mery hanya terpaut 3 bulan.
" Tumben kamu kesini?" Tanya Dona.
" Sebenarnya sudah dari kemarin aku ingin datang kesini, tapi kata Kevin kamu dan suami kamu lagi liburan ke Bandung." Ucap Tari.
" Iya, sekalian mengantar anak-anak untuk liburan di rumah Oma nya. Oya, kamu mau minum apa nih?" Tanya Dona.
" Nggak usah, nanti kalau aku haus aku ambil sendiri aja." Ucap Tari.
Dona dan Tari berbincang-bincang sambil menggenang masa lalu, apa lagi saat mengingat bagaimana Frans dengan gigihnya untuk bisa mendapatkan cinta Dona.
" Kamu nggak tau kan Tar, bagaimana pencemburunya Frans. Apa lagi diawal aku kerja sama dia, aku itu rasanya ingin cepat-cepat risent dari perusahaan itu." Ucap Dona.
" Ya, aku tau, kamu harus terus bertatap muka dan bersama dengan Bos yang sifatnya sangat angkuh dan juga sombong. Asal kamu tau Don, aku mendengar kalau semua sekretarisnya yang dulu-dulu nggak ada yang betah sama Pak Frans, kecuali kamu. Mereka paling cuma bertahan selama satu bulan habis itu mengundurkan diri." Ucap Tari.
__ADS_1
Dona mengeryitkan dahinya, ia tidak menyangka jika suaminya sangat di takuti sama mantan-mantan sekretarisnya.
" Kalau aku bukan tulang punggung keluarga aku saat itu, mungkin aku juga nggak akan bentah dengan sikap dia. Apa lagi saat dia memarahi ku karena alasan yang tidak jelas." Ucap Dona sambil mengingat kembali saat dirinya diperlakukan buruk oleh Frans hanya karena dirinya berbicara dengan sahabatnya Marcel.
" Maksud kamu apa Don? Memangnya Pak Frans pernah memarahi kamu? Jadi saat kamu menangis di toilet waktu itu?" Tanya Tari penasaran. Dona menganggukan kepalanya.
" Kalau nggak salah saat itu Marcel datang untuk menemui Frans, tapi saat Marcel mau pulang dia mampir ke ruangan aku dan kita ngobrol sambil bercanda tawa, entah kenapa tiba-tiba dia memanggil aku dan memarahi aku. Saat itu hati aku benar-benar hancur, rasa sakitnya di marahi tanpa tau apa kesalahan kita." Ucap Dona.
" Tapi karena sikap penyabar kamu itu, sekarang Bos yang angkuh itu kini berubah menjadi Bos yang berhati baik kepada semua karyawannya." Puji Tari.
Dona memang sangat bersyukur Bos yang kini sudah menjadi suaminya itu kini menjadi sosok laki-laki yang hangat dan penyayang. Bahkan kepada kedua anaknya, dia rela menukar apa pun demi kebahagiaan kedua anaknya.
Setelah lama berbincang-bincang Tari pamit pulang, Dona menawarkan untuk mengantar Tari pulang tapi di tolak oleh Tari.
Dona bersiap-siap untuk memasak makan malam untuk suaminya. Wanita itu memasakan makanan kesukaan suaminya. Frans lebih suka makan masakan istrinya dari pada makanan restoran.
Frans pulang ke rumah dan di sambut hangat dengan senyuman manis istrinya. Frans mengecup kening istrinya.
" Papa mandi dulu, habis itu makan malam, Mama udah masakin makanan kesukaan Papa." Ucap Dona.
Pria itu melangkahkan kakinya menuju kamarnya, ia lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Hari ini pria itu merasa sangat lelah. Frans memanggil Dona untuk datang ke kamarnya.
" Papa kenapa?" Tanya Dona cemas.
" Nggak tau nie Ma, tiba-tiba kepala Papa rasanya pusing." Ucap Frans sambil masih memijit pelipisnya.
" Sini biar Mama pijitin." Ucap Dona.
Frans menganggukan kepalanya. Pria itu berdiri dan duduk dibawah Dona dengan membelakanginya. Wanita itu mulai memijit kepala suaminya dengan perlahan.
" Pijitan Mama memang mantap, kepala Papa udah nggak begitu pusing." Ucap Frans sambil menikmati pijatan istrinya.
Setelah merasa lebih enakan, Frans kembali duduk disamping Dona. Wanita itu menyuapi suaminya dengan penuh perasaan.
" Makasih ya Ma, sudah mau menemani Papa selama ini. Makasih karena Mama mau menerima pria brengsek seperti Papa ini. Pria yang sudah menyakiti hati Mama." Ucap Frans sambil mengecup kening istrinya.
__ADS_1
" Justru Mama yang berterimakasih atas semua kasih sayang dan perhatian yang selama ini Papa berikan untuk Mama. Bagi Mama, Papa bukanlah pria brengsek, tapi pria yang sangat baik di dunia yang pernah Mama kenal." Ucap Dona dengan senyuman di wajahnya.
" Lebih baik sekarang Papa tidur, agar besok badan Papa bisa pulih sepenuhnya." Sambung Dona lagi.
Frans dan Dona merebahkan tubuh mereka diatas ranjang. Dona menghadap suaminya dan menyandarkan kepalanya di lengan kekar suaminya.
" Mama kenapa?" Tanya Frans sambil menatap lekat wajah istrinya.
" Mama rindu anak-anak, sekarang mereka udah tidur apa belum ya Pa?" Tanya Dona.
Frans mengecup puncak kepala Dona, ia peluk erat-erat tubuh istrinya. Pelukan yang selalu memberi Dona kenyamanan dan rasa tenang.
" Mereka baik-baik aja, Mama nggak usah khawatir. Tadi Sandy menelfon Papa, katanya dia tadi habis mengajak Evan dan Carlos ke wahana bermain. Apa Mama tau apa yang dilakukan anak Mama Evan?" Ucap Frans.
" Memangnya Evan ngapain Pa? Apa dia bikin ulah lagi? Apa dia menjahili Monic lagi?" Tanya Dona penasaran. Frans menggelengkan kepalanya.
" Anak kamu sekarang sudah pandai mengoda cewek." Ucap Frans dengan senyuman diwajahnya.
Dona mengeryitkan dahinya mencoba mencerna kata-kata suaminya.
" Maksud Papa apa?" Tanya Dona terkejut.
Bagaimana mungkin anak sekecil Evan berani marayu cewek.
" Kata Sandy, waktu mereka makan di restoran, mereka tidak sengaja bertemu dengan teman Mery dan kekasihnya. Anak kamu langsung memanggil kekasih teman Mery itu dengan panggilan kakak Cantik, Evan juga menunjukan rasa tidak sukanya saat teman Mery menggoda kekasihnya." Ucap Frans.
Dona tidak menyangka anaknya yang masih sangat kecil sudah bisa merayu seorang gadis.
" Evan kenapa sifatnya nggak seperti Papa ya Ma? Papa dulu waktu kecil nggak suka berteman dengan cewek, Papa bahkan nggak pernah yang namanya pacaran. Kecuali setelah bertemu dengan Mama yang bisa menarik hati Papa." Goda Frans.
" Mama juga nggak tau Pa, kenapa Evan bisa mempunyai sifat seperti itu. Apa karena saat masih kecil dia dekat dengan Marcel, jadi sifat playboynya menular?" Ucap Dona dengan menahan tawa.
" Mama ini bisa aja, mana ada sifat playboy menular. Memangnya penyakit kudis menular." Ucap Frans sambil memeluk erat tubuh istrinya.
" Udah malam, lebih baik kita tidur." Sambungnya.
__ADS_1
Frans memeluk erat tubuh istrinya dan Dona menenggelamkam wajahnya ke dada bidang suaminya.
⭐⭐⭐⭐