Bos Yang Angkuh

Bos Yang Angkuh
Kedatangan Marcel


__ADS_3

Setelah semalam mendapat telfon dari Frans yang mengatakan kalau Mira sangat ingin bertemu dengannya membuat hati Marcel merasa sangat bahagia.


Pagi-pagi sekali Marcel bersiap-siap untuk pergi ke Bandung menemui Mira. Tak lupa Marcel membawa kotak yang berisi cicin berlian untuk melamar Mira. Marcel sudah tidak sabar untuk bertemu pujaan hatinya. Setelah menempuh perjalanan berjam-jam akhirnya Marcel tiba di rumah Mira.


Marcel mengetuk pintu rumah Dona.


Tokk..tokk..tokk..


"Sebentar." teriak Dona sambil berjalan menuju pintu utama.


Dona membuka pintu utama.


"Hai Don." sapa Marcel saat pintu terbuka dengan sepenuhnya.


"Marcel." Ucap Dona terkejut.


"Ayo masuk." Ajak Dona sambil berjalan masuk.


"Ayo silahkan duduk."


"Terimakasih Don." ucap Marcel sambil duduk di sofa.


"Sebentar aku panggilkan Frans." ucap Dona sambil meninggalkan Marcel.


Dona berjalan menuju halaman belakang, disana Frans, Mira, Mery dan Meysa sedang asyik mengobrol.


"Sayang, ada Marcel didepan." ucap Dona.


"Cepat juga dia ternyata." ucap Frans.


"Kenapa Kak Marcel datang kesini?" tanya Mira.


"Untuk melamar kamu." goda Frans sambil melangkah pergi.


Mira yang mendengar perkataan Frans merasa gugup, hatinya sangat cemas.


"Apa kamu ingin bertemu Marcel?" tanya Dona yang melihat kegelisahan diwajah Mira.


"Ha! nggak kok! kalau dia mau ketemu sama aku maka dia yang harus datang menemuiku." ucap Mira sambil duduk diteras belakang.


"Beneran nie, nanti menyesal lo." goda Dona.


"Nggak!"


Mery dan Meysa hanya tersenyum melihat tingkah Mira.


"Ya udah, ayo Ma kita pergi dari sini, kita harus menyambut calon mantu Mama." goda Dona sambil melirik kearah Mira.


"Ayo..Mama sudah nggak sabar ingin bertemu sama si ganteng." ucap Meysa dengan senyuman diwajahnya.


"Mery ikut dong Ma, Mery juga ingin ketemu sama calon kakak ipar Mery." goda Mery.


Mira hanya diam mendengar keluarganya yang sedang mengodanya. Meysa, Dona dan Mery meninggalkan Mira sendiri.

__ADS_1


"Aku nggak menyangka kamu akan datang secepat ini." ucap Frans sambil duduk di sofa.


"Aku nggak mau membuang-buang waktu."


"Gimana, apa kamu sudah siap melamar Mira?"


"Jangankan melamar, menikah sekarangpun aku sudah siap." ucap Marcel lantang.


"Ha ha ha, aku suka dengan semangatmu."


"Dimana Mira?" tanya Marcel sambil melihat kesekeliling ruangan.


"Jangan buru-buru teman, kamu temui dulu Mama mertuaku, mintalah restunya, setelah itu baru kamu temui Mira."


"Tapi kalau Mira menolakku gimana?" tanya Marcel cemas.


"Itu berarti Mira bukan jodohmu."


Tak berselang lama Meysa dan Dona datang dengan membawa minuman dan camilan. Diletakkannya camilan dan minuman diatas meja.


"Siang tante." sapa Marcel sambil mencium tangan Meysa.


"Siang nak Marcel, ada perlu apa nak Marcel berkunjung kerumah kecil tante?" Tanya Meysa sambil duduk disamping Dona.


"Maaf tante kalau kedatangan saya kesini menganggu kenyamanan tante, niat saya datang kesini dengan maksud baik, saya ingin melamar anak tante Mira, saya ingin menjadikan Mira sebagai istri saya, saya ingin minta restu tante." ucap Marcel tanpa ragu-ragu.


Dona dan Frans hanya tersenyum mendengar perkataan Marcel.


"Tante senang jika ada yang mau menikah dengan anak tante, tapi apa kamu yakin ingin menikah dengan Mira? bukannya kalian tidak begitu saling mengenal? " tanya Meysa.


Frans tidak menyangka Marcel akan bersikap seperti itu.


"Tante nggak bisa memutuskan karena semua keputusan ada pada Mira." ucap Meysa.


"Apa boleh saya bertemu sama Mira tante? saya ingin bicara berdua sama Mira." tanya Marcel.


"Mira sekarang ada dihalaman belakang." ucap Meysa.


"Saya mohon izin tante untuk menemui Mira."


" Silahkan."


Marcel berdiri dan berjalan menghampiri Mira. Marcel melihat Mira yang sedang duduk diteras belakang.


"Boleh aku duduk disini?" tanya Marcel yang kini sudah berada dibelakang Mira.


"Kak Marcel!" seru Mira terkejut.


"Lagi ngelamunin apa, hingga nggak sadar akan kedatanganku." Tanya Marcel sambil duduk disamping Mira.


"A--aku nggak lagi melamun kok." ucap Mira gugup.


"Kenapa kamu sangat gugup? apa aku menganggumu?"

__ADS_1


"Ha, nggak kok." ucap Mila sambil menundukan wajahnya.


"Kak Marcel ngapain kesini? bukannya kak Frans dan kak Dona ada didepan?" tanya Mira sambil tertunduk malu.


"Aku ingin ketemu sama kamu, ada yang mau aku bicarakan sama kamu, kamu pasti sudah tau maksud aku datang kesini, pasti Frans dan Dona sudah memberitahumu, bolehkah aku bicara sesuatu sama kamu?" tanya Marcel serius.


"Kak Marcel ingin bicara apa?"


"Aku ingin bicara serius sama aku, aku tau kamu pasti terkejut setelah mendengarnya dari Frans dan Dona, tapi aku benar-benar serius. Mir..sejak pertama kali aku bertemu denganmu dirumah Frans waktu itu aku langsung jatuh cinta sama kamu, aku ingin sekali menemuimu, tapi aku takut kamu akan menolakku. Sekarang aku memberanikan diri datang kemari untuk menemuimu. Mir..lihat aku." ucap Marcel sambil memegang kedua pundak Mira.


Mira menatap wajah Marcel..


"Aku sangat mencintaimu Mir, maukah kamu menikah denganku?" Tanya Marcel sambil menatap kedua mata Mira.


"Apa! kak Marcel nggak salah memilih? aku bukan siapa-siapa kak, kak Marcel akan menyesal telah memilih aku, apalagi kita nggak terlalu saling mengenal."


"Kita akan saling mengenal setelah kita menikah, aku nggak mau pacar-pacaran, kamu tau kan aku sudah tak muda lagi untuk pacaran, aku mau serius sama kamu, aku nggak memandangmu dari segi harta atau apapun itu, yang aku tau aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita ketemu, aku janji akan membahagiakan kamu." ucap Marcel.


"Apa kak Marcel sudah bilang sama Mama?"


"Ya, aku sudah minta restu sama Mama kamu."


"Terus Mama bilang apa?" tanya Mira penasaran.


"Mama kamu setuju, tapi semua keputusan ada ditangan kamu."


"Aku binggung kak." ucap Mira sambil menatap kedua mata Marcel.


"Kenapa kamu binggung? aku nggak ada niat untuk mempermainkan kamu, apalagi kamu adalah adiknya Dona, aku serius sama kamu Mir, atau kita coba Ta'aruf agar kita bisa saling mengenal, aku kan memberikan kamu waktu untuk lebih mengenal aku sebelum kita menikah." ucap Marcel memberi usul.


Mira ragu harus menjawab apa..


"Apa kak Marcel akan menerima semua keputusan aku?"


Marcel menganggukan kepalanya.


"Aku akan menerima apapun keputusan kamu, aku nggak akan memaksamu."


Marcel mengambil sebuah kotak cincin dari saku celananya.


"Mir, jika kamu setuju kita Ta'aruf maka terimalah cincin ini, tapi jika kamu menolak maka kamu ambil kotak ini."


Mira melihat kedua tangan Marcel yang masing-masing memegang cincin dan kotaknya.


"Apa harus aku jawab sekarang?"


"Ya, aku nggak mau membuang-buang waktu, aku bukan lagi ABG yang hanya ingin bersenang-senang dengan wanita, tapi aku ingin mencari pendamping hidup dan pilihanku ada pada kamu."


Mira mengambil nafas panjang dan menghembuskannya, setelah semalam berfikir Mira sudah mengambil keputusan.


"Baiklah, pertama-tama aku minta maaf sama kak Marcel, bila keputusan aku ini membuat kak Marcel sedih."


"Apa pun keputusan kamu aku akan menerimanya."

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan pilih....


🌟🌟🌟🌟


__ADS_2