
Dona melihat baterai ponselnya tinggal sedikit. Untuk menghemat baterai ponselnya Dona mematikan ponselnya karena Dona akan memakai ponselnya untuk menghubungi Mira nanti.
" Mama..tunggu Dona ya Ma, aku yakin Mama pasti kuat, Mama pasti akan sembuh."
»»»»
Frans tengah gelisah menunggu kedatangan Dona. Dia terus mondar-mondir di dalam ruangannya. Tari berjalan menuju ruangan Frans dengan maksud ingin menyampaikan pesan dari Dona. Tari mencoba untuk mengetuk pintu.
Tok..tok..tok.
Setelah mendapat sahutan dari dalam Tari langsung membuka pintu.
" Sayang kenapa baru da--" ucap Frans sambil menatap kearah pintu.
Frans mengira yang datang adalah wanita yang sangat di rindukannya. Tari masuk ke dalam ruangan Frans.
" Maaf pak, saya cuma mau menyampaikan pesan dari Dona, kalau hari ini Dona tidak bisa masuk kerja." ucap Tari gugup.
" Apa yang terjadi sama Dona, apa kakinya sakit lagi?" tanya Frans cemas.
" Bukan pak, katanya Dona sedang ada urusan yang sangat mendesak, dia juga ingin mengajukan cuti selama 1 minggu, tapi jika urusannya ternyata belum selesai dia belum bisa masuk untuk bekerja." sahut Tari.
" Maksud kamu urusan apa ya? kenapa Dona tidak memberi tahu saya?" tanya Frans penasaran.
Frans merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan Dona darinya.
" Dona sudah mencoba menghubungi bapak tapi ponsel bapak tidak aktif."
Frans mencoba mencari-cari dimana ponselnya, Frans mengingat-ingat kembali dimana dia meletakkan ponselnya.
"Oh ya..aku menaruhnya di dalam tas." Bathin Frans.
Frans berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil ponselnya dari dalam tas kerjanya. Ternyata ponselnya mati kehabisan baterai. Frans segera mengambil cager dan mengisi daya baterai ponselnya. Dia lalu menyalakan ponselnya. Begitu banyak panggilan tak terjawab dan sms, salah satunya dari Dona. Frans mencoba menghubungi Dona.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif silahkan hubungi beberapa saat lagi."
" Ini kenapa juga ponselnya tidak aktif." ucap Frans cemas.
Frans berjalan menghampiri Tari.
" Tar, tadi saat Dona menelfon kamu, dia bicara apa saja sama kamu, apa alasan dia meminta cuti?" tanyanya.
" Saya juga tidak tahu pak, Dona cuma bilang dia ada urusan yang sangat mendesak dan dia juga nitip pesan untuk bapak agar bapak tidak terlalu mencemaskannya."
__ADS_1
" Gimana aku bisa tenang sedangkan tak ada kabar dari Dona, dia juga nggak memberitahu tahu apa alasannya meminta cuti." ucap Frans kesal.
" Beneran kamu nggak tau apa-apa, kamu nggak bohong kan!" Sambung Frans lagi.
Frans juga merasa Tari menyembunyikan sesuatu darinya tentang Dona.
" I--iya pak, saya mana berani berbohong sama bapak." sahut Tari gugup.
Saat ini kedua tangan Tari mengeluarkan keringat dingin karena saking gugupnya. Tari terpaksa harus berbohong kepada bos nya.
" Ya sudah kamu boleh keluar."
" Baik pak, saya permisi dulu." ucap Tari sambil berjalan keluar ruangan.
Frans berjalan mondar-mandir sambil terus mencoba menelfon Dona. Ponsel Dona belum bisa dihubungi, Frans merasa sangat frustasi. Dia takut terjadi apa-apa sama Dona.
" Sayang kamu kemana sih, aku sangat khawatir sama kamu." ucap Frans sembari mengacak acak rambutnya.
Karena hati Frans merasa sangat tidak tenang, akhirnya Frans memutuskan untuk mendatangi rumah Dona. Frans keluar dari kantor dan berjalan menuju mobilnya.
Dia masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah Dona.
Sesampainya di rumah Dona. Frans mengetuk pintu rumah Dona.
Tok..tok..tok.
Tut..tut..tut..
" Halo bos." sahut seseorang.
" Tolong bantu aku mencari seseorang, namanya Dona Anggita, umurnya 25 tahun, tolong kamu cari di seluruh kota ini, kalau perlu sampai keluar kota, nanti aku akan kirimkan fotonya."
" Baik pak." ucap seseorang.
" Dan kamu harus ingat, aku nggak mau kegagalan." ucap Frans lalu mematikan telfonnya.
Frans masuk ke dalam mobil dan menyandarkan tubuhnya dikursi pengemudi. Frans menghela nafas lelah.
"Don..apa kamu berniat untuk meninggalkan aku? apa pernyataan kamu kemarin saat menerima perasaan aku cuma bohong? Apa aku sudah dengan tidak sengaja menyakiti perasaan kamu? Kasih tahu aku Don, apa salah aku sama kamu? jangan malah menghindari aku seperti ini?" Bathin Frans.
Frans melajukan mobilnya meninggalkan rumah Dona.
»»»»»
__ADS_1
Setelah perjalanan yang sangat panjang akhirnya Dona sampai di Bandung, Dona keluar dari kereta dan berjalan menuju pintu keluar. Dia melihat Mira sudah menunggunya. Dona berjalan menghampiri Mira.
" Mir, bagaimana keadaan Mama?" tanya Dona yang kini berdiri di depan Mira.
" Mama sudah di tangani sama dokter, ayo sekarang kita langsung saja kerumah sakit." ucap Mira sambil menarik tangan Dona dan masuk kedalam taksi.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Mereka berjalan menuju kamar dimana Mama nya dirawat.
Mira membuka pintu kamar inap Mama nya. Dona dan Mira masuk kedalam kamar inap. Dona berlari dan memeluk Mama nya yang belum sadarkan diri.
" Mama, bangun Ma, ini Dona Ma, ayo bangun Ma." ucap Dona yang kini mulai menitikkan air matanya.
" Dona mohon Ma, jangan tinggalin Dona, hanya Mama yang Dona miliki, Dona nggak mau kehilangan mama." ucap Dona.
Air mata Dona mengalir deras membasahi kedua pipinya.
Mira yang melihat Dona menangis langsung memeluk Dona dan ikutan menangis.
" Kak..Mama nggak akan kenapa-napa kan kak?" tanya Mira di sela tangisannya.
Dona menghapus air matanya dan memeluk erat Mira. Dia mencoba untuk menahan tangisannya dia harus kuat di depan Mira.
"Aku harus kuat, masih ada adik-adik aku yang harus aku jaga." Batin Dona.
" Nggak akan terjadi apa-apa sama Mama, Mama pasti akan sembuh." ucap Dona sambil mengusap lembut punggung Mira.
Mira menagis dalam pelukan Dona dan tanpa terasa air mata Dona kembali mengalir. Dona melepaskan pelukannya dan duduk di kursi dekat ranjang mamanya.
" Ma..Dona sayang sama Mama, jangan tinggalin Dona dan adik-adik Ma, kita masih sangat membutuhkan Mama, hanya Mama yang kita miliki di dunia ini." ucap Dona sambil menatap wajah Mama nya.
Dona menggenggam erat tangan Mama nya dan mengecup punggung tangan Mama nya.
"Tuhan..hamba mohon sembuhkan Mama hamba, Engkau sudah mengambil Papa dari sisi kami, jangan Engkau ambil Mama sekarang. Biarkan kami merasakan kasih sayang Mama sedikit lebih lama. Kami sangat mencintainya Ya Tuhan, hanya Mama yang kami miliki sekarang." Batin Dona.
¤¤¤¤
NB..Para pembaca yang masih setia membaca karya aku " Bos Yang Angkuh", maaf kalau aku up nya lama, maaf kalau ada saltik dan terima kasih masih setia menanti.
Terima kasih,
🙏🙏🙏🙏
__ADS_1