
Sudah satu tahun Nena dan Carlos menjalin hubungan. Semakin hari hubungan mereka semakin mesra, Evan dan Deo sampai tidak menyangka, seorang Carlos yang sama sekali belum pernah menjalin kasih dengan gadis manapun, bisa se bucin itu dengan Nena.
Carlos bahkan dengan sabarnya menghadapi tingkah Nena yang manja dan juga suka banyak menuntut. Walau merasa sangat lelah, tapi Carlos merasa bahagia bisa menjadikan Nena sebagai kekasihnya.
Selama satu tahun itu, mereka menyembunyikan hubungan mereka dari kedua orangtua mereka, dengan alasan mereka masih duduk dibangku SMA, dan tidak ingin ada yang ikut campur dalam hubungan mereka. Carlos bahkan meminta Evan untuk tutup mulut dan tidak mengatakan kepada kedua orangtuanya.
"Tapi mau sampai kapan kamu menyembunyikan ini sama Mama dan Papa?" Tanya Evan sambil menyeruput es jeruk didepannya.
"Sampai aku lulus kuliah, setelah itu aku baru memberitahu Mama dan Papa, dengan begitu aku bisa memikirkan hal yang serius dengan Nena."
"Maksud kamu, kamu mau menikah dengan Nena?" Tanya Evan dengan membulatkan kedua matanya.
Carlos menganggukan kepalanya.
"Dari awal, aku udah berniat serius dengan Nena, aku ingin menikahi Nena suatu saat nanti."
"Apa Nena juga tau niat kamu ini?"
Carlos menggelengkan kepalanya.
"Aku akan memberitahunya suatu saat nanti, tapi tidak sekarang."
Nena dan Clarisa berjalan menghampiri Carlos dan Evan.
"Lagi pada ngomongin apa ni? Kok kayaknya serius banget." Tanya Nena lalu duduk disamping Carlos.
Nena mengecup pipi Carlos. Carlos mengusap lembut puncak kepala Nena.
"Dasar manja, cewek aku ini, kalau pipi aku kamu cium terus lama-lama nanti pipi aku bisa tirus." Goda Carlos.
"Kalau gitu aku cium ini aja."
Nena mengecup bibir Carlos.
"Emmm..boleh juga."
"Dasar! kalian ini jadi PD banget ya, bermesraan di depan umum kayak gini." Seru Evan sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya mau gimana lagi, aku kan juga nggak bisa menolak keinginan Nena." Ucap Carlos sambil merangkul pundak Nena.
"Habisnya setiap aku melihat bibir kamu, bawaannya pengen nyium itu bibir sampai puas." Ucap Nena sambil menatap bibir Carlos yang selalu bisa membuatnya ketagihan.
"Ini baru bibir, kalau kamu tau yang lain, maka kamu akan lebih ketagihan lagi." Goda Carlos.
"Apa itu?"
"Carlos, cukup. Ini itu di kantin sekolah, kamu ini ya pikirannya mesum melulu!" Seru Clarisa kesal.
"Lebih mesuman cewek aku dari pada aku." Sindir Carlos sambil menatap Nena.
"Aku mesum apaan coba, masa cuma nyiumin bibir kamu aja, kamu bilang mesum. Yang namanya mesum itu kayak gini."
__ADS_1
Nena menarik tangan Carlos dan meletakkannya diatas pahanya.
"Kalau kamu pegang ini, baru itu mesum." Sambung Nena lalu menyingkirkan tangan Carlos dari pahanya.
"Kamu pegang apaan, Los?" Goda Evan.
"Emmm..aku nggak pegang apa-apa." Ucap Carlos gugup.
Nena hanya tersenyum melihat salah tingkah Carlos, apa lagi mukanya yang mulai memerah.
"Bercanda sayang, bercanda, lagian tangan kamu kan cuma nyentuh tangan aku, bukan paha aku." Goda Nena.
"Iya sih, tapi rasanya gimana gitu, jantung aku berdebar-debar ini." Ucap Carlos sambil menyentuh dadanya.
Nena menyetuh dada Carlos dan merasakan detak jantung Carlos yang tidak beraturan. Nena mengecup pipi Carlos.
"Maaf ya, apa bercandaku udah keterlaluan." Ucap Nena sambil menatap kedua mata Carlos.
"Nggak kok, tapi ini pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini. Kenapa juga cewek aku harus semesum ini." Sindir Carlos dengan senyuman diwajahnya.
"Jadi kamu menyesal, pacaran sama aku." Ucap Nena sambil mengerucutkan bibirnya.
"Mana mungkin aku menyesal, justru aku bahagia punya cewek mesum kayak kamu, dengan begitu aku nggak perlu minta ini itu, karena kamu akan melakukannya dengan sendirinya." Goda Carlos sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar!" Seru Nena sambil mencubit lengan Carlos.
"Van, kita pergi aja dari sini, aku udah nggak betah melihat dua sejoli yang sedang di mabuk cinta ini." Ajak Clarisa.
Evan menganggukan kepalanya lalu berdiri.
"Sorry Na, aku dan Clarisa nggak mau menganggu kemesraan kalian." Ucap Evan.
Clarisa dan Evan berjalan keluar dari kantin. Mereka berniat kembali kedalam kelas.
"Van, ada apa itu? kenapa mereka semua berdiri didepan ruang kepala sekolah?" Tanya Clarisa penasaran.
Semua murid kelas Evan kini tengah mengerubungi ruang kepala sekolah. Evan menghadang salah satu teman sekelasnya.
"Ada apa ini? kenapa mereka pada berdiri didepan ruang kepala sekolah?" Tanya Evan kepada salah satu teman sekelasnya.
"Deo, dia dipanggil oleh kepala sekolah."
"Kenapa?"
"Katanya dia sudah melecehkan Sasa."
Clarisa dan Evan membulatkan kedua matanya, mereka segera berlari menuju ruang kepala sekolah.
"Van, apa itu mungkin?" Tanya Clarisa tidak percaya.
"Aku juga nggak tau."
__ADS_1
Kini Evan dan Clarisa sudah berdiri didepan ruang kepala sekolah.
"Deo, sekali lagi bapak bertanya sama kamu, apa benar kamu sudah melecehkan Sasa?" Tanya bapak kepala sekolah.
"Saya sudah menjawab pertanyaan bapak berkali-kali, saya tidak melakukan itu." Sahut Deo dengan santainya.
Bapak kepala sekolah itu menghela nafas berat. Sedangkan Sasa terus menangis disamping Deo.
"Deo, kenapa kamu tidak mau mengakuinya?" Ucap Sasa sambil menahan tangisannya.
"Melakukan apa yang kamu maksud?"
"Kejadian malam itu dirumah kamu?"
Deo mencoba menahan tawanya, tapi dia tidak sanggup hingga tawa itu pecah menggema diseluruh ruangan.
Seorang pria paru baya dan pengawalnya masuk kedalam ruang kepala sekolah.
"Van, dia kan Om Nando, Papa nya Deo." Ucap Clarisa terkejut.
"Sepertinya masalah ini serius, Sa."
Evan dan Clarisa hanya bisa mendengar dari luar ruangan bersama dengan anak-anak yang lainnya. Tapi tiba-tiba seorang pria yang tak lain adalah pengawal Papa nya Deo mengusir mereka semua.
Evan dan Clarisa dengan sangat terpaksa ikut pergi dari ruang kepala sekolah. Evan sedang memikirkan sebenarnya apa yang terjadi dengan sahabatnya itu.
Evan takut, Deo akan dikeluarkan dari sekolah, sedangkan mereka kini tengah duduk dibangku 12. Evan terus mondar-mandir didalam kelas.
Carlos dan Nena masuk kedalam kelas, mereka heran melihat Evan yang terus mondar-mandir seperti setrikaan.
"Kamu kenapa sih? pusing aku melihatnya." Seru Carlos lalu mendudukan tubuhnya.
"Deo, kayaknya sedang dalam masalah." Ucap Clarisa cemas.
"Maksud kamu apa? masalah apa?"
"Dia dituduh telah melecehkan, Sasa."
"Apa! bagaimana itu mungkin? walau Deo sifatnya seperti itu, tapi dia tidak pernah memaksakan kehendaknya jika wanita itu tidak mau melakukannya." Ucap Carlos terkejut.
Evan dan Carlos tau betul sifat Deo. Meskipun dia playboy cap kakap dan sering tidur dengan banyak wanita, tapi Deo sekalipun belum pernah melecehkan wanita. Mereka selalu melakukan atas dasar suka sama suka, mau sama mau.
"Brengsek!" Seru Evan sambil menendang kursi disebelahnya.
"Siapa yang sudah berani menyebar fitnah keji ini!" Seru Evan emosi.
"Tapi Van, tadi Sasa sendiri sudah mengakuinya, dan dia meminta Deo untuk mengakuinya." Ucap Clarisa.
"Terus, apa kita harus percaya dengan kata-kata Sasa?" Teriak Evan.
"Bukan itu maksud aku, tapi kita juga harus mendengarkan penjelasan Sasa juga. Kita nggak bisa menyalahkan Sasa juga, lagian posisinya sekarang adalah Sasa dan Deo, mereka berpacaran." Ucap Clarisa mencoba menenangkan Evan.
__ADS_1
Evan mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Dia tidak akan membiarkan siapapun mengusik sahabatnya.
⭐⭐⭐⭐